Sedang Membaca
Drama Pindah Ruang Isolasi
Laeliya Almuhsin
Penulis Kolom

Penulis lepas. Alumni Jurusan Biologi UGM. Tinggal di Depok, Jawa Barat

Drama Pindah Ruang Isolasi

Fb Img 1601385055466

Dua hari lalu, saat diberitahu akan dipindah ruang isolasi, aku sedang dilanda kecemasan tinggi dan badan greges-greges.

Aku selama ini sendirian di lantai tiga, akan dipindah ke lantai lima. Aku sempat menolak. Kalau harus pindah, aku maunya ke lantai lebih bawah. Aku perlu matahari. Kalau buka jendela dari lantai lima, melihat ketinggian dalam situasi begini, kecemasanku makin meninggi.

Aku merasa perlu menyelamatkan suasana batinku lebih dulu daripada sakit fisik karena Covid-19. Kalau cemas naik, imun justru bisa menurun. Sedangkan untuk melawan virus korona ini perlu imunitas tinggi.

Tapi menurut manajemen RS, semua pasien Covid-19 akan dipindah ke lantai lima. Tidak ada yang lantai bawah. Namanya lagi cemas tinggi, aku sempat bilang, kalau nanti aku takut di lantai lima, aku akan pindah RS.

Dokter memberiku obat penenang untuk menurunkan kecemasan. Obat psikotropika jenis Clobazam. Belum kuminum karena saat baca efek sampingnya, bisa memicu ide bunuh diri. Selain itu jika berhenti mendadak minum ini bisa timbul gejala halusinasi dan gelisah. Mending menenangkan diri dengan cara lain, bukan dengan obat. Bisa meditasi, zikir, dan makan cokelat banyak.

Aku juga sempat gak mau ganti meja soalnya meja yang kupakai sebelumnya dari berdebu kubersihkan sendiri dengan perjuangan. Tangan diinfus, geser tiang infus sana sini. Petugas sempat bilang, di kamar atas mejanya nanti bersih. Tapi, aku tetap gak mau. Aku cemas. Jadi mejanya, oleh petugas dibawa ke lantai atas.

Baca juga:  Pelajaran dari KeruntuhanAl-Muwahidun

Setelah tenang, aku menyadari kalau aku pasien yang rewel. Ternyata di lantai lima lebih nyaman, kamar lebih hangat, dan lebih bersih. Beda dengan sebelumnya, meski luas tapi berdebu di sana sini. Sampai bolak balik aku bersih-bersih sendiri.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mengingat kamar sebelumnya berdebu, aku bahkan sudah beli alat pel baru beserta cairan pembersihnya. Belum sempat dipakai karena tangan masih diinfus dan ternyata saat badan sedang melawan virus tidak boleh aktivitas berat. Aku juga telanjur beli ember baru dan teko pemanas air baru buat membersihkan badan bila kedinginan. Karena di ruang sebelumnya, kamar mandinya tak ada air panas. Sedangkan aku sering kedinginan dan badan terasa gak karuan. Di kamar baru kini ada air hangat di toilet. Jadi ember dan teko pemanas air kini nganggur.

Selain itu, di ruangan baru, aku sekamar berdua dengan pasien Covid-19 lainnya. Aku kini merasa ada kehidupan dan setidaknya saat mau tidur tidak begitu gelisah. Ada teman di sebelah.

Tapi kata teman sekamar, aku tidur kadang mengigau suara macam orang sakit menggigil. Memang menggigil kedinginan. Tidur berjaket, berselimut, dan tetap pakai masker medis. Dua puluh empat jam pakai masker karena bersama pasien Covid-19 lain.

Baca juga:  Kisah Ulama Khatamkan Alquran Berkali-kali Selama Ramadan

Teman sebelah juga pindahan dari lantai tiga. Dia sempat sesak napas parah tapi menolak pakai ventilator karena melihat instalasi di kamarnya berdebu dan ada kecoa lewat. Dia merasa parunya akan makin kotor kalau pakai ventilator. Pasien lain yang sekamar dengannya mau pakai ventilator karena sudah sangat tak kuat. Tapi dia ngamuk saat kedinginan karena AC tetap nyala. Tiap pasien ada saja dramanya. Salut sama petugas kesehatan yang bersabar menghadapi kami. 🙏

Dari cerita teman sebelah, saat pindahan massal, semua pasien Covid-19 bawa barang masing-masing dibantu petugas berpakaian APD lengkap. Petugas biasa yang lain menyingkir semua. Saat itu semua pasien sudah pindah, kecuali aku yang belum mau, jadi tak lihat mereka ramai pindahan. Petugas sabar membujuk dan membantu gotong barangku. Sedangkan aku membawa cairan infus, sampai hari ini pun masih diinfus.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top