Sedang Membaca
Kurikulum Prototipe dan Kurikulum Bernalar
Joko Priyono
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Kurikulum Prototipe dan Kurikulum Bernalar

7559 Pelajar Sma Di Kota Malang Ikuti Unbk M 202819 640x421

Wacana akan tawaran kurikulum baru yang dicanangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menarik untuk ditelisik. Wacana tersebut berupa Kurikulum Prototipe yang dalam beberapa hari terakhir telah menjadi konsumsi ruang publik. Harian Kompas (27/12/2021) melaporkan bahwa kurikulum tersebut dilandaskan untuk mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi mendasar.

Di wilayah pendidikan, skema tersebut telah diterapkan di beberapa sekoolah yang menjadi bagian sekolah penggerak serta sekolah menengah kejuruan pusat keunggulan mulai tahun 2020. Didasarkan pada proyeksi yang akan dijalankan, keberadaan skema tersebut tak mengikat. Melainkan dari itu, sebagai sebuah pilihan bagi tiap sekolah di seluruh Indonesia. Di sini kita mulai bertanya-tanya, mengapa tidak diserentakkan di seluruh jenjang sekolah.

Barangkali, memang ada hal menjadi landasan. Tak lain kebutuhan dalam upaya menjawab perkembangan dan perubahan zaman. Namun, di lanskap lain agaknya perlu dipikirkan secara serius dalam mempersiapkan skema perencanaan pendidikan untuk benar-benar melatih kesadaran bernalar. Sebab, acapkali, kecenderungan dari kita gandrung pada istilah baru dengan slogan kemjuan, namun luput pada beberapa hal. Terbukti saat kurun waktu dua tahun terakhir, istilah Revolusi Industri Kempat menjadi terminologi penuh bias.

Salah seorang cendekiawan terkemuka, Soedjatmoko menulis sebuah esai dalam bunga rampai Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI (Grasindo, 1991). Ia menyampaikan bahwa abad ke-XXI melahirkan tantangan menguatnya dikotomi antar lintas didiplin ilmu. Ia tekankan dalam sebuah kalimat: “Di dalam dunia modern, celakalah masyarakat yang para pakar sosial budaya dan etikanya buta huruf tentang IPTEK dan para pakar IPTEK buta huruf mengenai masyarakat, masyarakat, dan nilai.”

Baca juga:  Daftar Gerakan Mahasiswa yang Anti dan Pro Gus Dur

Ungkapan tersampaikan sebagai penegasan dan pengesahan bahwa dinamika zaman memerlukan kompromi berbagai lintas disiplin ilmu pengetahuan dalam memijah kebernalaran. Di mana, salah satu jalan itu tak terlepas dari pendidikan. Pendidikan menjadi proses panjang bagi tumbuh dan kembang manusia dalam sebuah bangsa. Ia menyaratkan faktor penunjang, baik itu infrastruktur, tenaga pengajar, hingga metode agar mewujudkan pendidikan sebagaimana menjadi amanah konstitusi.

Transdisiplin Ilmu Pengetahuan

Kecenderungan ditekankan dalam Kurikulum Prototipe berupa penyederhanaan materi pembelajaran, penguasaan literasi, numerasi, dan karakter profil pelajar Pancasila. Kita tafsirkan ada kemungkinan demi kemungkinan muncul. Kemungkinan baik adalah saat di mana dalam realitasnya berjalan baik menjadikan peserta didik mampu mengembangkan imajinasi, berpikir kritis, dan bertindak inovatif. Namun, ada kekhawatiran muncul, saat dimana pola itu justru menjadikan pikiran dikotomis sebagaimana terpikirkan oleh Soedjatmoko.

Maka dari sini, perlu ada penekanan bahwa dengan mengingat, meninjau, dan membaca situasi perubahan zaman, tak bisa pendidikan bagi tiap individu hanya ditopang keahlian yang terspesifikasi. Upaya itu berupa kesadaran transdisiplin ilmu pengetahuan sebagai bagian mewujudkan strategi kebudayaan. Iwan Pranoto (2019) menyebutkan bahwa dengan melakukan lintas disiplin dapat melakukan prakiraan ragam kecakapan dengan kontekstualisasi zaman.

Era disrupsi yang membuat gejala tak ada batas maupun sekat lagi dalam relasi dunia, menjadikan pendidikan terus penting dalam mencetak generasi tangguh, disiplin, dan bertangung jawab bagi bangsa dan negara. Isu-isu sebagai masalah maupun tantangan harapannya dapat dihadapi oleh tiap generasi dengan kesadaran pada pertimbangan beberapa aspek. Seperti halnya peerihal sains dan teknologi tak bisa berdiri sendiri. Ia butuh sokongan aspek sosial hingga kebudayaan. Pun sebaliknya. Semuanya saling bergandeng tangan sebagai maujud kolaborasi.

Baca juga:  Dari Taklid ke Talfiq: Mengupayakan Islam yang Lebih Humanis

Melanjutkan Pencerahan

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di bawah koordinasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada 2016 menyusun buku putih berjudul Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia 2045. Buku tersebut sebagai kajian penting dalam wacana proyeksi perkembangan beberapa aspek dalam dunia pendidikan, sains, dan teknologi menuju peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Hal-ihwal di dalamnya tentu saja sangat perlu dijadikan pijakan untuk membaca situasi dan kondisi bangsa ini.

Setidaknya, ada empat skema mungkin terjadi di masa itu. Masing-masing adalah: Garuda Terbang Tinggi, Alap-Alap Terkurung, Burung Hantu di Siang Hari, dan Bebek Lumpuh. Skema terdasarkan beberapa faktor, baik itu pengajar, budaya inovasi, kapital sosial dan kapital intelektual, infrastruktur, kepemimpinan, bahasa, gizi, hingga perkembangan riset memetakan kemungkinan dari terbaik hingga terburuk. Untuk menyongsong ke sana, butuh kebersamaan dalam berbagi peran dan andil untuk kemajuan Indonesia.

Kita mengidealkan akan cita-cita pada skema terbaik: Garuda Terbang Tinggi. Sekenario itu menyiratkan metafora dari kekuatan dan kebebasan. Kekuatan bangsa dalam memilih momentum yang tepat dalam melakukan tindakan. Kebebasan berupa kemampuan membebaskan diri dari berbagai kendala dalam upaya untuk terus terbang tinggi dan mencapai visi bangsa. Kesadaran ini mengharuskan pada pengejawantahan kemampuan bernalar dan perangai ilmiah sebuah bangsa dalam memahami dan membaca gejala demi gejala.

Baca juga:  Mazhab Fikih: Perebutan Wacana Antara Teks dan Konteks

Keberadaan pendidikan dengan menyaratkan instrumen berupa kurikulum sangat perlu untuk dijelaskan secara gamblang. Tidak boleh mengambang dan mengawang-awang. Kita tak perlu memperdebatkan istilah. Sebab, istilah terkadang hanya menjadi sebuah bahasa penuh klise dan sloganistik. Terpenting dari itu adalah bagaimana pendidikan tidak boleh terasingkan dan terjauhkan dari hakikatnya. Ia menjadi sebuah cara mulia untuk membangun kualitas sumber daya manusia.[]

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top