Sedang Membaca
Newt Scamander dan Mazhab Sihir Wasatiyah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Newt Scamander dan Mazhab Sihir Wasatiyah

Irfan L Sarhindi

Kalau kita meloncat ke menit ke-7 sekuel Fantastic Beasts: The Crime of Grindewalds, kita akan mendapati adegan canggung antara Newt dan Theseus, sepasang kakak beradik keluarga Scamander, di lorong Kementerian Sihir.

Theseus, sejauh yang kita pahami, bertolak dari pekerjaannya sebagai Auror di Kementerian, merupakan seorang pragmatis dan kompromis. Dia tahu tatanan dunia sihir terancam dengan buronnya Grindelwalds yang meloloskan diri saat hendak dipindahkan dari penjara sihir di Amerika.

Newt, di sisi lain, adalah seorang naif idealis pencinta binatang-binatang ajaib. Kemampuannya melihat dunia bahkan dari kacamata hewan-hewan menakjubkan yang banyak disalahpahami memungkinkan Newt memiliki kepekaan sosio-kultural yang kuat.

Newt diminta berkompromi saat, untuk kesekian kalinya, mengajukan pembatalan larangan international travelling—Newt tidak mau. Theseus yang gregetan memanggil Newt di lorong Kementerian dan meminta dia untuk memihak. Agak sulit untuk membayangkan Newt tidak tahu prihal buronnya Grindelwalds dan bagaimana Kementerian butuh semakin banyak sumber daya—lagi pula Newt pernah berkonfrontasi dengan Grindelwalds sehingga dia bisa jadi bantuan yang bagus bagi Kementerian.

Tetapi Newt menjawab, I don’t do side—saya tidak mau berpihak. Theseus menjawab setelah terdiam agak lama: akan datang masa di mana setiap orang harus berpihak, katanya. Bagi Newt, moment itu muncul ketika Grindelwalds membunuh mantan tambatan hati Newt yang kemudian menjadi istri Theseus: Leta Lestrange.

Pada saat itu, Newt melihat bagaimana potensi kerusakan yang mungkin muncul akibat politik Grindelwalds (yang akan dibahas di tulisan lain secara spesifik), dibuktikan dengan adu domba yang dia lakukan di hadapan para penyihir ekstrim kanan di bawah kompleks pemakaman Keluarga Lastrange. Yang dimaksud ekstrim kanan adalah penyihir yang menganggap bahwa kebijakan Kementerian untuk ‘bersembunyi’ dari Muggle atau No-Maj adalah kebijakan bid’ah dlalalah, sehingga butuh gerakan pemurnian sihir dan generasi murni sihir dengan cara menunjukkan kepada dunia bahwa para penyihirlah yang punya kuasa—punya kekuatan supranatural—dan para Muggle harus ditempatkan sebagaimana kodrat mereka seharusnya: sebagai rantai paling bawah dalam piramida struktur sosial tatanan dunia yang ‘benar’.

Baca juga:  Asal Usul Syair Maulaya Shalli dan Ya Rabbi bil Musthafa

Sikap netral Newt, jika ditelaah dan diterapkan pada konteks pertentangan atau kontestasi antar varian pemikiran Islam, dapat diketagorikan sebagai mazhab sihir wasatiyah: di tengah-tengah. Jika mazhab berpikir merupakan garis lurus dengan dua titik ekstrim di ujung kanan dan kiri, maka Newt berada di irisan ‘ideal’ corak pemikiran. Newt, misalnya, percaya bahwa para penyihir memang memiliki kekuatan supranatural tetapi ia tidak merasa fakta itu dapat menjadi justifikasi dominasi atas Muggle atau No-Maj. Kita bisa melihat bagaimana bagi Newt, Muggle dan Wizards setara sebagai individu—Newt bahkan tidak merasa perlu untuk menghapus ingatan Jacob Kowalski si pedagang roti; bahkan mengajaknya kembali berkunjung ke ‘kebun binatang’ di dalam kopernya yang super-duper spesial itu.

Tetapi, pada akhirnya sikap wasatiyah Newt punya garis batas patokan: yaitu kemaslahatan. Fakta bahwa Newt akhirnya memilih memihak Kementerian walau dia tidak selalu setuju kepada kebijakan politik mereka—atau bahwa Newt tidak tertarik politik— menunjukkan kecenderungan tersebut.

Lihatlah bagaimana dia rela berkompromi dengan manuver penuh rahasia Dumbledore muda menunjukkan bagaimana ke-wasatiyah-annya rela digeser ke salah satu titik ekstrim lain atas nama kemaslahatan: mencegah Grindelwalds mewujudkan cita-citanya yang destruktif dan diskriminatif. Dan sebagai gantinya, berupaya mewujudkan kemaslahatan bagi dunia secara keseluruhan, demikian hasil ijtihad Newt.

Baca juga:  KH Abdul Manan, Ulama Pejuang Kemerdekaan asal Banyuwangi

Dalam Islam, dua kutub ekstrim mazhab berpikir adalah Islam liberal dan Islam radikal-ekstrimis. Jika kita menggunakan klasifikasi Islam versi Martin van Bruinessen, kita akan menemukan Islam liberal sebagai titik Islam paling ujung dalam spektrum Islam moderat yang bercorak wasatiyah. Sedangkan Islam radikal-ekstrimis adalah titik ekstrim dari spektrum Islam radikal yang dapat mewujud Islamis atau fundamentalis.

Baca Juga

Adalah mudah mengangguki stigma negatif terhadap Islam radikal-ekstrimis, tetapi bagaimana bisa Islam liberal dianggap negatif padahal ia pro-liberte? Secara sederhana, Islam liberal kerap dianggap terlalu banyak dan jauh ‘menciderai’ kesakralan ayat-ayat Islam. Reaksi dan asumsi negatif terhadap ‘liberal’ dapat dilacak pada bagaimana Jaringan Islam Liberal (JIL) demikian ‘dibenci’ oleh sebagian kalangan, pula MUI sampai harus mengeluarkan fatwa ‘haram’ bagi Islam liberal.

Sedangkan mazhab radikalis-ekstrimis yang serba sempit dalam pemahaman, sebagaimana Grindelwalds, tidak mampu melihat dunia dari kacamata non-Muslim dan secara naif menganggap dunia akan berubah secara simsalabim jika bendera yang dianggap tauhid dikibarkan secara global. Demi itu tidak ragu melakukan kekerasan, pengeboman, dan pembunuhan, walau sering kali salah sasaran. Kalau yang ‘liberal’ sering dianggap serba membolehkan, yang radikalis biasanya serba mengharamkan. Ini bid’ah itu bid’ah.

Baca juga:  Soal Seksualitas dalam Film Bumi Manusia

Atas dasar itu kemudian perlu penguatan narasi moderasi Islam yang tidak ‘terlalu bebas’ tetapi juga ‘tidak terlalu ketat’. Narasi itu kemudian disebut sebagai wasatiyah, belakangan menjadi diskursus yang ramai diperbincangkan, dikaji, dan diseminarkan.

Orang tidak lagi berbicara mazhab neo-tradisionalis sepeninggal Gus Dur atau neo-modernis dengan tokoh semisal Buya Syafii Maarif. Kedua mazhab pembaruan yang khas dengan dua organisasi Islam besar itu dapat dikategorikan wasatiyah—Islam yang di tengah-tengah. Tetapi sebagaimana kenetralan Newt berbatas ‘kemaslahatan’, kelahiran diskursus wasatiyah juga sejatinya adalah manifestasi kebutuhan menghadirkan kemaslahatan yang tidak bisa dihadirkan melalui benturan ekstrim A versus ekstrim B.

Walau tentu saja wasatiyah tidak selalu setiap saat ‘tepat di tengah-tengah’. Ia dapat bergeser titik koordinat demi kemaslahatan. Itu sebabnya pembicaraan di seputar diskursus wasatiyah, hari ini, lebih banyak dalam upaya menawarkan Islam kontekstual dan toleran yang lebih progresif ketimbang konservatif. Semata demi ‘melemahkan’ konsolidasi radikalis-ekstrimis yang kadang ditopang oleh kalangan ultra-konservatif yang sebetulnya masih berada di wilayah spektrum Islam moderat.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top