Sedang Membaca
Keabadian Ilmu Orang Bertakwa: Belajar dari Kisah Al-Ghazali
Hafis Azhari
Penulis Kolom

Pengarang novel "Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten"

Keabadian Ilmu Orang Bertakwa: Belajar dari Kisah Al-Ghazali

“Bertaqwalah kepada Allah Ta’ala, hingga Dia mengajarimu ilmu, sungguh Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)

Takwa bukanlah seremonial ibadah yang tak memiliki makna esensial. Ia berkaitan dengan sikap, perilaku dan karakteristik manusia. Tidak cukup dengan kecerdasan untuk menjadi manusia bertakwa, juga tidak cukup menjadi ahli ibadah semata. Frase “takwa” juga dipakai oleh para bapak bangsa untuk merumuskan naskah undang-undang dasar negara hingga dasa darma Pramuka kita. Figur dari salah satu sahabat Nabi yang mencerminkan kualitas ketakwaan, dan tersirat dalam karya masterpiece-nya (Nahjul Balaghah) adalah Saydina Ali bin Abi Thalib. Itulah yang membuatnya dijuluki sebagai pemegang kuncinya ilmu pengetahuan, di antara para sahabat Nabi.

Totalitas mengguratkan pena dan menuangkan ilmu, akan sulit ditempuh orang yang kualitas ketakwaannya rendah. Betapa dahsyatnya samudera ilmu dan hikmah yang bisa diraih seseorang bila otak dan pikirannya dibimbing dengan ketakwaan. Entahlah, bagaimanakah proses dan caranya, hingga Allah Yang Maha Tinggi ilmu-Nya, berkuasa menyibak pikiran orang bertakwa, sampai kemudian memiliki perbendaharaan kata dan kalimat seluas lautan dan samudera lepas.

Allah berkuasa mengajari siapapun yang dikehendaki-Nya. Ia berkuasa mutlak untuk menerapkan ilmu-Nya, serta menyusupkannya ke dalam pikiran hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Terkait dengan ini, Imam al-Ghazali pernah mengakui: “Semula saya mengembara dan mencari ilmu bukan karena Allah Ta’ala, namun sifat seorang pencari ilmu akan selalu menolak kecuali jika ditujukan kepada Allah Ta’ala.”

Suatu malam, Imam Ghazali pernah bermimpi, bahwa Allah menanyakan dirinya tentang apakah amalan yang paling utama, hingga Allah menggolongkannya ke dalam barisan orang-orang yang masuk surga. Dengan penuh percaya diri, Imam Ghazali menjawab, “Mungkin karena buku-buku saya yang dibaca banyak orang, ya Allah.”

“Bukan itu yang membuatmu tergolong ahli surga, wahai Ghazali.”

Sang imam, ulama dan penulis produktif itu tersentak kaget. Seketika ia terperangah menunggu jawaban, lalu Allah pun berkata, “Pada suatu hari, seekor lalat terbang menempuh perjalanan jauh untuk mencari air karena kehausan. Lalat itu nyaris mati karena kemarau dan ketiadaan air. Tiba-tiba, dia nenemukan cairan tinta lalu hinggap dan menempel di ujung penamu. Saat itu, kamu mengurungkan tulisan sambil menunggu lalat itu menenggak cairan dari tintamu. Itulah yang membuat kamu masuk surga.”

Baca juga:  Pemetik Puisi (25): Yudhistira ANM Massardi, Ya Allah, Orde Baru

Tergantung pada versi mana kisah tentang mimpi Imam Ghazali berjumpa dengan Allah, hal tersebut bukanlah hal prinsipil untuk diperdebatkan. Namun yang jelas, esensi dari kisah tersebut menunjukkan kualitas ketakwaan Imam Ghazali, hingga ia termasuk ulama dan cendekiawan muslim produktif sebagaiamana Imam Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Arabi, Fariduddin Attar hingga Jalaluddin Rumi.

Beberapa abad sebelum mereka hidup, di zaman sahabat Nabi kita mengenal kualitas ketakwaan Ibnu Mas’ud, Hasan al-Bashri, hingga Ibnu Abbas yang dijuluki “bapak tafsir” yang memiliki kadahsyatan ilmu karena kualitas ketakwaannya. Hasan al-Bashri yang dikenal maestro sufi generasi pertama, dulunya hanya seorang anak budak yang mengabdi kepada Ummu Salamah (istri Rasulullah). Sewaktu masih bayi, dan ibunya sedang sibuk bekerja, Ummu Salamah sebagai majikan mengangkat bayi al-Bashri, serta rela menyusui anak dari budaknya itu.

Bahkan, Abu Hurairah juga pada mulanya bukanlah tergolong sahabat yang jenius, dan ia pernah mengeluh sebagai “pelupa” kepada Rasulullah. Lalu, Rasulullah membentangkan sorbannya seraya mengibas-ngibaskannya sebanyak tiga kali ke dada Abu Hurairah, kemudian mendoakannya. Sejak saat itu, ketajaman memorinya sangat diandalkan, dan dia pun tergolong sahabat yang paling banyak dalam meriwayatkan hadis-hadis Nabi.

Semakin orang bertakwa, akan semakin diluaskan segala petunjuk dan hidayahnya. Namun, seringkali kita hanya mengartikan ”taqwa” dengan mengamalkan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Nyaris tak ada inovasi dan elaborasi yang lebih cerdas dan aktual dalam konteks milenial saat ini. Padahal, kata “taqwa” tak punya padanan kata yang serempak dipakai oleh orang Indonesia, meski orang Jawa sering memakai kata “eling”, yang berarti hati-hati atau mawas diri.

Para bapak bangsa juga tetap mengacu dari bahasa Arab dengan hanya mengubah huruf Q dengan K, meskipun takwa tak bisa menjadi monopoli orang Arab atau Islam saja. Dalam surah al-Hujurat, perintah takwa ditekankan bagi seluruh manusia (ya ayyuhannas). Apapun suku-bangsa-agamanya, yang termulia di antara kalian adalah orang yang terbaik kualitas ketakwaannya.

Baca juga:  Tentang "Kerata Basa": setelah "Pasa" lalu "Bada" dan "Kupatan"

Sehebat apapun orang Islam menjalankan syariat agamanya, jika kualitas ketakwaannya rendah, dia hanya akan mempermalukan dirinya, keluarganya, bahkan mempermalukan Rasulullah sebagai pembawa risalah Islam itu sendiri. Maka, berhati-hatilah sebagai umat Muhammad sebagai nabi akhir zaman, jika Anda memperjual-belikan agama demi untuk kepentingan duniawi, maka Anda tergolong manusia tak bertakwa di mata Tuhan. Karena dalam kualitas ketakwaan, lebih baik orang yang mencari dunia, namun diperuntukkan bagi kemaslahan hidup akhirat nanti.

Dalam terminologi takwa, tak bisa dibenarkan jika ada kolega Presiden Jokowi di barisan elit penguasa menyatakan, bahwa dirinya merasa “dendam” pada kemiskinan lantaran dulunya hidup susah dan melarat. Lalu, dia tampil di singgasana dengan sibuk menumpuk harta kekayaan, yang dikira akan melanggengkan dan melestarikan kursi kekuasaannya.

Di sisi lain, kenapa jalan ketakwaan diidentikkan dengan kecerdasan manusia? Hal tersebut dikarenakan Allah sudah menjanjikan (Muhammad: 17), bahwa orang yang sudah dibekali hidayah dan petunjuk, maka akan ditambah terus hidayah baginya, sampai kemudian dimantapkan kualitas ketakwaannya. Demikian halnya jika seseorang bersandar pada Alquran dan sunah Rasul, yang dijamin keridhoa-Nya, hingga Allah dapat mengeluarkannya dari jalan-jalan gelap, serta membimbingnya menuju jalan terang dan menerangkan. (al-Maidah: 16).

Jika sudah dibimbing Allah di jalan “hidayah” maka pengajaran dan pendidikan akan diperoleh langsung dari sisi-Nya, sebagai impact dari ketakwaannya. Tak ada kendala yang merepotkan otak dan memori dalam memahami segala sesuatu. Karena hakikatnya, ada kekuatan absolut Yang Maha Cerdas, yang memberinya daya ingat, pemahaman, rujukan yang valid, hingga “sesuatu” yang berasal dari kemarin boleh jadi lebih aktual ketimbang yang diperoleh saat ini.

Untuk itu, bagi orang bertakwa dan mengasah terus kualitas ketakwaannya, tak perlu ada kekhawatiran maupun skeptis, karena bimbingan dan pengajaran Allah itu akan sulit diukur dari kacamata rasional tulen yang serba sangat terbatas.

Baca juga:  Marx, Marxisme, dan Islam: Tanggapan terhadap Ali Makhrus

Bahkan, ketika Anda menjumpai tulisan saya ini, lalu membacanya dan memahami makna yang terkandung di dalamnya, Insya Allah tak lepas dari bimbingan dan karunia Allah, kecuali jika pikiran Anda tertutup kabut-kabut dosa (hedonism) yang membuat keimanan dan ketakwaan sedemikian kerdilnya.

Allah senantiasa akan membimbing kepada hikmah-Nya, tak peduli apakah seorang hamba menguasai bahasa Arab atau tidak. Bahkan, boleh jadi terbilang awam dalam memahami ilmu nahwu, sharaf, tajwid, mantiq maupun balaghah. Namun, ketika dia hanya membaca terjemahan Fathul Bari atau Syarah Nasha’ihul Ibad, tahu-tahu dapat berkomentar secara filosofis, dalam membahas ahli ibadah yang berubah jadi monster (laiknya Syekh Barsisa), atau seorang ahli ilmu yang berubah jadi robot maupun Frankenstein yang merusak nilai-nilai peradaban dan kemanusiaan.

Jadi, belum tentu seorang ulama dan kiai pesantren memahami secara mendalam tafsir Al-Bayan karya Imam Thabari maupun Fathul Bari karya Ibnu Hajar Asqalani, namun orang biasa yang dibimbing Allah, niscaya fasih mengungkap secara gamlang segala rahasia ilmu, biarpun tak terlampau menguasai atsar dan maqalah yang teramat njelimet dan membingungkan generasi milenial saat ini.

Kadang kita sendiri merasa telah menguasai berbagai khazanah, fasih mengungkap dalil-dalil fiqih, namun sejatinya belum tentu kita sanggup menangkap banyaknya pesan religius yang tertuang dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Untuk itu, sebaik-baiknya orang bertakwa selayaknya bersikap rendah-hati di hadapan makhluk serta rendah-diri di hadapan Allah. Bahwa kita tak kuasa memiliki segala perbendaharaan dan khazanah keilmuan yang maha luas dan tak terbatas.

Sedalam apapun kita mengkaji, dan selama apapun kita menuntut ilmu, pada akhirnya kita membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Sang Maha Cerdas dan Maha Berilmu, bahwa hakikatnya kita semua hanyalah setetes air di tengah samudera ilmu yang tak bertepi. (*)

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
3
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top