Sedang Membaca
Alquran dan Bahasa Nusantara: Kapur Barus di antara Pewangi dan Pengawet
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Alquran dan Bahasa Nusantara: Kapur Barus di antara Pewangi dan Pengawet

Mohammad Fathi Royyani

Kitab suci orang Islam, Alquran, walaupun secara umum menggunakan bahasa Arab tetapi ada beberapa kata yang sulit dipahami. Kata-kata tersebut serapan dari bahasa di luar Arab. Ambil contoh di surat Abasa (QS 80:31) ada kata “wa fakihatin wa abba”. Dari mana kata-kata tersebut?

Kata “abba” tersebut bukan dari bahasa Arab yang umum digunakan di Madinah kala itu, melainkan serapan dari bahasa yang digunakan oleh Arab pedalaman. Terkait dengan kata tersebut, tafsir Thabari menulis suatu kisah di mana sahabat Ibnu Abbas kesulitan memahami kata tersebut.

Selidik punya selidik, ternyata kata tersebut berasal dari Arab Badui dan Ibnu Abbas pun mengetahui secara tidak sengaja ketika mendengar percakapan orang Arab pedalaman.

Selain itu, Alquran juga menyerap bahasa dari bangsa lain. Tidak banyak yang mengetahui bahwa, Alquran juga menyerap bahasa Nusantara lama, yakni Kapur. Penyair, Jamal D. Rahman, mengatakan bahwa kapur adalah salah satu kata yang direkam dalam Alquran (QS 76:5):

Dan orang-orang yang taat akan minum, dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah kapur [barus] (QS 76: 5). Tentu, bahasa ada nilai tersendiri dan rekam jejak kultural yang baik sehingga diabadikan dalam Alquran.

Artikel ini tidak membahas secara bahasa mengenai kata “Kapur”, melainkan membahas sisi lain dari “kapur” yang kemudian menjadi “kamper”. Jika kita sepakat bahwa memang yang disebut Alquran tersebut adalah Kapur. Tentu ini berkaitan dengan tradisi dan perdagangan lama yang ada di Nusantara.

Baca juga:  Abu Nawas: dari Penyair Istana hingga Manusia Rohani

Ketika menyebut kamper, yang ada di benak manusia sekarang adalah barang sintetis berbentuk bulat maupun kotak dengan warna yang macam-macam. Umumnya berwarna putih. Kamper ini umum digunakan untuk menghilangkan bau pakaian al menjaga lemari dari bau yang tidak sedap.

Untuk sampai menjadi komoditas kamper seperti itu, ada perjalanan sejarang yang sangat panjang dengan melibatkan berbagai suku bangsa yang ada di dunia, dan Indonesia atau Nusantara adalah centralnya.

Kamper sebagai bahan pewangi diduga merupakan komoditas pertama Nusantara ke bangsa-bangsa lain selain rempah-rempah. Buku kumpulan penelitian arkeologi yang berjudul Lobu Tua: Sejarah Awal Barus yang disunting oleh Claude Guillot mungkin bisa menjadi rujukan pertama untuk menjelajahi koneksi bangsa Indonesia atau Nusantara dengan bangsa-bangsa lainnya.

Menurut Guillot, banyak sejarawan yang menduga kata “Barousai” yang disebut oleh Ptolemaeus seorang geografer Yunani adalah kota Barus sekarang ini yang terletak di Sumatera.

Dari mana pengetahuan orang-orang Yunani tentang Barus? Kuat dugaan sebagaimana halnya transfer pengetahuan, maka mereka pun mengetahuinya dari peradaban yang lebih tua, yakni Mesir. Kapur Barus atau kamper (Dryobalanops aromatica) adalah salah satu komoditas perdagangan antara Nusantara dan Mesir bahkan ada dugaan kuat salah satu komponen penting dalam mengawetkan mayat di Mesir bahan bakunya dari jenis kamper ini.

Baca juga:  Sejarah Singkat Transportasi Laut Jemaah Haji Nusantara

Kontak perdagangan Nusantara juga terjadi dengan bangsa China. Banyak catatan sejarah yang ditemukan di Barus yang menunjukkan bahwa pada masa dinasti Tang, sang kaisar mengirim utusan ke Barus untuk melakukan kontak perdagangan. Selain dari temuan catatan juga ditemukan banyak benda-benda arkeologis yang merujuk pada dinasti Tang.

Selain dengan China, para pedagang dari Tamil juga sudah ada dan membuat komunitas sendiri di Kota Barus. Mereka berdagang dan mencari sumber daya alam untuk diperjual-belikan. Diantara bahan yang mereka cari adalah bahan-bahan wewangian.

Kamper adalah salah satu komoditas perdagangan yang ada di Nusantara dan sudah dilakukan sejak lama. Kamper ini berasal dari pohon Dryobalanops aromatica satu jenis tumbuhan yang mengelurkan resin berbentuk getah.

Baca Juga

Kamper atau dikenal juga dengan kapur barus dalam catatan sejarah adalah salah satu komoditas perdagangan kuno. Populernya kapur barus dalam dunia perdagangan internasional kala itu, membuat banyak pelaut tertarik dan mencoba memperoleh secara langsung.

Banyak sejarawan yang percaya bahwa tradisi perdagangan Nusantara dengan Mesir jauh sudah lama terjadi. Bahkan ada yang mempercayai penguasai Mesir saat itu mengirim satu armadake Nusantara untuk mendapatkan secara langsung kapur barus.

Baca juga:  Adakah Wujud (Final) Negara Islam?

Oleh bangsa Mesir, kapur barus atau kamper ini digunakan sebagai bahan obat-obatan, pewangi dan pengawet mayat.

Tradisi perdagangan antara Indonesia dan Mesir kuno pun kemudian dilanjutkan pada periode-periode setelahnya, termasuk ketika Islam sedang berkembang di Arab. Kontak perdagangan antara bangsa Nusantara dan bangsa Arab terus dilanjutkan.

Oleh bangsa-bangsa Arab, resin dari tumbuhan kamper ini digunakan untuk berbagai macam keperluan. Dengan harga yang mahal, susah diperoleh, dan kualitas terbaik menjadikan kamper dari Indonesia sebagai paling digemari.

Sampai sekarang, sebagian masyarakat di Sumatera Utara masih membudidayakan dan menjual resin dari pohon kamper Drybalanops aromatica. Komoditas inipun masih laku dalam pasar internasional. Namun sayangnya, penjualan masih berupa raw material berupa resin, belum hasil pengolahan menjadi produk-produk yang dapat langsung digunakan oleh masyarakat.

Lihat Komentar (0)

Komentari