Sedang Membaca
Tradisi Pembacaan “Takhmish al-Qawafi” dalam Masyarakat Arab Ampel
Lutfiyah Alindah
Penulis Kolom

Penulis adalah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya di Fakultas Adab dan Humaniora. Penulis memiliki dua gelar yang didapatkan dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Selain itu, penulis merupakan alumni ARI (Asian Research Institute) National University of Singapore dan salah satu fellow di Thai Studies, Chulalankorn University. Penulis tinggal di Bluru Sidoarjo.

Tradisi Pembacaan “Takhmish al-Qawafi” dalam Masyarakat Arab Ampel

Pembacaan puji-pujian terhadap nabi Muhammad selalu terdengar bersahut-sahutan di desa-desa maupun di kota. Lengkingan shalawat Nabi akan selalu terdengar baik dari masjid ataupun langgar. Bahkan, di peringatan hari besar seperti maulid nabi ataupun isra’ mi’raj akan terdengar dari lapangan luas yang memang digelar sebagai kecintaan umat keapada nabi Muhammad.

Selama ini, teks Barzanji, Burdah ataupun Diba’ mungkin tidak asing lagi bagi kita umat Islam. Bagaimanapun, ketiganya juga bagian dari tradisi bacaan yang selalu dibaca oleh sebagian umat Islam baik sebagai kajian rutin maupun untuk menyambut kelahiran anak. Namun, ada satu karya yang juga menjadi tradisi bagi masyarakat Arab Ampel Surabaya yang hampir tidak pernah kita dengar, yaitu pembacaan teks “Takhmish al-Qawafi”. Tradisi pembacaan “Takhmish al-Qawafi” ini biasa dilakukan pada malam-malam  ganjil pada bulan Ramadan.

Sama halnya dengan Barzanji atau Diba’, teks “Takhmish al-Qawafi” juga syair indah yang berisi tentang peringatan akan duniawi. Teks “Takhmish al-Qawafi” ini ditulis oleh beberapa penulis diantaranya adalah adalah syaikh bin Ali bin Sa’id bin Abdur Bamazru’ dan Sayid Akhmad bin Hasan bin Muhammad Ba’Aqil Alawi, namun tidak diketahui siapa penulis sebenarnya. Dari hasil wawancara dengan beberapa komunitas Arab Ampel Surabaya, dikatakan bahwa penulisnya berasal dari Hadramaut, namun sampai sekarang belum diketahui dari mana teks ini sebenarnya berasal. Hal ini tidaklah mngherankan karena sebagian besar karya sastra lama tidak mempunyai nama pengarang (anonim). Yang ada hanyalah teks yang disalin dengan berbagai perubahan dalam berbagai versinya. Versi ini bisa terwujud baik dalam bentuk terjemahan, salinan, saduran, ringkasan, dan lainnya.

Baca juga:  Tradisi Dugderan di Semarang, Penanda Hari Raya Telah Tiba

Teks berikut merupakan dua teks berbeda dari “Takhmish al-Qawafi” yang disalin pada tahun 1311 dan 1278. Teks tahun 1311 ini adalah teks yang ditulis dengan tangan, sedangkan teks tahun 1278 merupakan teks hasil foto copy. Teks bertulis tangan ditulis dengan tinta berwarna hitam dengan tinta merah dan biru sebagai keterangan. Di dalam kitab ini juga ada watermark dengan tulisan “pordenone”. Jumlah halaman kitab ada 100 tetapi tidak memiliki nomor halaman. Kedua kitab ini tersimpan di masjid Serang yang merupakan salah satu masjid tua di wilayah Ampel Surabaya. Jumlah Adapun teks berbentuk syair multazim mukhammas dengan bahahar wafir. Adapun qafiyah dalam kitab ini dari mulai hamzah sampai dengan lam.

Dalam balutan syair yang indah, kitab ini berisi ajakan untuk selalu memuji Allah dan bershalawat kepada nabi Muhammad, mengingatkan manusia untuk selalu ingat selalu kepada kematian dan selalu berhati-hati akan keduniawian karena pada dasarnya tugas hamba Allah adalah mencari ridho Allah.  Kedua versi teks Takhmis al-Qawafi ini menunjukkan bahwa ada banyak karya-karya lama yang disalin oleh beberapa penulis tanpa merubah teksnya, walaupun ada sedikit perubahan baik penulis sendiri maupun karena korup. Selain keduanya, kemungkinan masih banyak lagi teks  Takhmis al-Qawafi  lainnya yang masih disimpan secara individu

Baca juga:  Gerakan Islam di Tanah Banjar: Tuan Guru, Ulama, Kyai dan Ustaz di Tanah Banjar

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top