Pendaftaran Workshop Menulis

Inilah Kehidupan Imam al-Ghazali yang Tak Banyak Diketahui

Kholili Kholil

Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Putra pemintal kain ini adalah tokoh Islam pasca Nabi yang paling sering dibicarakan kalangan terdidik.

Pemikirannya dalam fikih, tak terhitung jumlahnya. Dalam usul fikih, begitu luar biasa nalarnya. Dalam tasawuf, begitu brilian narasi dan idenya. Dalam kalam, argumentasi dan diksinya begitu sangat kuat. Semua itu telah masyhur, dari generasi ke generasi, dari masa ke masa, nama sang hujjatul islam tak pernah hilang dari peredaran. Uniknya, banyak juga dari kehidupan beliau yang seakan-akan ditelah bumi. Apa itu?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

kehidupan pribadinya. Padahal ini penting untuk membincangkan environtment yang membentuk kepribadiannya.

Pernah Dibegal

Al-Ghazali, menurut penulis pribadi atas telaah terhadap buku-bukunya, adalah orang yang sangat kuat ingatannya. Namun karena di pertengahan karirnya ia tak menekuni hadis secara serius, ingatan yang kuat ini tak terlalu terlihat secara jelas dalam karya-karyanya.

Bukti kuatnya ingatan al-Ghazali adalah banyaknya hadis “tidak jelas” yang ditulis dalam Ihya’ Ulumiddin. Menurut penulis, ini adalah bukti bahwa ingatannya kuat. Karena ia tidak mungkin mengarang hadis ini. Ia juga tidak merujuk sebuah kitab. Mengapa?

Karena kalau merujuk kitab, maka hadis itu pasti tak akan dihukumi “tidak jelas” atau lam ajid lahu ashlan. Maka al-Ghazali pasti pernah mendengar hadis-hadis ini di masa lalunya. Dan ingatan itu bertahan hingga ia menulis Ihya’.

Mengenai kuatnya ingatan ini, al-Ghazali menuturkan bahwa ia dulu pernah dibegal. Tak hanya harta, kitabnya pun ikut dibawa. Akhirnya saat ia mengejar begal itu untuk mengambil kitabnya. Namun begal itu tertawa dan mengejek ingatan al-Ghazali lemah. Sejak itu ia mengasah ingatannya dengan menghafal catatan-catatan penting.

Tak punya anak laki-laki

Baca juga:  KH. Muhammad Tholhah Hasan, Kiai Produktif dari Malang

Meskipun saya lupa membaca referensi shorih-nya di mana, namun saya insya Allah bisa memastikan bahwa ia tak punya anak lelaki. Saya cari lagi di beberapa referensi induk biografinya, namun tak ketemu. Yang jelas dulu saat membaca biografinya, saya ingat betul ada satu kutipan mengenai alasan ia dipanggil “Abu Hamid”. Beberapa sejarawan mengatakan al-Ghazali tafa’ul (meniru untuk mengharap berkah) kepada guru-gurunya yang memiliki julukan sama, namun beberapa yang lain mengatakan bahwa ia pernah punya satu anak lelaki tunggal yang ia beri nama Hamid. Namun sayang, sang anak mendahuluinya menghadap Pencipta.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Namun ada satu fragmen dalam Munqidz min Adh-Dhalal: “Saat aku (al-Ghazali) berada di Hijaz, tiba-tiba ada keinginan untuk pulang—selain juga karena ada permintaan dari anak-anakku (athfal).” 

Pernah Bertapa

Pasca cuti dari kegiatan mengajar di Madrasah Nizhamiyah, Ghazali pergi sembunyi-sembunyi meninggalkan Bagdad untuk berhaji. Namun ia sempat berkeliling Syam—dan juga disebut-sebut pernah ke Mesir. Namun di masa itu ia lebih banyak menghabiskan waktunya bertapa di menara Masjid Umawi Damaskus. Di sana ia mengunci pintu dan bertapa selama beberapa tahun. Ia masuk Damaskus dengan cara menyamar sebagai orang miskin.

Ia takut dikenal masyarakat sehingga agendanya untuk mengasingkan diri bisa-bisa gagal. Maka ia pun tak memberitahu kepada siapa pun tentang dirinya. Bahkan saat di Damaskus ia pernah masuk salah satu kelas ilmiah. Di sana ia mendengar sang pengajar berkata: “Imam al-Ghazali berkata…” Mendengar ucapan ini al-Ghazali pergi dan tak pernah masuk ke kelas itu lagi.

Multilingual

Baca juga:  Status Facebook Pertama Ayahku

Di masa al-Ghazali, kebudayaan Arab dan Persia melebur menjadi satu. Peleburan ini bahkan sempat menjadi pergesekan dengan adanya gerakan ilmiah yang disebut syu’ubiyyah, yaitu gerakan anti Arab yang dipelopori muslim Persia. Singkat kata, di masa itu lingua franca tak hanya bahasa Arab, melainkan juga bahasa Persia.

Sebagai orang berpendidikan, al-Ghazali tak mencukupkan diri dengan bahasa Arab. Melainkan ia juga fasih berbahasa Persia. Bahkan ia mengarang sebuah buku berbahasa Persia berjudul, At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk. Buku ini ia karang khusus untuk Sultan Muhammad b. Maliksyah dari Dinasti Seljuk. Selang beberapa tahun, salah satu muridnya yang bernama Shafiyuddin ‘Ali b. Mubarak menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain Persia, ada dugaan kuat al-Ghazali mengerti bahasa Ibrani. Hal ini bisa dibuktikan dalam buku Ar-Raddul Jamil, sebuah buku kristologi. Dalam buku ini, al-Ghazali banyak menuliskan transliterasi bahasa Ibrani dengan bahasa Arab. Salah satunya ketika ia menafsiri Surat Taha ayat 22.

Perang Salib

Tak begitu banyak yang tahu bahwa al-Ghazali semasa dengan Perang Salib. Bahkan ketika Perang Salib dideklarasikan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095, al-Ghazali ketika itu sedang bertapa di salah satu sudut Masjid Aqsa di Yerusalem. 

Namun anehnya, tak ada satu karya al-Ghazali pun yang membahas tentang Perang Salib atau bahkan menyinggungnya. Hal ini cukup membuat para sejarawan bertanya-tanya. Padahal banyak di antara ulama masa itu yang menyinggung Perang Salib. Namun anehnya, al-Ghazali diam seribu bahasa.

Demikianlah beberapa fragmen tentang kehidupan al-Ghazali yang tak banyak diketahui—lagi-lagi, setidaknya menurut saya.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top