Sedang Membaca
Abdul Wahid, Santri Situbondo Itu, Selain Alim Ushul Fikih, Juga Mahir Bahasa Prancis

Nahdliyin, menamatkan pendidikan fikih-usul fikih di Ma'had Aly Situbondo. Sekarang mengajar di Ma'had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Menulis Sekadarnya, semampunya.

Abdul Wahid, Santri Situbondo Itu, Selain Alim Ushul Fikih, Juga Mahir Bahasa Prancis

Dsc 0057

Kunjungan Gus Baha’ ke Ma’had Aly Situbondo tahun lalu benar-benar menjadi magnet sekaligus setrum. Magnet karena kehadirannya menjadi sorot ribuan pasang mata. Setrum karena sosoknya memberi sentuhan bagi santri di lembaga pendidikan tinggi khas pesantren pertama di Indonesia itu. Videonya yang dirilis oleh akun resmi lembaga ditonton jutaan orang. Bisa disebut, akun Youtube Ma’had Aly Situbondo merangkak naik karena “berkah” video santri kinasih Mbah Moen itu.

Memang, jika dilihat, pada momen itu, suasana begitu penuh eouforia. Suasananya hidup, peserta riuh. Sesekali Gus Baha’ tertawa terbahak-bahak bahkan sempat beberapakali melepaskan pecinya. Di samping karena pesona Gus Baha yang bersinar, ada sosok yang tak bisa dilepaskan dari hebohnya acara itu. Siapa lagi kalau bukan moderator yang memandu jalannya acara. 

Buku Kiai Said

Moderator bukan hanya memandu acara dengan baik, melemparkan humor, hingga mengutip seorang penulis sekaligus pengajar pengembangan diri asal Amerika Serikat, Dale Carnigie, untuk membalas gojlokan Gus Baha’. Kelihaian moderator makin membuat suasana diskusi begitu “gayeng” . 

Bagi yang tidak akrab dengan suasana diskusi pesantren, akan menduga bahwa moderator dalam acara itu sudah suul adab pada Gus Baha tetapi bagi mereka yang akrab dengan tradisi pesantren maka itu adalah hal yang lumrah. Dan poin pentingnya: Gus Baha tampak begitu menikmati forum itu.

 Nah, kemarin ketika Ma’had Aly Situbondo kembali mengadakan diskusi soal Kontroversi Emmanuel Macron bersama Kiai Ahmad Azaim Ibrahimy dan Muhammad al-Fayyadl, moderator “andalan” itu kembali menyita banyak perhatian. Sebabnya, ia memberi pengantar diskusi dengan membedah pidato Macron yang menjadi titik kontrversi. Ia juga beberapa kali mengutip media resmi berbahasa Prancis sembari melafalkannya. Singkat kata, sang moderator tak cuma bisa, namun fasih berbahasa Prancis. 

Sosok yang kita bicarakan ini bernama Abdul Wahid, seorang dosen muda di Ma’had Aly Situbondo. Sekilas jika melihat tampilan luarnya tak ada yang istimewa dari laki-laki kelahiran Sumenep ini. Tubuhnya kurus, jika berjalan agak cepat, sering berkemeja lengan pendek, songkok merk nasional yang dipakai agak lusuh, dan sarung yang dikenakan biasa-biasa saja. Ditambah jika rambutnya dibiarkan tidak dipotong alias memanjang maka ia seperti tidak ada apa-apanya. Padahal di balik itu semua, ia adalah salah satu santri alim yang amat disayang oleh Kiai Afifuddin Muhajir, seorang kiai idola yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar kehormatan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. 

Wahid, begitu ia akrab disapa,adalah produk asli Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Selepas menamatkan pendidikan dasar di kampungnya, ia melanjutkan pendidikan di pesantren yang didirikan oleh Kiai Syamsul Arifin ini. Ia masuk SMP di sore hari dan Madrasah Ibtida’iyah di sore hari. Sistem yang dipakai di Pesantren Sukorejo adalah merangkap, pagi madrasah sore sekolah. Sementara malam harinya adalah kegiatan ma’hadiyah (kepesantrenan). 

Di masa-masa itu, Wahid kecil lumrahnya santri lain. Ia belajar, bermain, kadang-kadang mbeling juga seperti biasanya para santri. Namun sejak saat itu, ia sudah dikenal sebagai santri cerdas dan cepat menghafal. Bukti kecerdasannya adalah ketika baru lulus Sekolah Menengah Pertama ia sudah diterima di Lembaga Ma’had Aly jenjang S1. 

Diterima di lembaga kader ahli fikih di usia di bawah 20 tahun adalah hal yang tak lumrah. Karena pada biasanya yang diterima di sana adalah santri senior, yang sudah hafal pahit-manis kehidupan pondok. Ditambah syarat ujian masuk sangat ketat. Maka seperti mustahil seorang anak kecil ikut-ikutan lulus masuk, tapi itu semua tak berlaku untuk Abdul Wahid. Ia masuk ke Ma’had Aly di usia yang sangat belia. 

Diterima di Ma’had Aly menjadi babak baru dalam hidup Wahid. Ia harus beradaptasi dengan cepat, bergaul dengan teman-teman barunya yang memang sudah tua-tua. Bahkan ia juga harus bergaul dengan salah seorang ustaz yang dulu mengajarinya di Madrasah. 

Waktu terus berjalan, ia bukan hanya mampu survive belajar di sana tetapi juga menjadi salah satu santri yang paling menonjol. Bukti yang paling kuat, ia adalah lulusan terbaik Ma’had Aly Situbondo di angkatan ke 7. Ia menulis tesis bertajuk “Konsep Istihsan dalam Mazhab Hanafiyah”, salah satu tugas akhir yang mengantarkan ia menjadi wisudawan terbaik. 

Ada beberapa hal yang menonjol dari sosok unik ini. Pertama penguasannya pada usul fikih yang begitu mendalam. Ia mampu menguliti naskah-naskah usul fikih yang kompleks itu, mengelaborasi dan kemudian menuliskan dengan bahasan yang renyah.  Hal ini mungkin karena di Ma’had Aly Situbondo mata kuliah fikih-usul fikih mendapat porsi yang amat tingi. Maka sudah sewajarnya, lulusannya memiliki kualifikasi di dua bidang itu. 

Kedua, Wahid memiliki keahlian mendalam terhadap ilmu mantiq, sebuah Ilmu yang semakin ke sini makin tak mendapat perhatian dari para santri. Karena pelajaran ini memang tampak angker dan mempelajarinya bisa  melelahkan. Padahal ilmu mantiq ini sangat penting. Ia berkaitan dengan ilmu-ilmu lain, seperti usul fiqh, akidah bahkan ilmu non-agama seperti Sains, metodologi penelitian dan Matematika. 

Dalam mukadimah al-Mustashfa al-Ghazali berlama-lama dalam kata pengantar menjelaskan urgensi mantiq dalam usul fikih, hingga ia sering menegaskan bahwa keilmuan seseorang bisa dipersoalkan jika tak memiliki keahlian dalam ilmu mantiq.  

Di tangan Wahid keangkeran ilmu mantiq tampak hilang. Sebagai pengajar mantiq, ia menjadikan pelajaran mantiq dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia cocok mengajar ilmu ini karena ia menyukai filsafat dan sastra. Ia juga berhasil menulis tesis di Pascasarjana Univeritas Ibrahimy Sukorejo mengenai logika induksi yang digunakan ulama fikih dalam menyusun fikih haid dalam kitab-kitab kuning.  Lagi-lagi, tugas akhir akademik ini mengantarkan ia menjadi wisudawan terbaik. 

Keahliannya dalam ilmu mantiq ini yang mempengaruhi kehebatan Wahid ketika memimpin forum-forum seminar. Di tangannya, forum bisa hidup, dengan guyon-guyon khas, lucu dan nyelkit. Kata-kata dipoles, dibolak-balik menjadi logika yang mudah dicerna dan mengaduk-ngaduk perut banyak orang. 

Setelah menamatkan pendidikan di Ma’had Aly, selang beberapa tahun, ia ditawari kursus bahasa Prancis di Jakarta oleh salah seorang dosen Ma’had Aly Situbondo yang dicintai banyak orang, Dr. Wawan Djuandi, M. Ag. Tanpa fikir panjang, ia mengiyakan dan baru menyesal ketika sudah menjalaninya. 

Betapa tidak, ia belajar bahasa Prancis dari nol dan satu-satunya peserta dengan latar belakang pesantren. Sementara peserta lain ada yang lulusan luar negeri dan berbagai latar pendidikan akademik yang prestisius. Dalam sebuah kesempatan, ia bercerita bagaimana menjalani proses kursus bahasa dengan berat, sedih dan memilukan. Dengan nada guyon, Wahid mengatakan, “Saking beratnya menjalani, saya seperti mau muntah dik!”, ujarnya pada saya dalam satu kesempatan. 

Ketika kondisi yang sulit itu, sosok Kiai Afifuddin Muhajir hadir memberi kekuatan. Ia ibarat sumber mata air yang mengalirkan kesejukan bagi santrinya. Kiai Afif menguatkan santrinya itu agar tetap berusaha sekuat tenaga. Beliau juga memberi support dengan hiburan dan doa untuk sang anak didik. 

Hingga, setelah enam bulan kursus di Jakarta dengan berdarah-darah, Wahid akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat terbaik. Ra Fayyadl, dalam sebuah kesempatan mengomentari kemampuan bahasa Prancisnya. Menurut Alumnus sekolah Filsafat di Prancis itu, kemampuan bahasa Prancis  Wahid sudah sangat baik.

Itulah jalan terjal seorang santri bernama Abdul Wahid. Santri alim cum nyentrik dari Ma’had Aly Situbondo. Ia ahli ilmu mantiq, usul fikih dan bahasa Prancis. Di samping itu, ia juga menikmati filsafat dan mendalami sastra bahasa arab. Baru-baru ini ia berhasil menerjemahkan sekaligus memberi anotasi atas Qasidah Munfarijah dengan judul “Selamat Datang, Gundah!” 

Sehat terus laki-laki yang diberi gelar The Spesial Wahid!   

Baca juga:  In Memoriam Ayip Abbas: Menemani Geng Motor yang Brutal
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
5
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top