Sedang Membaca
Jika Mata Pelajaran Sejarah Dihilangkan, Apa Kata Dunia?

Penulis alumni sejarah peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pemerhati sejarah Islam di Cahaya Nusantara Institute

Jika Mata Pelajaran Sejarah Dihilangkan, Apa Kata Dunia?

Mata pelajaran sejarah beberapa waktu lalu sempat menjadi diskursus di kalangan para guru pengajar mata pelajaran sejarah di tingkat SMA sederajat. Ini dikarenakan rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang akan menghapus pelajaran sejarah dari kurikulum. Pelajaran sejarah tidak lagi menjadi pelajaran pokok dan wajib. Sebaliknya menjadi pelajaran pilihan ketika duduk di kelas XII.

Sementara, pelajaran sejarah di tingkat SMP/MTs sederajat dan SD/MI sederajat sudah lama dihapus dari kurikulum. Pelajaran sejarah di tingkat SMP menyatu kedalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Sementara, untuk tingkat SD, pelajaran sejarah justru semakin memprihatinkan lantaran benar-benar tidak ada. Padahal, untuk tingkat SD ini biasanya ada materi-materi pelajaran sejarah yang menyebutkan nama-nama tokoh pahlawan. Namun sekarang justru itu sudah lama tidak ada.

Bila di tingkat SD dan SMP saja tidak ada kurikulum pelajaran sejarah, lalu bagaimana kita dapat mengukur kemampuan pengetahuan kesejarahan guru tersebut. Padahal posisi dan peran seorang guru untuk tingkat SD dan SMP sangatlah penting. Jika di tingkat SD dan SMP sederajat tidak ada guru untuk pelajaran sejarah, maka cukup relevan bila ternyata di sejumlah sekolah guru tidak mempunyai pengetahuan sejarah yang mumpuni.

Pengalaman penulis—sebagai contoh—ada dua sekolah untuk tingkat SD sepertinya tidak ada yang mempunyai pengetahuan sejarah sama sekali. Salah satu SD di Kota Serang, Provinsi Banten ditemukan menggunakan nama perpustakaan sekolahnya dengan nama Perpustakaan Nyi Ageng Serang. Sebagaimana yang kita ketahui, nama Nyi Ageng Serang bukanlah nama pahlawan yang berasal dari Kota Serang, Provinsi Banten. Nyi Ageng Serang adalah nama pahlawan yang lahir di Purwodadi, Jawa Tengah. Nyi Ageng Serang dimakamkan di Kali Bawang, Jawa Tengah. Lahir tahun 1752 dan wafat tahun 1838. (tribunnews.com).

Baca juga:  Islam tanpa Indonesia

Sementara, jika yang dimaksud pihak sekolah Nyi Ageng Serang adalah pahlawan atau pejuang dari Kota Serang, mungkin yang dimaksud adalah Nyi Mas Serang. Namun sayang, terkait nama ini, sampai sekarang belum ditemukan sebuah karya yang ditulis siapa sebenarnya Nyi Mas Serang ini. Berdasarkan cerita yang beredar, Nyi Mas Serang adalah nama lain dari seorang istri raja sebelum adanya Kesultanan Banten.

Hal serupa juga ditemukan di salah satu SD di Kota Cilegon, Provinsi Banten. Di sekolah tersebut memajang foto atau poster salah seorang pahlawan yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa. Namun penulis kaget, karena yang dimaksud sebagai Sultan Ageng Tirtayasa justru adalah foto Sultan Agung Mataram. Sampai disini, apakah pemerintah masih mau  menganaktirikan pelajaran sejarah? Atau membiarkannya begitu saja. Jika gurunya saja tidak tahu tentang sejarah, bagaimana dengan anak didiknya nanti?

Perhatian Khusus

Dengan adanya kasus ini, maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk SD,SMP, dan SMA/SMK sederajat dan Kementerian Agama (Kemenag) untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI), MTs, dan MA sederajat sudah seharusnya memberikan perhatian khusus agar hal itu tidak lagi terjadi. Itu baru sebatas contoh. Bagaimana jika kasus yang sama ternyata ditemukan di seluruh sekolah di Indonesia?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Islamisasi Priayi atau Priayisasi Islam?

Pemerintah, mulai dari pusat, provinsi, dan daerah (kabupaten/kota) sudah seharusnya memberikan perhatian khusus terkait hal ini. Jika hal ini dibiarkan begitu saja, penulis khawatir akan menjadi preseden buruk jika diketahui oleh publik internasional. Mau ditaruh dimana wajah kita dalam pergaulan global?

Oleh sebab itu, sudah seharusnya pemerintah kembali menata ulang dan mendesain kurikulum sekolah dengan melibatkan dan memasukan kembali pelajaran sejarah ini kedalamnya. Ini perlu dilakukan, supaya kasus-kasus serupa ke depan tidak ditemukan lagi. Terkait metode dan teknisnya, hal itu bisa dilakukan sambil jalan.

Menurut sejarawan muslim Azyumardi Azra, sejarah memiliki manfaat yang sangat penting, karena sejarah bisa  menjelaskan asal-usul terjadinya suatu peristiwa. Tentunya, setiap kejadian sosial-politik tidak ada yang berdiri sendiri, melainkan selalu terikat dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dan kawasan lainnya.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top