Sedang Membaca
Yang Lebih Penting dari Sepak Bola adalah Kemanusiaan
Andi Ilham Badawi
Penulis Kolom

Penikmat Sepak Bola dari Pinggiran

Yang Lebih Penting dari Sepak Bola adalah Kemanusiaan

Langit malam Kota Paris berhias kembang api dan flare. Di muka Stadion Parc des Princes, puluhan ribu orang berkerumun, menghiraukan serangan pagebluk Corona yang makin dekat ke Prancis. Laga tanpa penonton di dalam stadion tak mampu membendung antusias penggemar yang berjejal di jalan-jalan Kota Paris. Gemuruh kemenangan menggema, merayakan remondata Paris Saint Germain (PSG) atas Borussia Dortmund pada lanjutan leg kedua Liga Champions musim 2019/2020.

Di hari yang sama, di seberang Selat Dover, Merseyside Merah lintang pukang dihajar Atletico Madrid. Nahasnya, situasi mengerikan itu berlangsung di babak tambahan. Juara bertahan Liga Champions musim 2018/2019 bersimpuh di hadapan penggemar yang memadati Stadion Anfield, memohon maaf atas penampilan buruk selama beberapa pekan terakhir. Liverpool pun hanya menyisakan satu trofi Liga Inggris, yang hampir pasti bakal segera diraih.

Kata Makhfud Ikhwan dalam Dari Kekalahan ke Kematian (2018), pertandingan sepak bola dapat mengocok emosi penontonnya hanya dalam tiga menit saja. Tawa bisa berganti derita, begitu pun sebaliknya. Dari yang semula unggul tiba-tiba tertinggal, dari kebobolan banyak tiba-tiba membalikkan keadaan. Kiasan Makhfud Ikhwan ihwal situasi yang kerap terjadi dalam sebuah pertandingan, kini merembes pada kondisi sepak bola dunia.

Penyebaran penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 mengubah kenyataan sepak bola dan dunia. Pesta Paris Saint Germain (PSG) di jalanan Kota Paris, kemungkinan bakal jadi yang terakhir tahun ini. Harapan memutus peruntungan buruk di setiap babak Liga Champions berujung pahit. Sementara di Stadion Anfield, Liverpool kembali berkutat dengan kata “hampir”. Jika di musim 2013/2014, terpelesetnya Gerrard jadi biang kegagalan The Reds merengkuh trofi Liga Inggris, maka pagebluk Corona adalah aktor antagonis bagi mereka di akhir musim ini. Keunggulan 25 poin atas pesaing lain tidak berarti apa-apa, ketimbang ganasnya gegen pressing Covid-19 menerjang tiap sudut bumi. Memang, FA (asosiasi sepak bola Inggris) belum memutuskan mekanisme seperti apa untuk mengakhiri musim ini, tetapi kebanyakan Liverpuldian sudah hampir putus asa.

Baca juga:  Gus Dur, HAM, dan Kontekstualisasi Pemikiran Keagamaan

Secara keseluruhan, seluruh kompetisi sepak bola di negara yang terdampak Covid-19, kini telah dihentikan. Di Indonesia, Shoope Liga 1 pun kini resmi ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Semua demi menjaga satu sama lain, agar penyebaran virus lebih mudah dikontrol dan dihentikan. Terlebih, beberapa pemain bola di sejumlah negara, mulai terpapar infeksi Covid-19. Kamp-kamp latihan ditutup, pemain diminta menjaga kondisi tubuh di kediaman masing-masing. Sepak bola berhenti sejenak, emosi manusia beralih diombang-ambing oleh Corona virus.

Kemanusiaan adalah Segalanya

“Sepak bola lebih dari sekadar hidup dan mati,” ujar Bill Shankly, pelatih Liverpool (1959-1974). Setiap teks memiliki konteksnya sendiri, dan kalimat Bill Shankly tidak relevan ketika wabah Corona mengancam hidup banyak orang. Sepak bola malah tidak penting lagi. Jurgen Klopp memilih nyawa jutaan penikmat sepak bola, ketimbang meneruskan hiburan di atas lapangan hijau.

“Pertama dan paling utama, kita semua harus melakukan apapun untuk melindungi satu sama lain. Saat ini, sepak bola dan pertandingan sepak bola bukanlah hal yang penting,” ujar Klopp seperti dilansir laman resmi liverpoolfc.com.

Kemanusiaan dalam diri pelatih yang dikenal gaya main heavy-metal football, kian mengemuka ketika ia ditanya oleh wartawan tentang virus Corona pada sesi konferensi pers usai laga versus Chelsea (3/4/2020). Dengan tegas dan setengah bercanda, bekas football-Lehrer Borussia Dortmund mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki kualifikasi untuk membicarakan virus Corona dan hanyalah seorang yang bertopi bisbol di kepala.

Baca juga:  Ziarah Wali Maroko (5): Imam Abdullah Al-Ghazwani

Klopp menunjukkan karakter manusia yang kini langka di dunia ini. Alih-alih sotoy mengomentari Corona, Klopp hanya mau berbicara sesuai diskursus yang ia pahami. Kecenderungan abai pada pakar, memang jadi ritus yang ramai hari ini. Matinya kepakaran terjadi di mana-mana, bahkan di Indonesia – tentu saja. Hingga kini, mudah ditemukan seorang ustaz yang mendakwahkan anti-vaksin atau netizen yang entengnya membagikan hoaks di tengah banjir informasi Corona–sembari menganggap dirinya pakar kesehatan dadakan.

Jauh ke Turki, protes paling mengejutkan datang dari John Obi Mikel. Tanpa ragu, mantan pemain Chelsea ini memutus kontraknya dengan Trabzonspor yang seharusnya baru berakhir pada Mei 2021 mendatang. Per 18 Maret 2020, Liga Sepak Bola Turki masih berjalan, sedangkan dunia sedang kelabakan menghadapi pagebluk. Saat ini, kehidupan lebih penting dari sepakbola, begitu kata Mikel.

Obi Mikel boleh jadi akan mendapat hukuman oleh otoritas sepak bola di kemudian hari, namun apa guna sepak bola di situasi krisis yang mengancam kehidupan manusia. Sepak bola takkan bisa dinikmati tanpa salaman dan pelukan antar pemain, serta gemuruh penonton di tribun stadion. Sepak bola Turki mesti berhenti, jangan sampai trofi pemenang diarak di atas piramida kuburan manusia.

Kiwari, di seantero penjuru dunia, stadion sepak bola diliputi kesepian. Namun, kemanusiaan kian mengumbar bahagia di hati para pegiat sepak bola. Solidaritas bertumbuh, di tengah keputusasaan yang datang menghampiri. FIFA menggelontorkan $ 10 juta untuk WHO. Di Italia, AC Milan menyumbang 250 ribu Euro untuk organisasi tanggap bencana di Lombardia. Liverpool merogoh 40 ribu Euro di kas tabungannya kepada bank makanan di Merseyside. Gary Neville dan Ryan Giggs menggratiskan biaya hotel mereka untuk pekerja kesehatan nasional Inggris. Hotel Stamford Bridge milik Roman Abramovich di London juga jadi penginapan bagi petugas kesehatan.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (1): Lima Riwayat Sunan Kalijaga di Pulau Lombok

Masih banyak lagi solidaritas kemanusiaan yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, dari mereka yang bergelut dengan sepak bola. Semua ini demi kesembuhan dunia, demi kembalinya kebahagiaan di lapangan hijau.

For The Game, For The World!

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top