Sedang Membaca
Tadarus Puisi: Dakwah Kreatif Anak Muda
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Tadarus Puisi: Dakwah Kreatif Anak Muda

Avatar

Hidup manusia adalah nama yang indah/Dan tak tergantung pada lama tahun yang dilaluinya/Kematiannya adalah kemasyhran yang menyakitkan/Dan ia tak tergantung pada pendeknya hari berjalan/Lantas hidup menjadi namamu yang indah dengan amal yang baik/Hingga di dunia ini keduanya hidup/O kefanaan, kau akan hidup (dari puisi “Hidup dan Mati”, Abu al Atahiyah terj. Abdul Hadi WM)

Setiap orang memiliki perjalanan spiritualitasnya sendiri. Begitu pun Abu al Atahiyah, seorang penyair zuhud sezaman dengan Abu Nawas.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ia terkenal akan kezuhudannya. Melalui syair-syairnya ia banyak memberikan peringatan-peringatan yang jujur kepada penguasa waktu itu, Khalifah Harun Ar Rasyid. Selain syair-syairnya, yang juga menarik dari sosok Abu al Atahiyah adalah perjalanan hidup dan spiritualitasnya.

Sosok yang lahir dari keluarga miskin, dengan kepandaiannya merangkai syair indah maupun kritis dan nasihat untuk penguasa. Meskipun semua itu membawanya pada kehidupan yang mewah dan glamor, namun pada akhirnya ia kembali melepas semua kemewahan dan kebanggaan dan menjadi seorang zuhud.

Baru-baru ini, sejumlah orang seakan telah mempertontonkan bukti kesalihannya. Mereka menebar teror dengan mengorbankan diri, keluarga, dan orang lain demi surga menurut keyakinannya.

Bagi mereka, para teroris, kematian adalah jalan menuju surga, bukan jalan menuju Tuhan, sang pemilik surga.

Baca juga:  Kisah Lebaran dan Keindonesiaan dalam Puisi

Membandingkan perjalanan spritualitas Abu al Atahiyah dengan para teroris, memang sangatlah tak sepadan. Namun satu hal yang juga penting adalah bagaimana keduanya sama-sama berjalan menuju sebagai insan kamil atau manusia yang paripurna.

Dalam teori Ibnu Arabi, manusia yang telah menjadi insan kamil menjalani tiga tahap, yaitu takhalli atau sikap/tindak pembersihan diri; lalu tahalli, yaitu pengisian diri dengan hal-hal terpuji, serta “tajalli”, yaitu menghias diri lebih dari ibadah.

Dakwah Kreatif

Perjalanan spiritualitas seorang insan kamil juga tergambar dalam sebuah pementasan Tadarus Puisi bertema “Penghujung Kau dan Aku”. Mungkin mereka yang menyaksikan pertunjukan itu belum semua mengenal Abu al Atahiyah dan puisi-puisinya.

Namun akan dengan mudah memahami makna di balik setiap baitnya. Pentas yang digelar pasca aksi sejumlah terorisme di Indonesia, membuat pemahaman penonton, termasuk saya sendiri akan mudah terhubung dengan sekian peristiwa tersebut. Apalagi didukung dengan tokoh-tokoh yang kuat, tarian ilahiyat, serta sejumlah instrumen lainnya.

Pemilihan puisi yang berjudul “Garis Hidup” dan “Hidup dan Mati”, juga dipilih untuk menjawab tentang kehidupan manusia yang kadang terjebak pada fanatisme. Terutama fanatisme terhadap keyakinan partikularis atau berbedaan masing-masing baik agama maupun golongannya.

Sementara insan kamil mampu melihat dan memberikan suatu pandangan, yaitu mengenai pertautan univesral dari sekian perbedaan atau keragaman identitas dan kebenaran.

Baca juga:  Ihwal Nazam al-Syathibiyyah (Buat Para Penghafal Alquran)

“Penghujung Kau dan Aku” merupakan judul pementasan tadarus puisi Teater Eska UIN Sunan Kalijaga. Pementasan bertema Kasyf ini disutradarai oleh Habiburrahman dan dibantu oleh Abdul Ghofur, bercerita tentang perjalanan seorang insan kamil atau manusia sempurna menuju tuhannya.

Naskah yang digunakan yaitu hasil adaptasi dari puisi-puisi Abu al Attahiyat dengan menggunakan pemikiran Ibnu Arabi. Di tadarus puisi ini menjelaskan seperti apa seseorang yang tersingkap tabirnya, dari hal-hal tercela dan bagaimana tahap-tahap menjadi seorang insan kamil.

Ibnu Arabi adalah seorang sufi terkemuka dan bahkan terbesar sepanjang jaman yang pernah muncul dalam dunia Islam. Pemikiran mistiknya amat kaya yang dia tuangkan dalam karya-karyanya. Salah satu falsafah mistik Ibnu Arabi yang memperoleh perhatian besar dan menjadi kajian secara mendalam oleh para pemerhati adalah tentang “Wahdat al Wujud”, kesatuan wujud.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tadarus puisi adalah pertunjukan teater dengan mengambil puisi sebagai bahan pokok yang diadaptasi menjadi naskah pementasan. Tadarus puisi menjadi kegiatan rutin tahunan dengan tujuan untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan dan salah satu cara dalam mengapresiasi karya sastra berupa puisi, serta sebagai media refleksi diri, eksplorasi gagasan dan estetika dalam berkesenian.

Setelah sukses dengan pementasan Tiga Bayangan di awal Maret 2018, Teater Eska UIN Sunan Kalijaga siap menggelar pementasan kembali dengan nuansa yang lebih religious, yaitu Tadarus Puisi. Sesuai dengan prinsip yang dimiliki, Teater Eska membawa kesenian sebagai media berdakwah.

Baca juga:  Mbah Moen di Tangan Penyair

Dakwah Teater Eska melalui seni pertunjukkan dikemas secara kreatif dengan memunculkan segenap pertanyaan yang menggelisahkan untuk menjawab berbagai persoalan sosial yang sudah, sedang dan atau kemungkinan yang akan terjadi.

“Penghujung Kau dan Aku” merupakan judul pementasan tadarus puisi Teater Eska UIN Sunan Kalijaga. Pementasan bertema Kasyf ini disutradarai oleh Habiburrahman dan dibantu oleh Abdul Ghofur, bercerita tentang perjalanan seorang insan kamil atau manusia sempurna menuju tuhannya.

Seperti pementasan teater pada umunya, Tadarus Puisi juga dikonsep dengan paduan koreografi, lampu, musik, tata panggung dan unsur lainnya. Walaupun begitu, pementasan yang digelar pada Senin dan Sabtu (21 & 26/05/2018) di UIN Sunan Kalijaga, ini telah memberi atmosfer yang berbeda bagi para penikmat seni, mahasiswa dan masyarakat umum.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top