Sedang Membaca
Momen Paling Romantis Selama Hidup Bersama Makkiyah binti Ashim
Penulis Kolom

Penyair, tinggal di Pesantren Annuqoyah, Sumenep

Momen Paling Romantis Selama Hidup Bersama Makkiyah binti Ashim

Fb Img 1631417176139

Setiap pasangan pasti mempunyai pengalaman-pengalaman berkesan di dalam hidupnya, baik sedih maupun gembira. Yang demikian itu akan melekat kuat di dalam ingatan, baik saat mereka masih bersama, lebih-lebih setelah terpisah.

Di antara pengalaman berkesan itu adalah; pertemuan pertama untuk cinta pertama, malam pertama setelah lama tak bersua, atau tatapan terakhir dari salah satu keduanya sebelum menutup mata untuk selama-lamanya.

Seperti Anda sekalian, saya juga punya banyak pengalaman romantis dengan almarhumah istri saya, Nyai Makkiyah. Tetapi, yang paling indah adalah momen pada saat menemani beliau sakit dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.

Saat itu, tiga hari penuh saya menjaganya tanpa keluar rumah sama sekali sembari menggubah bait-bait syair pujian kepada Nabi Muhammad. Sebut saja ia shalawat, pujian kepada Nabi dalam rangka memohon syafaat dan bimbingannya, di dunia ini—yang sekarang sedang dalam masa darurat karena pandemi—maupun kelak, di akhirat. Bait-bait itu saya susun dan saya kumpulkan lalu saya beri nama

“Maulid as-Syafi bi Anwaril Makkiyyah”. Di dalamnya, selain terkandung madah kepada Nabi, juga berisi doa kepada Allah agar kami semua terlindung dari penyakit, terutama bala dan wabah yang saat ini sedang melanda.

Saya sampaikan kepadanya.

“Yung, kamu ‘kan sangat senang membaca shalawat Dalail. Nih, aku juga nyusun shalawat, nih, kuhadiahkan buatmu!”

Baca juga:  Gus Dur: Harusnya Lawan AC Milan

Wajahnya langsung berbinar, terkejut layaknya mendapat bingkisan.

“Aku tulis ini dalam rangka memohon kesembuhan untukmu, juga untuk semua orang yang sakit, terutama mereka yang sedang terpapar Covid.”

“Ya, Allah,” katanya lirih. “Terima kasih, Kaaak…”

“Sekarang, aku akan membacakannya untukmu…!”

Saya mengambil tempat di sampingnya, duduk tenang penuh khidmat. Tak ada bunyi-bunyian apa pun terdengar, seakan-akan segala benda dan makhluk yang ada di sekeliling kami telah siap menyimak. Begitulah perasaan saya mengalir, merasa senang dan bangga.

Setelah berkirim Al-Fatihah, mulailah saya membaca ‘bil julus’ (dibaca dalam posisi duduk). Ketika bacaan telah tiba pada momen qiyam, saya berdiri. Kami sama-sama khusuk: Saya khusyuk membaca, beliau khusyuk menyimak. Acapkali kami saling beradu pandang, saling bertatap.

مولَد الشافى محمد# فى بقاعٍ بالحرام
مولد البشرى كأنّ # فرحة بين الهموم
انت شمس في الضياء # انت نورٌ للظلام
نورك الكافى تلعلع # كاشفاالجهل الجحيم
يانبي انت الطبيب # ودواء للسقيم
نسئل الله المعين # صحّةالقلب السليم
ياعزيزاَلايُضام # يا لطيفا بالانام
نرتجي منك السلامة # يارحيماللرحيم

Oh, di antara sakit yang dideritanya dan dia bertahan, di antara sedih yang saya rasakan dan saya gulana, kami mencoba merayakan kebahagiaan, kebahagian atas kesempatan dan anugerah yang terberi, yaitu menyusun shalawat untuk Sang Nabi. Timbang rasa menimbang, sepertinya belum pernah ada kebahagian kami yang melebihi kebahagian momen tersebut selama ini.

Baca juga:  Saat Gus Dur Bertemu Pak Harto di Bulan Ramadan

Setelah selesai, saya duduk kembali lalu berdoa. Saya membaca, beliau mengaminkan. Suaranya sangat lirih, sangat lirih. Pada saat itulah saya menangis tersedu-sedu, tangis sedih dan bahagia yang entah berada di bagian mana batasnya: sedih karena beliau sakit dan tak kunjung sembuh, bahagia karena beliau senang pada yang saya lakukan.

Itulah momen paling romantis di dalam hidup kami. Agaknya, seluruh pengalaman indah yang pernah kami lewati bersama tersaput dan hilang begitu saja oleh peristiwa ini, peristiwa yang amat mengharukan: seorang penyair yang menyusun puisi lalu membacakannya di hadapan sang istri, namun bukan puisi sanjungan untuknya, melainkan puisi yang mampu meleburkan perbedaan-perbedaan yang merentang dan terbentang di antara keduanya, puisi yang dipersembahkan untuk “kekasih bersama”, yaitu nabiyyil Mushthofa…

Itulah doa dan harapan untuk kami, juga untuk Anda. Semoga kita semua mendapatkan pertolongan dari Allah swt melalui kekasih-Nya:
Shahibul maqami wat taaj,
sayyidina wa maulana Muhammad,
as-Syafi wa Dalilul khairat…

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top