Sedang Membaca
Kiai Wahab Chasbullah dan Julukan En Boeiend Spreker Bekende
Maulud Dia
Penulis Kolom

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Kiai Wahab Chasbullah dan Julukan En Boeiend Spreker Bekende

Nasihat Politik Kiai Wahab di Zaman Jepang

Banyak orang yang sudah tak asing dengan seorang tokoh penggerak serta pahlawan nasional asal Jombang yang bernama Kiai Wahab Chasbullah. Beliau dilahirkan di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Jombang, dari pasangan KH. Chasbullah Said dengan Nyai Lathifah.

Menurut pendapat yang paling kuat, beliau dilahirkan pada tahun 1886. Diceritakan perawakan kiai Wahab berkulit hitam manis, dahi yang luas, dan berbadan kecil langsing. Beliau merupakan seorang yang rajin bekerja dan giat dalam pergerakan Islam.

Diberitakan pada surat kabar The Indische Courant, edisi 28 November 1993. Kiai Wahab mengadakan pertemuan dengan Pengurus Cabang NU Banyuwangi pada tanggal 25-26 November, bertempat di Kampung Kemasan, Pandarejo, Banyuwangi. Agenda pertemuan tersebut membahas persiapan Muktamar ke-IX NU yang akan diselenggarakan di Banyuwangi pada April atau Mei 1994.

Pada pertemuan tersebut Kiai Wahab menyampaikan pesan dari Rois Akbar NU KH. Hasyim Asyari yang tidak bisa hadir pada pertemuan umum di Banyuwangi yang diselenggarakan pada 9 Desember 1933.

Dalam The Indische Courant, edisi 12 Desember 1933 diberitakan pengganti Kiai Hasyim pada pertemuan umum di Banyuwangi tersebut adalah Kiai Wahab sendiri. Pada pemberitaan tersebut, Kiai Wahab disebut sebagai ‘en boeiend spreker bekende’ (pembicara menarik dan tersohor). Kiai Wahab mendapat julukan seperti itu karena beliau menjadi daya tarik sendiri bagi jemaah hingga dihadiri oleh 2000 jemaah pada pertemuan tersebut.

Baca juga:  Sketsa Singkat Pangeran Diponegoro Sebagai Muslim Jawa

Pertemuan Muktamar ke-IX NU akhirnya dilaksanakan pada Ahad, 10 Desember 1933/21 Sya’ban 1352 H di halaman sekolah Al-Chairiyah, Banyuwangi. Salah satu ungkapan penting dan menarik yang disampaikan Kiai Wahab pada pertemuan tersebut adalah De houding van de N.O. in het international verkeer (sikap Nahdlatul Ulama dalam perkembangan situasi dunia). Dan pada pertemuan itu juga memutuskan pendirian Ansoru Nahdaltoel Oelama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor.

Awalnya muktamirin yang mengikuti rapat di sekoah Al-Chairiyah tersebut menolak Ansor menjadi bagian dari NU, mereka lebih mengusulkan pendirian Syamailul Musthofa (tabiat pilihan) yang di mana itu organisasi yang mengurusi soal minat dan bakat anak muda untuk didik menjadi anak yang berakhlak mulia.

Kiai Wahab Chasbullah dengan Kiai Machfud Siddiq melakukan lobi dan menjelaskan yang kemudian berkat lobi dan penjelasan itu ANO disepakari syuriah. Tepatnya pada 24 April 1934 Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO) dinyatakan sebagai bagian (departemen) resmi NU.

Itulah sejarah Kiai Wahab mendapat julukan ‘en boeiend spreker bekende’ sang pembicara menarik dan tersohor. Kiai Wahab tidak hanya ahli dalam bidang keislaman, tetapi Kiai Wahab juga ahli dalam bidang politik. Kiai Wahab memiliki cara tersendiri untuk membangkitkan semangat ulama-ulama, dan mengarahkan perhatiannya kepada kemajuan.

Baca juga:  Syaikhona Kholil (2): Mata Rantai Ulama Nusantara

Semoga artikel singkat ini menjadikan kita tidak melupakan para pahlawan yang telah berjuang untuk kemajuan bangsa kita serta semoga Kiai Wahab senantiasa diterima disisi sang pencipta dan kita semua mendapat keberkahan tersendiri. Lauhul Fatihah….

Sumber tulisan : Tim Sejarah Tambakberas, Tambakberas Menelisik Sejarah Memetik Uswah, Penerbit Pustaka Bahrul Ulum, 2019.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top