Sedang Membaca
Strategi Kebudayaan yang Dihasilkan KKI 2018

Strategi Kebudayaan yang Dihasilkan KKI 2018

Redaksi

Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 kali ini merupakan kongres kebudayaan terpanjang dalam sejarah Republik Indonesia, dimulai sejak bulan April 2018 dan memuncak pada bulan Desember 2018.

Strategi kebudayaan yang dihasilkan adalah hasil konsolidasi pikiran masyarakat yang tidak berhenti sebagai daftar inventaris masalah, tetapi juga punya daya untuk mewujudkan himpunan angan-angan para pemangku kepentingan kebudayaan selama ini.

Dalam KKI 2018 ini pula ditetapkan visi pemajuan kebudayaan 20 tahun ke depan yaitu:

Indonesia bahagia berlandaskan keanekaragaman budaya yang mencerdaskan, mendamaikan, dan menyejahterakan rakyat Indonesia seluruhnnya.

“Untuk meraih Indonesia Bahagia, perlu dikerahkan segala tenaga bangsa untuk melaksanakan tujuh agenda strategis pemajuan kebudayaan,” tutur Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam pidatonya di Lingkungan Kemendikbud (9/12/2018).

Ketujuh agenda stategis ini merupakan prioritas pemajuan kebudayaan nasional selama 20 tahun ke depan. Pertama, menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang insklusif.

Kedua, melindungi dan mengembangkan nilai, ekspresi, dan praktik kebudayaan tradisional untuk memperkaya kebudayaan nasional. Ketiga, mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan budaya untuk memperkuat kedudukan Indonesia di Dunia Internasional. Keempat, memanfaatkan obyek pemajuan kebudayaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kelima, memajukan kebudayan yang Melindungi keanekaragaman hayati dan memperkuat ekosistem. Agenda keenam, reformasi kelembagaan dan penganggaran kebudayaan untuk mendukung agenda pemajuan kebudayaan. Terakhir ketujuh, meningkatkan peran pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan.

Strategi Kebudayaan tersebut, diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo yang hadir di Lingkungan Kemendikbud.

Sebagaimana diatur Undang-undang No 5 2018, pemerintah berkewajiban membuat melaksanakan amanat hasil kongres. Strategi Kebudayaan sebagai pedoman arah perkembangan kebudayaan hingga dua puluh tahun mendatang mesti diterjemahkan dalam berbagai kebijakan oleh pemerintah.

Baca juga:  Hardiknas: Menghidupkan Kisah-kisah untuk Pendidikan Anak

KKI 2018 mempunyai tiga target penting bagi pemajuan kebudayaan. Pertama Strategi Kebudayaan yang disusun berdasarkan masukan dari tingkat kabupaten/kota, ditambah masukan yang dikumpulkan sekitar 35 kelompok sektoral.

Strategi bersifat pedoman berjangka waktu 20 tahun. Kedua resolusi kebudayaan sebagai bentuk langkah kongrit yang dirumuskan oleh para peserta kongres dan perlu ditindaklanjuti pemerintah. Ketiga, adalah ide-ide pemajuan kebudayaan yang dihasilkan dari diskusi-diskusi informal oleh peserta secara independen.

Kongres berlangsung di tengah tumbuhnya kesadaran untuk mengarusutamakan Kebudayaan sebagai orientasi utama pembangunan Indonesia. Hal itu tercermin semenjak KKI mulai disosialisasikan ke berbagai daerah.

Sebagaimana diketahui, rangkaian acara KKI 2018 telah berlangsung semenjak Rabu 5 Desember 2018 menarik perhatian banyak kalangan. Ribuan peserta mendaftar untuk dapat berpartisipasi mengekpresikan ide-ide mereka bidang kebudayaan. Sampai dengan hari keempat, panitia mencatat setidaknya 3650 orang mendaftarkan diri sebagai peserta.

Selama pelaksanaan, hasil aksi corat-coret mural oleh 35 orang seniman, dipimpin Alit Ambara, mengundang orang untuk menjadikannya latar bagi swafoto yang dilakukannya. Foto-foto itu kemudian diunggah ke akun media social mereka sehingga mengundang lebih banyak orang untuk datang.

Sedangkan pada hari penutup akan diadakan sebuah Pawai Budaya. Sebanyak 2400 orang penari yang terdiri dari para pelajar sekolah ditambah sebanyak 2500 orang pesilat ikut serta. Mereka akan menggelar atraksi sesuai dengan arahan Denny Malik koreografer kondang yang mendapat banyak pujian saat menata acara Pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta lalu.

Pawai Budaya ini berujud arak-arakan. Peserta pawai akan bertindak sebagai perwakilan dari setiap provinsi Republik Indonesia.

Artinya, mereka tidak hanya akan memakai pakaian adat dan/atau tradisional dari setiap provinsi, tetapi, juga bentukbentuk tradisi lainnya, seperti, seni tari, olahraga tradisional, dan lain sebagainya.
Penonton akan melihat suasana penuh warna, suara dan gerakan.

Baca juga:  Mencari NU

Warna-warni pakaian adat dan/atau tradisional akan menghiasi Jalan Jendral Sudirman untuk menghadirkan corak yang menyenangkan penglihatan. Suara-suara  nyanyian tradisional akan memperdengarkan harmoni, dan kontrapung antar delegasi akan menjulangkan perasaan batin, bukan karena persoalan jumlah, tetapi, karena keindahan halus yang didapat dari karya seni yang hampir total.

Pidato Kebudayaan selalu menarik banyak perhatian pengunjung karena tema-tema yang menarik. Menuju Dana Perwalian Kebudayaan, salah satu topik yang disampaikan oleh mantan Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengundang perhatian besar. Masalah kesulitan dana untuk melaksanakan kegiatan seni dan budaya di hampir semua tempat di Indonesia tampak menjadi sebab besarnya perhatian tersebut. (Atunk)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top