Sedang Membaca
Memperingati Haul ke-49 K.H. Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas
Zia Al-Ayyubi
Penulis Kolom

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Studi Al-Qur'an Hadis, alumni Pondok Tambakberas dan Pondok Krapyak

Memperingati Haul ke-49 K.H. Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas

Memperingati dan Mengingat kembali Perjuangan Salah Satu Inisiator, Pendiri, Penggerak NU, dan Pencipta Lagu Yalal Wathan.

Berbicara sosok Kyai Wahab Chasbullah, maka yang terlintas pertama dalam benak nahdliyin adalah beliau yang merupakan salah satu pendiri NU bersama dengan Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Kyai yang terlahir di Jombang pada 31 Maret 1888, merupakan sosok penting baik di internal NU, maupun di Indonesia dalam skala yang lebih luas. Selain beliau berjuang mendirikan NU bersama Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau juga memiliki andil dan peranan penting di awal perkembangan NU dan awal kemerdekaan Indonesia.

Terbukti, selain beliau menjabat Rais Am (tahun 1947 hingga 1971) menggantikan kepemimpinan sebelumnya yang dijabat oleh Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau juga menjadi salah seorang yang diminta Ir. Soekarno untuk memberikan fatwa dan nasehat terkait dengan kebijakan-kebijakan politisnya.

Tidak hanya seorang ulama yang ‘alim ushul fiqh, Kyai Wahab juga merupakan pemikir, tokoh pergerakan dan narator ulung di masanya. Salah satu bukti sejarah yang hingga saat ini hampir tidak pernah absen dinyanyikan dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh NU adalah lagu Syubbanul Wathon atau yang dikenal dengan Ya Lal Wathon yang diciptakan oleh Kyai Wahab sendiri.

Baca juga:  Soekarno: Islam Itu Kemajuan

Lagu ini seringkali membuat merinding para nahdliyin ketika melantunkannya bersama-sama, terlebih ketika dilantunkan saat NU menyelenggarakan event besar yang dihadiri puluhan hingga ratusan ribu jama’ah.

Berikut syair lagu yang diciptakan Kyai Wahab:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطَنْ

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon

حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ

Hubbul Wathon minal Iman

وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ

Wala Takun minal Hirman

اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ

Inhadlu Alal Wathon

اِندُونيْسِياَ بِلاَدى

Indonesia Biladi

أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ

Anta ‘Unwanul Fakhoma

كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ

Kullu May Ya’tika Yauma

طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا

Thomihay Yalqo Himama

 

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Hai Bangsaku

Indonesia Negeriku

Engkau Panji Martabatku

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Siapa Datang Mengancammu

Kan Binasa di bawah durimu

 

Menelisik secuil sejarahnya, pada saat itu Kyai Wahab mengharuskan murid-muridnya untuk terlebih dahulu menyanyikan lagunya setiap hendak dimulai kegiatan belajar. Dengan lagu karangannya tersebut, Kyai Wahab mengajarkan kepada kita agar terus mengobarkan semangat nasionalisme.

Pada akhirnya, apa yang diajarkan oleh Kyai Wahab memunculkan benih-benih cinta tanah air agar dapat menjadi energi positif bagi warga nahdliyin khususnya, dan seluruh rakyat Indonesia secara luas. Sehingga perjuangan yang diinisiasi Kyai Wahab ini tidak hanya berhenti sebatas wacana, tetapi aksi nyata dengan pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Baca juga:  Salim Nabhan, Kitab, dan Kertas Eropa

Tepat di umur 83 tahun pada 29 Desember 1971, atau 11 Dzulqa’dah 1391 H, Kyai Wahab dipanggil kehadirat ilahi rabbi. Beliau wafat setelah meninggalkan banyak karya dan perjuangan yang sepatutnya perlu diingat kembali oleh para warga nahdliyin. Kalau kata Ir. Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”

Maka dari itu, bertepatan dengan peringatan haul ke-49 Kyai Wahab ini, seyogyanya kita para nahdliyin yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia agar mengingat kembali sejarah perjuangan terdahulu untuk dijadikan pijakan mengukir sejarah Indonesia di masa depan. Dan tidak lupa untuk mendoakan para masyayikh sebagai bentuk terimakasih atas jasa-jasa yang telah ditorehkannya.

Lahum fatihah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
1
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top