Sedang Membaca
Sarung Bekas dan Sajadah Kiai Sufyan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Sarung Bekas dan Sajadah Kiai Sufyan

M Faizi
  • Dengan kelakar, yang muda bisa lebih akrab berkomunikasi dengan yang tua. Kalau mau ngomong pedas, sebaiknya memang hendaknya dibumbui kelakar sehingga yang mendengar tidak terlalu kepanasan.

Ruang tamu Kiai Sufyan Miftah, Situbondo, hanyalah berupa sepetak kamar, tanpa kursi, tidak luas, mungkin hanya 4 x 4,5 meter. Di situ pula beliau kiai tinggal.

Di kamar istirahatnya yang sempit karena ada dipan kecil dan terkadang beberapa tumpukan barang, Kiai Sufyan tak jarang menerima tamu khusus di situ, biasanya khusus tamu yang jumlahnya tidak banyak. Tamu rombongan biasanya ditemui di serambi depan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Adakalanya, Kiai Ahmad Sufyan menerima tamu khusus, yakni tamu kemenakan-kemenakan dan sebagian cucu yang sebagian datang dari Madura. Biasanya, kelompok yang terakhir ini mampir untuk sowan jika kebetulan ke Jawa.

Adalah kebiasaan Kiai Sufyan menghadiahi para tamu khusus ini dengan sarung, sajadah, kadang tasbih, dan terkadang juga uang. Ya, termasuk yang paling diinginkan para tamu adalah sarung bekas. Bukannya Kiai Sufyan biasanya menghadiahi sarung yang baru?

Soal itu: iya, tapi tetap saja mereka lebih menginginkan yang bekas saja.

Suatu ketika, pada saat sekelompok kemenakan dan cucu datang bertamu, seperti biasa, Kiai Sufyan menghadiahi mereka satu per satu. Ketika itu, saat para tamu sudah hendak undur, ada seseorang yang nyeletuk, “Diggal abdina parengin senjhang gem-ageman bisaos, tekka’a ta’ anyar kadiya se gi’ buru…” (Biar, kalau saya akan nerima sarung bekas-pakai saja, tidak perlu yang baru seperti yang barusan). Suara ini muncul karena Kiai Sufyan baru saja membagi-bagikan sarung untuk para tamu.

Baca juga:  Bertukar Humor di Yerusalem

Kiai tersenyum, sudah paham apa maksud di balik pernyataan tadi. Semua tamu pun tahu, sarung yang barusan dibagikan itu sarung baru, masih berbungkus plastik, namun merupakan “sarung biasa” alias sarung pasaran. Adapun yang dimaksud “gem-ageman” atau “bekas-dipakai” jelaslah sarung kelas BHS yang jauh lebih bagus.

Rupanya, sebelum berpamitan, Kiai Zainuddin—salah satu yang ikut sowan ketika itu, dan kebetulan memang kemenakannya—memberanikan diri untuk menambah celetukan satu kali lagi.

“Diggal manabi abdina tekka’a ta’ sami sareng tan-teratan se laen, abdina nyo’ona sajada saos, sajadana Ajunan.” (Saya tidak masalah kalau dikasih hadiah yang berbeda dengan hadiah yang diberikan kepada saudara-saudara yang lain. Saya pilih sajadah saja).

“Sajadah?” kata Kiai Sufyan mengulang.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Enggi,” jawab Paman Zainuddin, “sajadana Ajunan se mun esongka’ pas langsung kalowar pesse.” (Sajadahnya Panjenengan yang kalau diangkat langsung ada banyak uang di baliknya.)

“Beh, areya ta’ kalowar dibi’, areya e sabha’i bi’ sengko’.” (Beh, uang ini tidak serta-merta ada dengan sendirinya, tapi memang diletakkan di situ).

Pada para tamu itu pun pulang dengan senyuman mengembang, senyum karena tawa tertahan. Kiai Zai pun sebetulnya juga tahu bahwa di balik kasur dan bantal, dan itu tradisi orang Madura zaman dulu, merupakan “dompet” raksasa.

Baca juga:  Pesantren dan Wajah Islam Kultural di Nusantara

Dengan kelakar, yang muda bisa lebih akrab berkomunikasi dengan yang tua. Kalau mau ngomong pedas, sebaiknya memang hendaknya dibumbui kelakar sehingga yang mendengar tidak terlalu kepanasan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top