Sedang Membaca
Vaksin dan Masalah Integrasi Jerman
Maria Fauzi
Penulis Kolom

Alumni Al Azhar Cairo, CRCS UGM. Tinggal di Jogjakarta

Vaksin dan Masalah Integrasi Jerman

Penyemprotan Disinfektan Satgas Nu Cegah Covid 19

“Pasangan ini membuktikan bahwa Jerman memiliki contoh cemerlang dari integrasi yang sukses“. Tulis salah satu situs bisnis konservatif Jerman Focus di akun Twitternya sesaat setelah pihak Pfizer bersama BioNTech mengumumkan keberhasilannya dalam uji coba vaksin Corona beberapa waktu lalu.

Ya, baru baru ini dua nama ilmuwan Jerman, Ugur Sahin dan Özlem Türecim, mendapatkan perhatian dari masyarakat global, pasalnya pasangan keturunan imigran Turki ini berhasil menciptakan vaksin Corona pertama di dunia. Perusahaan BioNtech, yang didirikan oleh pasangan suami istri ini, bekerjasama dengan perusahaan Amerika Serikat Pfizer berhasil melewati ujicoba tahap 3. Tidak hanya itu, calon vaksin ini juga dianggap memiliki tingkat akurasi hingga 90%. Tentu saja berita baik ini disambut oleh jutaan masyarakat dunia yang sedang bekerja keras menghentikan laju penyebaran virus yang telah merenggut kurang lebih satu juta jiwa.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kabar baik ini tak hanya mendapatkan apresiasi yang tinggi dari beberapa pihak khususnya dalam bidang kesehatan, namun juga bagi para imigran di Jerman. Bagaimana tidak, ‘pasangan impian‘ ini mampu membuktikan bahwa sebagai warga negara Jerman yang mempunyai latar belakang imigran, Sahin dan Türecim mampu berkompetisi di kancah global sebagai salah satu perusahaan yang leading dalam pengembangan vaksin Corona hingga saat ini.

Dalam sebuah wawancaranya dengan Süddeutsche Zeitung, Türecim mengatakan bahwa apa yang dihasilkan hari ini merupakan hasil kerja kerasnya bersama suami dan tim. Ia lahir sebagai anak seorang dokter yang bermigrasi dari Istanbul ke Jerman dan mempunyai keinginan sejak kecil untuk menjadi bidan. Türecim kemudian melanjutkan kuliahnya di jurusan kedokteran Universitas Mainz dan sekarang ia dikenal sebagai pakar sekaligus pionir terapi kanker dan imunitas.

Berbeda kisah dengan Sahin, suaminya yang juga merupakan keturunan imigran Turki yang sudah lama menetap di Jerman sejak berumur empat tahun merupakan lulusan kedokteran Universitas Köln, dan sekarang dikenal sebagai dokter ahli penyakit dalam dan hematologi/onkologi.

Baca juga:  Tentang Hoax dan Pasca-Kebenaran

Pertemuan pasangan ini terjadi di Universitas Saarland sejak pindahnya Sahin dari Köln ke Homburg, Saarland. Tahun 2001 Türecim dan Sahin membuat perusahaan biofarmasi yang mengembangkan teknologi dan obat untuk kanker dan imunitas. Tahun berikutnya mereka menjual perusahaan tersebut dan kembali membuat BioNtech yang bergerak untuk mengembangkan teknologi dan obat untuk terapi imun.

Dua Contoh Ekstrem

“I am a Prussian-Turks”, kata-kata inilah yang kerapkali keluar dari Türecim untuk mendeskripsikan dirinya dalam berbagai wawancaranya di media-media nasional Jerman. Kisah pasangan ini menjadi headline di beberapa media baik lokal maupun internasional dan menjadi prototype kesuksesan cerita perihal integrasi di Jerman.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Koran lokal Jerman Der Tagesspiele beberapa hari lalu menuliskan “Bagaimana Anak Imigran Menjadi Seorang Billioner; Pasangan di Balik Vaksin-corona“ sebagai headline utama di halaman terdepan. Media Inggris, The Telegraph bahkan menuliskannya dengan “Pasangan Jerman di Balik Vaksin Merupakan Kisah Anak Imigran Yang Sukses“. Sorotan beberapa media tentang latar belakang pasangan ini pun tak luput dari perbincangan tentang kehidupan imigran Turki di Jerman.

Kisah-kisah sukses imigran di Jerman selalu menjadi perhatian publik, baik oleh politisi Jerman dan mereka yang berlatar belakang imigran khususnya oleh komunitas imigran Turki. Saya jadi teringat kisah rekan saya Aysel yang tinggal di Karslsruhe, Jerman Selatan. Aysel dan keluarga besarnya merupakan generasi kedua dari gelombang imigran Turki yang menetap di Jerman sekitar tahun 60-an. Jika dilihat dari kriteria pemerintah Jerman terkait dengan program dan proses integrasi, ia dan keluarga besarnya bisa dikatakan cukup berhasil, bahkan kisahnya mungkin juga patut diangkat sebagaimana Türecim dan Sahin.

Baca juga:  Dari Tan Malaka hingga Sukarno Mengkritik Logika Mistik Manusia Indonesia

Aysel bekerja di perusahaan teknologi informasi yang cukup besar di Jerman, dan menduduki posisi penting dalam karirnya. Keluarga besarnya berkarir cukup bagus di Bruchsal bahkan mendirikan beberapa institusi pendidikan dan keagamaan di lingkungan sekitar. Aysel dan keluarga besarnya pun sudah menjadi warga negara Jerman sejak puluhan tahun lalu, bersahabat dengan kultur Jerman dan sekarang mereka menjadi bagian dari masyarakat Jerman.

Lain Aysel, lain imigran-imigran baru yang dinilai tak dapat berintegrasi dengan baik di Jerman. Lima tahun setelah Angela Merkel mengumumkan dibukanya kran satu juta pengungsi dan pencari suaka dari beberapa negara konflik, Jerman harus bekerja keras untuk meningkatkan proses asimilasi bagi para imigran baru agar integrasi dapat berjalan dengan baik.

Kisah-kisah para imigran baru ini tak melulu positif dan membanggakan, namun lebih dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran yang datang bertubi-tubi. Salah satunya terkait dengan merebaknya kekerasan dan kejahatan juga terbentuknya kelompok-kelompok Muslim baru yang acapkali disebut dengan Muslim ghetto.

Warga Jerman tentu ingat dengan peristiwa buruk yang melibatkan pemuda berlatar belakang imigran di malam Tahun Baru 2016 di Köln. Kejadian ini menjadi semacam titik poin baru di mana sentimen warga Jerman terhadap imigran semakin meninggi. Ratusan perempuan dikabarkan mengalami pelecehan seksual, bahkan 24 lainnya mengalami perkosaan oleh segerombolan pemuda imigran yang berasal dari Afrika Utara dan negara Arab. Tak hanya di Köln, peristiwa ini juga terjadi di beberapa kota besar lain di Jerman.

Ketakutan terhadap imigran yang berlatar belakang Muslim tentu saja berangkat merebaknya fenomena teror yang melibatkan gerakan terorisme di Jerman belakangan ini. Dari data terkini menunjukkan bahwa mayoritas pencari suaka dan imigran yang datang ke Jerman adalah dari negara Muslim, 40 persen dari kalangan terdidik Syria dan selebihnya adalah pemuda pemuda miskin dan tak memiliki ketrampilan baik dari Syria, Iraq dan Afghanistan.

Baca juga:  Interupsi (Belajar) Itu Bernama Pandemi

Bahkan dikatakan belakangan ini “ketakutan terhadap Islam di Jerman mengalami peningkatan“, seperti yang disampaikan Thomas Volk, Koordinator Islam dan Dialog Agama, dari Konrad Adenauer Foundation. Warga Jerman beranggapan bahwa Islam adalah agama yang sangat berbahaya, bahkan 60% warga Jerman mengatakan “Islam doesn’t belong to Germany”.

Tarik ulur kebijakan dan protes keras dari pihak konservatif terhadap isu integrasi di Jerman seperti tak ada ujungnya. Berita-berita positif nan membanggakan terkait warga Jerman keturunan selalu dihadap-hadapkan dengan peristiwa dan berita negatif yang seringkali membuat kemarahan publik seketika meningkat. Polarisasi dan sentimen imigran menjadi isu yang selalu naik ke permukaan, terlebih jika ada peristiwa yang mengawali kejadian-kejadian tersebut.

Seperti kejadian membanggakan Sahin dan Türecim baru-baru ini, publik Jerman kembali terbelah dengan polarisasi integrasi berhasil dan integrasi gagal. Seolah hanya dua gambaran tersebut yang bisa mewakili potret imigran di Jerman, padahal nyatanya sangatlah beragam. Dari pada semakin menguatkan polarisasi, bukankah lebih baik perdebatan tentang benturan budaya ini ditangani tanpa mendorong reaksi rasis para imigran yang coba diintegrasikan oleh negara?

***

Pesan Utama :

Potret imigran di Jerman selalu dilihat dan dihadap-hadapkan antara yang berhasil dan gagal. Padahal masalah yang nyata adalah salah satunya kesulitan para imigran untuk berintegrasi karena mendapatkan perlakuan rasis.

 

 

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top