Sedang Membaca
Interkoneksitas Asia dan Diaspora Arab di Tiongkok Era Mao
Penulis Kolom

Mahasiswa Antropologi UI. Tulisan-tulisannya juga bisa diakses di berdikaribook.red, bukuprogresif.com, islami.co, kurungbuka.com, dan detik.com.

Interkoneksitas Asia dan Diaspora Arab di Tiongkok Era Mao

Hubungan Arab Dan Tiongkok

Asia Timur, sebagai suatu regional, kerap disederhanakan dalam batasan-batasan yang rigid yang kerap mengacu pada batasan negara. Dalam pemetaan, kawasan Asia Timur terdiri dari berbagai negara seperti Tiongkok, Taiwan, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Mongolia, dan Hong Kong. Sebagai suatu regional, Asia Timur dianggap terpisah dengan regional lainnya di sekitarnya seperti misalnya Asia Tenggara. Namun ada berbagai realita yang tidak bisa ditangkap dalam lensa kajian regional ini dalam memandang manusia dan kebudayaan di Asia Timur. Fenomena-fenomena itu menunjukkan suatu yang disebut interkoneksitas.

Fenomena interkoneksitas sebagai suatu gejala spasial yang menunjukkan keterhubungan antara berbagai tempat dengan tempat lainnya tidak berdiri sendiri. Gejala spasial ini berjalan beriringan dengan gejala temporal. Suatu temporalitas yang mencakup sejarah dari suatu tempat yang berhubungan dengan sejarah tempat lainnya. Dalam sejarah, suatu ruang tidak lagi dianggap statis tetapi mengalami dinamika termasuk hubungan dengan ruang lainnya. Proses dinamika ini disebut sebagai suatu “spatial moments”.

Spatial moments”, menurut Siu, Tagliacozzo, dan Perdue dalam Asia Inside Out: Connected Places, dapat berguna untuk mendefinisikan Asia secara luas untuk analisis dinamika ruang dan waktu baik material maupun diskursif (2013: 25). Analisis berdasarkan spatial moments ini dapat menggarisbawahi pengertian akan tempat secara multi-dimensional sebagai hasil dari sejarah lokal, praktik dan imajinasi, dan teritori, skala, dan jaringan hubungan dengan dunia yang lebih luas, seperti diungkapkan oleh van Schendel dalam Spatial Moments: Chittagong in Four Scenes (2013: 117).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Corona, Sastra, dan Kutukan Tuhan?

Dalam konteks Asia Timur, wilayah di Asia Timur dilihat tidak hanya sebagai suatu teritori tetapi suatu tempat yang dibentuk oleh sejarah dan diskursus, suatu proses place-making. Dengan memandang Asia Timur tidak lagi sebatas suatu regional dengan batas-batas rigid dapat membantu melihat manusia dan kebudayaan di dalamnya berada dalam konteks yang lebih luas dan mampu menangkap kompleksitasnya.

Salah satu kasus di Asia Timur yang menunjukkan betapa terbatasnya Asia Timur sebagai regional adalah diaspora Arab di Tiongkok era Mao. Alsudairi dalam Arab Encounters with Maoist China: Transnational Journeys, Diasporic Lives, and Intellectual Discourses (2020) menjelaskan mengenai fenomena ini. Diaspora ini muncul karena upaya pemerintahan Tiongkok untuk menciptakan relasi dengan negara-negara Arab di Asia Barat. Dari sini sudah dapat terlihat bahwa pergerakan manusia melampaui batasan regional dan butuh suatu lensa khusus untuk dapat menangkap kompleksitasnya.

Sejarah membentuk suatu Tiongkok era Mao sebagai negara yang berupaya membuka hubungan dengan dunia Arab. Dinamika ini juga tidak terlepas dari suatu fenomena yang terjadi jauh dari Asia Timur. Peristiwa tersebut adalah Konferensi Bandung 1955 yang meningkatkan pentingnya dunia Arab untuk kebijakan luar negeri Tiongkok dan akhirnya mendorong kebutuhan penguasaan bahasa Arab untuk kepentingan hubungan luar negeri dan propaganda (Alsudairi, 2020).

Baca juga:  Nahdlatul Ulama: Pembaruan Tanpa Mengancaikan Tradisi

Citra Tiongkok di mata luar negeri, termasuk negara-negara Arab, dibentuk oleh para pendatang dari Arab ini yang terbagi menjadi dua kelompok yakni pendatang jangka pendek dan pendatang jangka panjang. Pendatang jangka panjang termasuk di dalamnya adalah orang Arab yang direkrut pemerintah Tiongkok sebagai pejabat instrukstur bahasan, penerjemah, maupun editor.

Keterbukaan Tiongkok terhadap Arab ditandai dengan rekrutmen tersebut serta dibukanya program studi dan penerbitan buku tentang bahasa dan kebudayaan Arab di Tiongkok. Baik pendatang jangka pendek dan jangka panjang merupakan objek dari propaganda untuk membentuk citra baik terhadap negara Tiongkok. Bahkan Alsudairi (2020) menyebut bahwa ada romantisasi mengenai Tiongkok oleh pendatang-pendatang ini, misalnya Salamah ‘Ubayd dan Hadi al-‘Alawi. Ide mengenai Tiongkok menghasilkan diskursus yang berseberangan dengan paham Pan-Arabisme. Ini menunjukkan Tiongkok dengan interkoneksitas dan sejarahnya yang terhubung dengan dunia yang lebih luas dari regional Asia Timur.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top