Tafsir Al-Ghazali soal Renungan Ketuhanan Nabi Ibrahim

Moch. Royyan Habibi

Alquran telah merekam bagaimana proses perenungan Nabi Ibrahim AS tentang ketuhanan dalam Surat Al-An’am. Namun, seringkali banyak yang terjebak mengenai ayat ini. Nabi Ibrahim diasumsikan sebagai orang yang pernah ateis sebelum kemudian beriman dengan cara berpikir, padahal kita tahu salah satu dari sifat nabi adalah ma’shum, terjaga dari dosa terlebih syirik.

Salah satu pemikir Islam abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, memiliki pandangan berbeda dari pandangan umum mengenai renungan Nabi Ibrahim. Imam Al-Ghazali dengan menggunakan perspektif sufisme beranggapan bahwa ayat-ayat dalam Surat Al-An’am yang mengisahkan Nabi Ibrahim merenungkan Tuhan adalah sebuah proses penyingkapan (kasyf). Nabi Ibrahim diberikan suatu pengelihatan mata batin untuk menembus penghalang (hijab) yang dapat sampai (wushul) kepada Tuhan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (QS. Al-An’am: 75)

Imam Al-Ghazali, sebagaimana diulas oleh Muhammad Raihani dalam karyanya berjudul Tafsir al-Imam al-Ghazali, sebuah buku yang khusus mengupas tentang kepakaran Al-Ghazali dalam bidang tafsir memberikan penjelasan. Imam Al-Ghazali memberi interpretasi terhadap kata “perlihatkan” dengan “wa ma arada bihi ar-ru’yah adzahirah, fainna dzalika ghairu makhshusun bi ibrahima hatta yu’radlu min ma’radl al-imtihan” (Bukan pengelihatan kasat mata, sebab pengelihatan kasat mata tidak hanya terkhusus untuk Nabi Ibrahim yang sehingga diberikan kepadanya sebuah ujian).

Baca juga:  Riwayat Nabi Ibrahim dan Kitab-Kitab Samawi

Pada saat itu, Nabi Ibrahim tidaklah melihat dengan menggunakan pandangan zahir, akan tetapi dengan pengelihatan mata batin sehingga imannya menjadi lebih kuat. Al-Ghazali menyebutnya sebagai buah dari berfikir. beliau mengatakan, “al-fikr miftah al-ma’rifah wa al-kasyf” (berfikir adalah kunci makrifah dan kasyf).

Diberikan kepadanya sebuah ujian, hal ini menegaskan bahwa pandangan Imam Al-Ghazali mengenai renungan Nabi Ibrahim menepis asumsi bahwa Nabi Ibrahim beriman dengan cara berpikir terlebih dahulu atau pernah ateis (tidak bertuhan) atau musyrik karena mengikrarkan ketuhanan bintang, bulan, dan matahari. Sebab saat merenungkan Tuhan, dalam pandangan Al-Ghazali, Nabi Ibrahim dalam keadaan beriman. Hanya saja, Nabi Ibrahim mengalami—apa yang dalam istilah sufi disebut–Kasyf. Nabi Ibrahim menuju tahapan penyingkapan ke penyingkapan berikutnya, hingga puncaknya ia sampai pada pengetahuan hakikat Tuhan, nur ‘ala nur, cahaya atas segala cahaya.

Menurut Al-Ghazali, Allah SWT memiliki tujuh puluh cahaya yang menjadi penghalang untuk menuju kepada-Nya. Seorang salik tidak akan pernah sampai kepada satu penghalang kecuali ia menduga bahwa dirinya memang telah dapat berhasil menyingkap penghalang tersebut. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim mengatakan:

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” (QS. Al-An’am: 76)

Bintang yang dimaksud dalam ayat itu, menurut Imam Al-Ghazali bukan suatu benda dalam jumlah banyak yang memiliki cahaya. Sebab, sejak semula Nabi Ibrahim sudah mengetahui bahwa bintang yang berjumlah jutaan itu bukan Tuhan, bahkan orang awam sekalipun juga tahu tentang itu.

Baca juga:  Fetisisme Agama dan "Tuhan" yang Diimajinasikan

Akan tetapi, maksud dari bintang adalah dalam pengertian jalan tarikat salik, yaitu salah satu cahaya yang menjadi penghalang untuk menyingkap cahaya ilahi. Nabi Ibrahim menduga telah mencapai penyingkapan satu cahaya itu kemudian tersadar dan naik menuju penyingkapan selanjutnya.

Dalam pandangan sufi, cahaya yang menjadi penghalang menuju Tuhan memiliki beragam level (darajah). Ada yang kecil dan ada yang besar. Sedangkan cahaya dengan menggunakan metafora bintang adalah cahaya penghalang pada level terkecil, kemudian rembulan dan yang terbesar adalah matahari. Nabi Ibrahim tidak henti-hentinya ketika merenungkan alam semesta, ia mengalami proses penyingkapan dari level terendah hingga level tertinggi kemudian mencapai hakikat.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An’am: 79)

Wallahu A’lam. 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top