Sedang Membaca
Dari Madura hingga Australia: Membaca Wajah Orang Indonesia di Tengah Wabah Corona
Mahmudi
Penulis Kolom

Penulis adalah dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Dari Madura hingga Australia: Membaca Wajah Orang Indonesia di Tengah Wabah Corona

1 A Jenasah Korona

Wabah covid 19 telah menggejala di dunia termasuk Indonesia. Pemerintah sempat mengatasi wabah ini dengan mengajukan social distancing, yaitu menjaga jarak satu sama lain sekitar 1 meter atau 2 meter. Hal ini sebagai antisipasi menyebarnya virus ke berbagai daerah. Sedangkan negara lain ada yang memberlakukan lockdown. Hal itu terbilang efektif, utamanya China sebagai negara yang pertama kali dikena wabah ini.

Indonesia memiliki dinamikanya sendiri. Sebab, jika memberlakukan lockdown maka akan terjadi ekonomi yang sulit. Dengan pertimbangan tersebut, maka pemerintah memberlakukan social distancing. Namun, sebagian masyarakat ada yang tidak patuh sehingga penularan covid semakin meningkat setiap harinya. Awalnya puluhan yang kena namun akhirnya ada ratusan dan bahkan sampai seribu lebih. Dengan begitu pemerintah lebih memperketat peraturan, misalkan dengan dijaganya jalan raya supaya dapat menyemprot mobil yang masuk dari area perkotaan dengan disinfektan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dengan kejadian seperti ini, sebetulnya kita dituntut untuk semakin aktif dan bersatu bersama melawan covid 19. Dari kejadian ini, sebenarnya tampaklah persatuan masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Persatuan tersebut diindikasikan dengan adanya kesepakatan bersama antar berbagai daerah untuk mencegah covid 19. Dari mulai para Gubernur yang sigap menangani hal ini, sampai ke Kepala Desa yang juga turut andil di berbagai daerah. Hal ini menjadi bukti bahwa dibalik perbedaan dari berbagai agama dan juga suku, ternyata kita tetap dapat bersatu mewujudkan Indonesia yang harmoni.

Tidak hanya disebabkan kasus Covid ini, namun bangsa Indonesia memang terkenal dengan bangsa yang tidak suka kekerasan. Sebetulnya bangsa ini suka dengan kedamaian walaupun di tengah perbedaan yang banyak. Pernah pengalaman penulis tinggal di Madura yaitu tepatnya di Dusun Candi Polagan Galis Pamekasan. Di sana ada Vihara yang merupakan tempat ibadah orang China yang beragama Budha. Di tempat kami tersebut, tercipta kedamaian, tanpa ada cekcok antar warga. Mereka saling menghargai satu sama lain. Hal ini mengindikasikan bahwa kesatuan selalu tercipta di berbagai tempat. Walaupun ada perbedaan, namun perbedaan tersebut tidak sampai menyebabkan konflik yang berkepanjangan.

Baca juga:  Kita dan Tragedi 65 (7): Sejarah PKI dan Narasi Tunggal Orde Baru

Pernah penulis juga ke Australia, Melbourne ingin menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah orang yang suka cinta damai, tanpa adanya konflik. Disana kami diterima dengan baik oleh masyarakat. Mereka menganggap orang Indonesia adalah orang yang suka ramah tamah dan perhatian di segala bidang.

Ketika ada kasus separatisme yang menggoncang Indonesia, hal ini sebetulnya disebabkan sebagian warga yang ada ingin merongrong kesatuan Indonesia. Mereka ingin mendirikan khilafah di negara kita. Namun banyak di Indonesia yang memiliki ide moderat untuk mengatasi masalah perbedaan. Pernah penulis mengikuti acara konferensi yang bertema Islam Moderat di Indonesia. Sebetulnya Indonesia merupakan negara yang suka kedamaian dan persatuan, tidak mementingkan kekerasan. Jika terjadi konflik antar kelompok, sejatinya itu disebabkan sebagian politisi yang mengada-ada. Pada hakikatnya negara ini memiliki persatuan yang kuat.

Tradisi kebersamaan juga menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan acara-acara yang ada di daerah kita. Seperti acara tahlilan yang diwarisi dari para leluhur. Ini biasanya dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan NU. Ini telah menjadi tradisi yang tidak bisa diotak-atik. Tradisi ini perlu diaplikasikan bersama. Selain itu, kebersamaan juga mewarnai masyarakat ketika ada lomba kemerdekaan. Masyarakat berbondong-bondong untuk mengikutinya. Ini menandakan kesatuan dari rakyat Indonesia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Gerak sosial itu menandakan perbedaan budaya Indonesia dengan luar negeri. Kebanyakan di luar negeri itu hidupnya bercorak individualis. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang cenderung ke komunal. Hidup berkelompok dan menghindari hidup kesendirian atau individualisme. Ini menjadi bukti dari persatuan yang kokoh dari masyarakat Indonesia. Oleh karena itu kebersamaan tersebut perlu dirajut bersama.

Coba dilihat, kehidupan yang ada di berbagai desa di nusantara itu ditandai dengan banyaknya kebersamaan. Taruhlah misalnya, para petani itu selalu berkumpul untuk bekerja sama dalam pertaniannya. Bandingkan dengan kehidupan di Brunei misalkan, di sana masyarakat cenderung hidup secara individu. Memang di sana banyak orang yang punya mobil, bahkan tiap rumah selalu ada mobil. Dan, sepeda motor hampir tidak didapatkan di negara Brunei.

Baca juga:  Ihya Berjalan, Berjalan dengan Ihya

Perbedaan seperti itu menunjukkan kelebihan masyarakat Indonesia yang selalu hidup bergotong royong serta tidak mau menjadi orang yang individualis. Memang di sisi lain, kita belum se maju mereka, namun hal positif tentang gotong royong tidak bisa diabaikan begitu saja. Inilah yang perlu diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

Perbedaan yang banyak itu sebenarnya dapat ditemukan kesamaan di dalamnya. Jika cara berpikirnya adalah menyatukan, maka mau tidak mau persamaan itu yang dicari. Sama halnya seperti beberapa aliran di dalam agama, maka mau tidak mau harus dicari persamaannya. Persamaan tersebut adalah dari faktor internal, yaitu keyakinan yang terpatri di dalam setiap sanubari manusia.

Indonesia merupakan negara besar yang terdiri dari banyak etnis yang beragam, mulai dari Jawa, Madura, Dayak, Batak, Bugis, dll. Perbedaan budaya semacam ini yang perlu dicarikan persamaannya di dalam berperilaku kebangsaan. Apabila hal itu dapat dilakukan, maka semuanya dapat diterapkan dengan baik. Banyak bangsa yang gagal dalam merajut kebersamaan itu karena faktor membesar-besarkan perbedaan yang sebetulnya sepele.

Di pedesaan, gotong royong masih berlaku dengan baik. Hal itu dilakukan di segala sektor seperti pertanian, pertukangan, dan kelautan. Di pertanian, masyarakat saling membantu satu dengan yang lain seperti saling menanam padi dengan bergantian antar warga. Di pertukangan seperti mebel, masyarakat saling membantu bekerja di tetangganya. Ada juga yang dibayar tapi tidak seberapa. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat saling gotong royong. Pada sektor kelautan, petani laut saling membantu satu sama lain. Kehidupan yang semacam ini merupakan ciri khas dari persatuan Indonesia.

Hal ini memang telah diajarkan oleh para leluhur kita, sejak zaman Majapahit dulu hingga ketika datang para wali di tengah-tengah Nusantara untuk adanya islamisasi. Para wali dengan baik mengislamkan Indonesia. Budaya masyarakat tidak pernah hilang dengan datangnya para wali tersebut.

Baca juga:  Studi Islam Politik dalam Jebakan Dikotomi Kultural

Dari hal-hal demikian di atas, sepatutnya masyarakat kita, baik yang muslim maupun non muslim berbondong-bondong untuk menuju pada perdamaian. Sebenarnya, perdamaian ini merupakan kata kunci yang menaungi perilaku umat beragama. Kita sering melihat, banyak kasus bom bunuh diri di lingkungan kita. Hal itu dilakukan oleh sebagian muslim karena motivasi untuk membunuh orang kafir. Dalam hal ini, Kristen yang menjadi korban. Ini yang disebut dengan radikalisasi agama. Hal itu terjadi karena, mereka, kaum radikalis, menafsirkan secara sporadis akan ayat-ayat yang berbau kekerasan. Padahal, ayat itu multi interpretatif. Artinya kebenaran tidak tunggal. Kebenaran itu ada dimana-mana. Jika kebencian itu yang selalu dikedepankan maka sikap toleransi akan menjadi utopia belaka.

Maka yang paling penting sebetulnya adalah merajut kesatuan di tengah perbedaan suku, ras, dan agama. Hal itu sebetulnya sudah ada pada masyarakat kita. Hanya saja perlu dikedepankan lagi mengingat ada sebagian yang ingin merongrong kesatuan bangsa ini. Namun itu hanya sebagian kecil saja. Agaknya tidak akan sampai terjadi separatisme yang menyebabkan bangsa jatuh. Ini sebetulnya berkah yang dikasih Tuhan kepada bangsa ini. Hal ini juga berkat para pahlawan yang berjuang demi tegaknya bangsa ini. Mereka adalah pejuang tanpa tanda jasa. Mereka menyebabkan bangsa ini merdeka.

Hal yang harus diperhatikan adalah terus merajut persatuan di segala bidang baik pendidikan, politik, budaya, dan lain sebagainya. Dalam budaya, sebaiknya pesantren juga harus ikut andil dalam memupuk persatuan dan kedamaian. Dalam sejarah, santri juga merupakan pejuang tegaknya bangsa ini. KH. Hasyim Asy’ari juga merupakan pahlawan yang patut dikenang segala jasa-jasanya. Ini merupakan keberkahan tersendiri yang kita peroleh dari perjuagannya. Bersama KH. Kholil al Bangkalani serta muridnya, KH. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top