Sedang Membaca
Sufi Perempuan Nus-yah
Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021).

Sufi Perempuan Nus-yah

Nus-yah adalah istri Yusuf bin Asbath. Suatu ketika sufi ini berkata kepada suaminya: “Engkau akan ditanya oleh Allah SWT atas namaku, apakah engkau telah memberikan makanan selain yang halal, dan apakah engkau telah melakukan suatu dosa demi aku?”

Yusuf ibnu Asbath menceritakan, “Ketika Nus-yah melahirkan seorang anak laki-laki, ia berkata, ‘Ya Allah! Engkau tidak memandangku laik untuk menyembah-Mu. Karena itu Kau sibukkan aku dengan seorang anak!'”

Selintas catatan:

Yusuf ibnu Asbath asy-Syaibani adalah seorang alim zahid dan hadis yang berspesialisasi dalam kerendahan hati (tawa’dhu). Ketika ditanya, “Apa batas kerendahan hati itu?”

“Batas itu adalah manakala engkau pergi ke luar rumah, engkau lihat setiap orang yang kau jumpai lebih baik tinimbang dirimu,” jawabnya.

Dia meriwayatkan hadis dari Sufyan ats-Tsawri dll. Dikatakan bahwa dia mengubur buku-bukunya karena dia merasa tidak puas dengan kualitas ingatannya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (89): Safar Tarekat Suhrawardiyah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top