Sedang Membaca
Idul Fitri, Islam, dan Sains (1): Teknologi, Kemanusiaan, dan Kebudayaan
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Idul Fitri, Islam, dan Sains (1): Teknologi, Kemanusiaan, dan Kebudayaan

Whatsapp Image 2021 05 11 At 10.46.51 Pm

Momentum idul fitri tahun ini adalah kedua kalinya di tengah pandemi Covid-19. Namun, mestinya tetap ada peristiwa sakral tiap umat Islam dalam memaknai hari kemenangan tersebut. Berbagai tradisi dan kebudayaan di tiap daerah menjadi kultur tersendiri dalam menangkap tiap hikmah yang ada. Bahkan, kemudian mafhum di dalam kemajuan zaman umat manusia dihamparkan dengan beragam teknologi berkemajuan. Bagaimanakah sejatinya kita memaknai kehadiran teknologi itu? Rasanya perlu untuk membuka diri untuk merefleksikannya dalam lanskap kemanusiaan dan kebudayaan.

Keberadaan teknologi kalau dipikir-pikir tidak boleh hanya disangsikan sebagai satu hal dengan peran hanya memberikan kemudahan dalam aktivitas manusia. Toh, pada kenyataannya eksistensi keberadaannya juga memberikan banyak tantangan atas beberapa relasi dalam kehidupan. Tantangan sebagaimana penulis ingin kemukakan tidak lain merupakan dampak negatif yang dimunculkan teknologi. Di banyak kasus, itu muncul dikarenakan ada beberapa miskonsepsi yang dilakukan oleh manusia terhadap keberadaan teknologi tersebut.

Teknologi erat kaitannya deangan perkembangan ilmu pengetahuan. Teknologi populer dipahami sebagai sebuah alat (tools). Namun, sejatinya tak sebatas itu. Tak mengherankan saat cendekiawan, Yudi Latif menuliskan kritik akan miskonsepsi yang muncul di permukaan akan cara pandang terhadap teknologi. Pandangan tersebut dituliskannya dalam buku Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif (2020). Kenyataan itu melahirkan sebuah keterabaian dalam pembangunan peradaban, yaitu berupa: pengembangan sumber daya manusia berwawasan teknologi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kait-kelindan yang muncul dalam realitas kehidupan, atas miskonsepsi-miskonsepsi yang muncul sebelumnya, kemudian melahirkan sebuah miskonsepsi baru akan cara pandang manusia terhadap teknologi. Teknologi dipahami sebagai sebuah kekuatan besar dengan kedigdayaannya, seolah mengalahkan akal pikiran yang dimiliki manusia. Walhasil, hal itu membuat manusia mendapati sebuah situasi yang pelik dalam relasi yang ada. Manusia mendapati keterasingan diri dalam kehidupan sosial, hasrat ketergantungan, dan naiknya budaya konsumtif.

Baca juga:  Idul Fitri, Islam, dan Sains (4): Andi Hakim Nasoetion: Ihwal Sains dan Kritik “Beragama” di Kampus

Tak mengherankan saat kemudian dalam konteks global, perihal teknologi dijadikan ajang perlombaan tiap negara maju yang saling berebut pengaruh serta kepentingan. Misalkan seperti kondisi periodesasi revolusi industri keempat yang saat ini sedang dihadapi juga oleh Indonesia. Kita terkadang gamang untuk melakukan peniruan terhadap inovasi-inovasi yang digagas negara lain, tapi terkadang melupakan pembacaan secara mendalam. Maka, satu hal yang terjadi yang sebenarnya tidak diinginkan adalah terus terjadinya sebuah kesenjangan dalam struktur sosial masyarakat. Teknologi kemudian menjadi slogan kemajuan dan kesejahteraan yang penuh paradoks.

Pada aras tersebut, sebenarnya ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab untuk melakukan dialog kembali mencari hubungan baku dan ideal akan manusia dan teknologi. Ernst Friedrich Schumacher, ahli eknonomi kelahiran Jerman 16 Agustus 1911 dan mendapatkan penghargaan CBE pada tahun 1974 menuliskan berbagai dimensi gagasan terkait ekonomi, teknologi, dan perkembangan dunia modern dalam buku berjudul Small is Beautiful. Di Indonesia buku tersebut pernah diterjemahkan S. Supomo dengan berjudul Kecil itu Indah, diterbitkan pertama kali pada tahun 1979 oleh LP3ES.

Di dalam buku tersebut terdapat kumpulan ceramah Schumacher dalam beberapa forum yang ia diminta berbicara. Selain itu, ada tulisan yang sebelumnya telah termuat secara terpisah dalam berbagai media maupun buku. Ada sebuah tulisan penting darinya untuk dijadikan refleksi dalam judul tulisan kali ini. Tulisan tersebut berjudul Teknologi yang Berwajah Kemanusiaan, tulisan yang digunakan untuk ceramah pada Sixth Annual Conference of the Teilhard Centre for the Future of Man di London pada 23 Oktober 1971.

Baca juga:  Gerhana Bulan Total: Momentum Kebangkitan Pesantren Riset di Indonesia

Lewat tulisan tersebut, Schumacher menekankan perkembangan dunia modern yang semakin memberikan keterbukaan akan perkembangan teknologi dalam artian alat yang memiliki ciri khas tidak mengenal prinsip dalam pembatasan baik dari segi ukuran, kecepatan, hingga kekerasannya. Namun, satu hal yang lebih pasti akan silih-berganti perubahan zaman, ada kecenderungan akan teknologi yang melahirkan situasi “kurang sehat” dengan semakin merampas banyak pekerjaan—dalam pengertian luas bagi manusia sebagai daya cipta yang dilakukan dengan otak dan tangan. Sekecil mungkin, pastinya ada rasa berontak dalam diri manusia.

Wajah Kemanusiaan

Apa yang kemudian ditawarkan dari konsep teknologi berwajah kemanusiaan? Terminologi tersebut dimaksudkan untuk teknologi yang memberikan arti selain meringankan beban dalam pekerjaan, juga membuat orang dalam menjalankan hidup untuk senantiasa mengembangkan potensinya. Potensi tersebut adalah kesadaran diri bagi manusia menjadi produktif dalam pendayagunaan otak maupun organ tubuh lainnya. Kesadaran tersebut menarik untuk dibahas lebih lanjut, apalagi mengingat pada dinamika perubahan zaman, kebudayaan ilmu pengetahuan yang berkembang adalah bayang-bayang manusia di hadapan teknologi berkemajuan yang tak lain terilhami atas kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Kecerdasan buatan merupakan frasa populer yang telah muncul di era 1990-an. Konsep tersebut merupakan anak kandung dari diskursus terkait filsafat akalbudi (philosopy of mind). Pada tahun 1980, seorang pengajar Filsafat di Universitas California, John Roger Searle menerbitkan sebuah jurnal berjudul Minds, Brains, and Programs di The Behavioral and Brain Sciences. Ia memperkenalkan konsep berupa Chines Room Argument. Gagasan tersebut sebagai kritik akan diskursus Artificial Intelligence (AI). Sebagai pengantar, Searle menyebutkan bahwa AI terdiri dari dua hal, yakni AI Lemah (Weak AI) dan AI Kuat (Strong AI).

Baca juga:  Dualisme Sains

Selanjutnya, ia menampik bahwa sejatinya kecerdasan yang melekat dalam AI itu berupa AI Lemah (Weak AI). Ia memberikan kasus saat penerjemahan pada sebuah mesin kecerdasan yang teleh diberikan program, sebab kunci dari AI itu adalah sebuah kotak hitam yang menerima sebuah masukan dan nantinya memberikan hasil. Memang, AI memberikan output berupa hasil penerjemahan atas input yang diberikan. Namun, pada situasi tersebut sebuah mesin hanyalah sebatas mengetahui arti dari bahasa tersebut, tidak lebih dari itu. Ia tidak tahu akan dimensi, perasaan, dan fungsionalisasi secara luas akan keberadaan bahasa.

Gagasan tersebut sejatinya menjadi salah satu letak hadirnya kritik akan perkembangan yang ada di dalam teknologi. Dengan revolusiner yang ditampilkan, memang teknologi terkadang dimaknai sebagai kekuatan besar yang tak tertanding. Padahal, demikian ia tidak lain merupakan hasil cipta dari manusia yang memiliki kecerdasan dengan sebutan Superficial Inteligence. Konstruksi tersebut harusnya menjadi modal dalam kerja kebudayaan dalam peradaban. Hingga kemudian, relasi antara manusia dan teknologi menjadi simbiosis yang saling berhubungan dalam peradaban panjang di kehidupan.

Hal itu erat kaitannya pada konteks hubungan antara kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kebudayaan yang terjadi di dalam masyarakat memberikan peluang hadirnya ide pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dengan cakupan misalkan upaya memunculkan hadirnya teknologi akan melahirkan sebuah kebudayaan dalam masyarakat. Kita berdiri dalam zaman yang kompleksitas akan berbagai hal dalam kehidupan. Dimana ada tugas penting yang dibebankan bersama: upaya trans-disiplin ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk meningkatkan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, memperhatikan alam secara luas, dan tidak berlebihan dalam banyak hal. Begitu.[]

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top