Sedang Membaca
Makan dan Buku
Penulis Kolom

Penulis di Mbokmbokan Malem Minggu.

Makan dan Buku

makan

Pada akhir April 2016, saya bersama suami dan anak-anak berniat memenuhi janji kunjung rumah sahabat di Bekasi. Janji lama terucap tak kunjung kami penuhi  bikin hati tak enak. Anak-anak senang sekali naik kereta ke Bekasi. Seminggu di Bekasi, sahabat mengajak ke acara pesta buku berlogo serigala.

Lokasi pesta buku di Tangerang, terhitung cukup jauh dari rumah sahabat. Kami berangkat petang, diajak makan dulu sebelum kalap buku. Rasa kantuk buyar saat masuk area parkiran. Aroma buku menyeruak dari dalam gedung. Kami menghambur masuk. Anak-anak memburu buku tak keruan aksinya. Lima anak kecil kelayapan di antara buku dan orang membikin kepala nyut-nyut seperti orang lapar.

Kami minggir di dalam ruang kosong sela tumpukan buku dan mengajak anak-anak rapat sejenak agar tetap dalam pengawasan. Buku-buku sudah didapat, tinggal proses bayar di antrean kasir yang mengular. Anak-anak digiring keluar. Mereka masih semangat meski telah menjajaki banyak buku, berjam-jam. Saya waktu itu masih dalam keheranan: orang-orang menggemari pesta buku berlogo serigala.

Kuduga buku teramat jauh datangnya, dari Barat. Hal itu membuatnya digemari pemburunya. Serigala pemakan daging. Pemburu buku berlogo serigala “memakan” buku. Serigala dan buku terlampau sulit kupaksa masuk dalam akalku. Aku tak beli buku untuk diriku saat itu, tak ada yang enak untuk seleraku. Lagipula, aku sudah kenyang, hanya terasa mengantuk ingin segera rebah dan tidur.

Pesta Buku di Jawa Timur

Enam bulan kemudian, akhir Oktober 2020, dihelat pesta akbar pertama buku berlogo serigala di Jawa Timur. Acara di Gedung Jatim Expo Surabaya. Buku-buku datang dari negeri yang jauh dibicarakan banyak orang di media sosial. Konon, untuk masuk gedung, para pemburu buku rela antre berjam-jam. Parkiran penuh bahkan banyak kendaraan pribadi tercecer di jalan-jalan.

Pesta buku dibuka melewati jam kerja normal. Dua puluh empat jam memanjakan penikmat buku, pemburu buku, juga para bakul bukuSelain itu, ada wajah-wajah lesu dan berminyak para kasir, pramuniaga buku , tukang sapu, tukang parkir yang mesti bekerja saat orang lain bermimpi dan nyenyak di tempat tidurnya. Pemburu buku berfoto tengah malam di antara tumpukan buku seluas gedung.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Semangat berburu buku perlu dilihat banyak teman di lingkar media sosialnya. Komentar-komentar sanjungan diikuti pertanyaan-pertanyaan terbaca di bawah foto. Orang-orang tergiur berdatangan meramaikan pesta buku dikenal berlogo serigala untuk melihat, membeli, dan berfoto.

Baca juga:  Bekal Literasi Pergi ke Tanah Suci

Kami sekeluarga naik bus datang ke pesta buku dalam cita-cita membudayakan cinta buku. Tujuan diutamakan pada anak-anak terpapar buku. Saat berangkat kami sudah sarapan dan perjalanan dengan bus, butuh waktu lama. Siang, kami masuk Jatim Expo.

Saya masih kesulitan mencari buku sesuai selera. Anak-anak memilih dan kami menyaring mana buku yang bisa dan boleh dibeli. Buku anak banyak berisi aktivitas permainan. Permainan dalam buku, buku isinya permainan. Sekali atau dua kali digunakan, setelahnya dilupakan. Duh!

Kami keluar gedung jelang jam lima sore. Semua merasa lapar dan lemas. Baru teringat bekal energi keluyuran di pesta buku tadi berasal dari sarapan dan tak diisi lagi. Ibu dan anak-anak sudah uring-uringan dan akan pingsan. Orang paling waras di keluarga mengajak untuk membeli makan, apa saja yang bisa dimakan.

Perjalanan Sakral

Nah, makan sering disebutkan dalam perjalanan lintas benua seorang editor. Muthia Esfand merancang perjalanan demi sesuatu sakral bernama toko buku dan buku. Jika pernah kita berhadap-hadapan dengan wajah bocah sedang menghabiskan makanan dengan nikmatnya, tanpa risau terburu-buru dan lugu, mungkin seperti itu hal saya tangkap dari ekspresinya membicarakan “makan” di buku.

Kita bisa tersandung tanpa sebab kala perut lapar. Terbentur pojok tembok gegara hilang keseimbangan sebab belum sarapan. Bertanya-tanya kunci rumah yang sedang digenggam kebanyakan disebebkan konsentrasi menurun saat perut keroncongan.

Muthia selalu memperhatikan kebutuhannya makan, sebelum beranjak ke toko buku atau tempat ingin dikunjungi dan berasyik ria di dalamnya: “Karena sudah lapar dan ingin membuka bekal, aku menghampiri dan duduk di sebelahnya. Salami ayam dingin dan beberapa potong biskuit asin kukeluarkan dari Tupperware lipat, lalu mengunyah perlahan sambil menatap Kastel Edinburgh di seberang tempatku duduk.”

Peristiwa makan tertulis di halaman-halaman awal Dari Toko Buku ke Toko Buku yang ditulis Muthia Esfand. Peristiwa ini mengawali serentetan peristiwa makan di berbagai negara yang dikisahkan di bukunya. Kata salami membuat saya penasaran dan berselancar mencari tahu bahwa sosis berdiameter 6 cm lazim di Eropa.

Baca juga:  Saat Lebaran, Apakah Baca Buku Jadi Agenda?

Susah Baca Kalau Lapar

Muthia mengaku: “Aku susah baca buku kalau lapar.” Saya juga begitu. Muthia membuka bekal sambil memandang Kastel Edinburgh, dilakukannya di samping Atara, sosok misterius sempat ditemuinya di sebuah kursi di bawah kastel.

Makan bersama teman sering membikin hati senang daripada makan sendirian. Kita merasa senang makan bersama teman, apalagi teman karib berjauhan dan tidak gampang ketemu. Makanan biasa akan jadi istimewa karena ada teman, apalagi makanan istimewa. Lain cerita kalau makanan itu sesuatu aneh tergambar rasa pahit. Kita perlu jujur mengakuinya, meski sedang makan bersama teman.

Fran menyuguhkan selai terfermentasi: “Selai khas Inggris dari zaman perang, namanya marmite. Dibuat dari fermentasi ragi. Mungkin waktu zaman perang susah cari selai yang layak, jadi ragi pun dimanfaatkan jadi selai. Buka mulut!” Muthia menelan sejumput marmite di ujung sendok kecil. Muthia mengernyit, tak nyaman sepertinya, membikin ingin tertawa.

Diceritakan, rasanya pahit sekaligus getir sekaligus aneh: “Kayak makan obat batuk hitam yang dicampur wasabi lalu ditambah sedikit madu hitam Badui, lalu diperam berhari-hari. Gimana, ya, pahitnya nggak santai gitu.” Sang teman tertawa dengar pengakuan orang Indonesia di Eropa. Kita di Indonesia masih teringat mendoan, tempe terfermentasi lanjut, jamur kapangnya semakin banyak dan menghitam, itu pun ada rasa pahit. Pahitnya mendoan masih santai dalam kesepakatan banyak orang.

Makan dan Peristiwa Ideologis dan Idealis

Makan menjadi peristiwa sarat ideologis bersama teman idealis. Kejadianya pasti tidak di pinggir sawah, di antara petani hendak memulai masa tanam. Sarapan ideologis Muthia terjadi bersama Hanif di Dresden, Sejak awal terkenang karakter Hanif berikut cerca tanya yang dilontarkannya kepada Muthia. Sarapan ideologis memakan roti dengan olesan nudossi. Nah, nudossi adalah selai coklat-hazelnut khas wilayah Timur, konon tak dijual di Barat.

Timur dan Barat terasa aneh bagi warga negara mengalami masa kelam. Diceritakan sebuah rumah di Pillnitzer Landstrabe 57 sebagai inkubator seniman lokal legendaris di Dresden. Rumah bernama Kunstlerhaus hendak membentuk lingkungan yang kondusif bagi para seniman, penulis, dan pekerja kreatif di masa itu. Ruang-ruang seperti kolam bening, ruang terlihat transparan.

Baca juga:  Resensi Buku Sastrawan Santri: Kala Santri Bersastra

Kunstlerhaus memberi citra eksklusif para sastrawan dan seniman. Tapi itu dulu, sekarang Jerman tak sefantastis era-era sebelumnya, begitu kesaksian Muthia. Membaca bagian rak-rak buku di rumah-rumah tua mulai dikosongkan membikin ada tekanan di hatiku.

Merasa sedih terkenang memori terakhir di Dortmund, Muthia bertemu Oemer, calon kakak ipar yang akhirnya batal jadi kakak ipar. Oemer lama tidak makan makanan favorit. Diajaknya Muthia ke pasar jalanan khusus hari Jumat dan Sabtu di Dortmund.

Brochen

Pagi-pagi mereka makan brochen, Muthia suka banget: “Brochen hangat yang baru dibuat pagi itu terasa empuk ketika kucuil, ditambah dengan hangat ikan putih goreng berbalut adonan tepung tipis yang disisipkan di tengah brochen, dan saus mustar berpadu bawang bombai. Aromanya seperti pondok kayu di tepi samudra yang berlimpah matahari pagi. Nyaman dan tenang. Aku mendorongnya penuh-penuh ke dalam mulut, menggigit besar-besar. Saus asam gurih membalut ikan goreng yang legit, selahap penuh energi.”

Gambaran menggila brochen memberiku kenikmatan makan lupis ketan bersiram gula merah kental. Tiga lupis ketan berbentuk segitiga memiliki ketebalan yang aduhai berselimut kelapa parut masuk mulut satu per satu. Di sebelahnya, bertumpuk cenil diwarna merah dan hijau, berselimut kelapa parut disiram gula masuk mulut juga. Kalau ada yang bertanya rasanya, jawabannya pasti enak.

Mencoba mengingat lagi ragam makanan tertulis Dari Toko Buku ke Toko Buku terasa tak terlalu banyak bisa diingat. Ya benar saja, ini buku perjalanan, bukan buku makanan.  Sekelebat menyeruak rasa bangga dan pongah, makanan di desaku saja terlalu banyak nama dan ragamnya, apalagi makanan di sepanjang Sabang ke Merauke.

Meski tak dapat dibandingkan, dapat dipahami mengapa makanan di Eropa sering berupa olahan daging. Di sana, ada empat musim. Bahan paling mungkin diolah dan disimpan untuk masa-masa tidak dapat menanam adalah daging. Amat penting untuk diingat, ke mana saja dan ke toko buku perlu mengisi perut dulu. Ketahanan berjalan, berdiri, dan duduk menjelajahi buku perlu tenaga.

 

Judul               : Dari Toko Buku ke Toko Buku

Penulis             : Muthia Esfand

Penerbit           : Sunset Road

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Cetak               : 2021

Tebal               : 522 halaman

ISBN               : 978 623 96087 7 4

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top