Miftakhul Azizah
Penulis Kolom

Mahasiswa Studi Agama-agama di UIN Walisongo Semarang.

Refleksi Filantropi dan Syukur dalam Tradisi Sedekah Bumi

Nadran Cirebon

Bagi sebagian masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi turun temurun, sedekah bumi menjadi salah satu seremonial yang selalu dirayakan setiap tahun. Tidak terkecuali mayoritas desa di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang masih melanggengkan kegiatan tahunan tersebut.

Terletak di ujung barat Kota Garam, desa yang menjadi tempat penulis lahir juga turut melakukan hal serupa. Di desa terkait, perayaan sedekah bumi dilakukan setelah warga memanem hasil pertaniannya. Rangkaian kegiatannya pun terbilang banyak. Pada satu hari sebelum perayaan sedekah bumi, warga desa akan melakukan doa bersama di punden (tempat keramat yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa) yang dipimpin oleh tokoh masyarakat.

Selanjutnya, puncak perayaan seremonial ini dilakukan di keesokan harinya. Diawali dengan masing-masing warga membawa berkat yaitu nasi beserta lauk dengan jajanan khas sedekah bumi seperti kue bugis, tape ketan, dan dumbek. Berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang menjadikan punden sebagai titik kumpul, kegiatan ini justru memilih balai desa untuk mengumpulkan warga. Masih sama seperti ritual di punden, tokoh masyarakat memegang peran krusial dalam memimpin doa bersama.

Di sisi lain, dalam kurun waktu yang bersamaan, banyak warga yang berasal dari luar desa mulai berdatangan ketika ritual doa bersama tersebut digelar. Biasanya, warga dari luar desa akan mengambil nasi berkat dalam kuantittas yang banyak, dengan tujuan dijual di pasar tradisional ataupun desa sekitar. Dalam hal ini, penduduk asli memang kerap meninggalkan berkat guna diambil oleh warga dari luar desa tadi.

Baca juga:  Puasa dan Hari Raya Orang Syiah

Akhir dari perayaan sedekah bumi ini ditutup dengan menggelar pertunjukan seni ketoprak. Selain menjadi sarana hiburan bagi warga, menurut hemat penulis terdapat tujuan khusus diadakannya pagelaran ini. Yakni melestarikan budaya Jawa yang semakin terlupakan oleh pergerakan zaman.

Konsep Filantropi Terhadap Sesama

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian hartamu yang telah Allah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Al-Hadid ayat 7)

Konsep saling berbagi terhadap sesama sangat kentara dalam tradisi sedekah bumi di desa penulis. Misalnya, warga desa akan memberi berkat kepada sanak keluarga yang berada di desa tetangga. Selain mempererat tali persaudaraan, harapannya adalah sanak keluarga turut merasakan santapan khas sedekah bumi.

Dalam hal ini, kegiatan memberikan berkat kepada sanak keluarga seperti agenda timbal balik. Dimana ketika desa yang ditempati oleh kerabat tersebut melangsungkan sedekah bumi, mereka juga akan melakukan hal serupa yaitu memberi berkat.

Tidak hanya itu, konsep filantropi juga terjadi ketika pagelaran seni ketoprak. Hiburan itu dimanfaatkan oleh pedagang mainan, baju, jajanan, maupun wahana rumah balon untuk menjajakan jualannya. Tidak heran apabila para pedagang meraup keuntungan karena adanya tradisi sedekah bumi. Pasalnya, baik warga desa maupun luar desa akan dengan senang hati membeli dagangan yang menarik mata.

Baca juga:  Ketupat Qunut di Masjid Kampung Betawi

Pun, anak-anak kecil akan dimanjakan dengan adanya wahana rumah balon. Tarif yang dipatok juga terbilang merakyat, yakni berkisar 5 sampai 7 ribu per jam. Tentu cukup ramah bagi uang jajan mereka.

Momentum Bersyukur bagi Warga

Sama seperti makna harfiah sedekah bumi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu selamatan yang diadakan sesudah panen (memotong padi) sebagai tanda bersyukur. Sedekah bumi menjadi salah satu momentum bagi warga untuk mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan yang Maha Esa.

Tuhan telah menyediakan kekayaan alam semesta yang begitu melimpah. Pun, dengan manusia yang diberkahi akal pikiran guna memanfaatkan semaksimal mungkin karunia yang telah diberikan oleh Tuhan tanpa menimbulkan kerusakan.

Hal ini terbukti dengan diselenggarakannya sedekah bumi ketika warga telah memanen hasil pertaniannya. Secara sederhana, warga telah memperoleh rezeki atas usahanya mengurus ladang. Kemudian, sebagai bentuk berterimakasih kepada Tuhan yang telah menyediakan kekayaan bumi, warga dengan senang hati akan melangsungkan ritual sedekah bumi.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman ayat 13)

Dalam hal ini, penulis memaknai seremonial ini sebagai upaya warga menghindarkan diri dari sikap kufur nikmat dan rasa enggan bersyukur. Sebagaimana doktrin agama yang dianut oleh mayoritas warga bahwa Islam mengajarkan selalu berbagi kepada sesama dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.

Baca juga:  Pendidikan Seni, Anak-Anak Kita, Gus Dur hingga AL-Ghazali

Oleh karena itu, adanya tradisi yang mengakulturasikan agama dan budaya tidaklah selalu bermakna buruk. Hal ini dibuktikan dengan tradisi tahunan sedekah bumi yang merupakan refleksi dari sikap berbagi kepada sesama, serta bersyukur atas karunia Tuhan.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top