Sedang Membaca
Sejarah Aliansi Saudi-Wahhabi (Bagian I): Pembantaian Karbala
Iqbal Kholidi
Penulis Kolom

Peminat sejarah Baitul Maqdis, Mekkah dan Madinah

Sejarah Aliansi Saudi-Wahhabi (Bagian I): Pembantaian Karbala

Wahhabi adalah sebutan bagi orang yang mengikuti paham Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama yang hidup pada abad ke-18, sedangkan pahamnya disebut Wahhabiyah atau Wahhabisme. Pemikir Islam asal Pakistan Fazlur Rahman mendeskripsikan aliran ini sebagai “sayap ortodoksi yang ekstrim” di wilayah Arabia Tengah. Muhammad bin Abdul Wahhab dibayang-bayangi ajaran Ibnu Taimiyah (wafat 1328) dan dibesarkan dalam tradisi madzhab Hanbali, dia adalah pencetus gerakan pemurnian, kata Fazlur dalam buku Islam (1984).

Muhammad bin Abdul Wahhab muda dan pengikutnya melakukan gebrakan memerangi praktik bid’ah serta semangat menegakkan syariat Islam versinya. Banyak yang mendukung, tetapi tak sedikit pula yang menentang. Akibatnya dia diusir dari kampung halamannya Najd dan pindah ke Diriyah. Pelariannya ini akhirnya mempertemukan dirinya dengan politisi ambisius dan penguasa lokal suku badui bernama Muhammad bin Saud.

Buku Kiai Said

Setelah menetap di Diriyah dan beraliansi dengan bin Saud, sejak itu gerakan fundamentalis Islam ala Wahhabiyah bersenyawa dengan gerakan politik Saud yang sama-sama kerasnya. Kedua pria ini membuat perjanjian. Muhammad bin Abdul Wahhab sepakat mengakui Muhammad bin Saud sebagai Amir atau pemimpin politik bagi komunitas muslim, sementara bin Saud mengakui bin Wahhab sebagai pemimpin otoritas keagamaan. Bahkan bin Wahhab berfatwa wajib bagi muslim berbai’at kepada penguasa (bin Saud) selama hidupnya, sebaliknya sang penguasa karena berhutang bai’at kepada umat, maka berkewajiban memimpin rakyatnya dengan hukum Tuhan.

Baca juga:  Menelisik Wahabi (11): Syekh Al-Azhar Menjawab Tuduhan Orang Tua Nabi Muhammad Kafir

Ketika Muhammad bin Saud meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Abdul Aziz. Sebagaimana ayahnya, ia tetap memegang sumpah dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, dan menjalin persekutuan yang harmonis dengannya. Abdul Aziz bersama putranya—Saud bin Abdul Aziz (Saud I) sang pangeran yang juga gemar berperang—bertekad melanjutkan visi mempersatukan (menaklukkan) wilayah Semenanjung Arabia di bawah bendera Wahhabiyah.

Pada tahun 1792, Muḥammadḥ bin Abdul Wahhab meninggal pada usia 89. Abdul Aziz kemudian mendeklarasikan diri sebagai penggantinya dan mengurapi diri sebagai kepala otoritas keagamaan juga, tulis sejarawan Tamim Ansary dalam buku Dari Puncak Baghdad (2009).

Pembantaian Karbala

Di tangan Abdul Aziz dan putranya, Saud bin Abdul Aziz, dakwah Wahhabiyah menggunakan kekuatan militer besar semakin agresif, hal ini selaras dengan seruan untuk melakukan pembaharuan Islam lewat kekuatan bersenjata (jihad), tulis Fazlur Rahman ketika menyebut salah satu ciri gerakan Wahhabiyah, dalam buku Metode dan Alternatif Neomodernisme (1993).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada April 1802 Saud bin Abdul Aziz memimpin langsung ribuan pasukan Wahhabi menyerbu Karbala (kini wilayah Irak) tempat Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad dikubur. Di sana mereka merusak bangunan makam Hussein dan menjarah aset-aset berharga di Karbala. Menurut Karen Armstrong dalam buku Sejarah Islam (2004), penyerangan Karbala dilakukan Wahabi atas dasar bahwa makam itu dijadikan penyembahan berhala yang penuh takhayul.

Baca juga:  Kisah 7 Kaum Muda Wahabi Tobat di Hadapan Ulama Mekkah

Selain merusak dan menjarah, mereka membantai penduduk kota dan para peziarah. Penyerbuan Karbala berlangsung dari pagi hingga tengah hari. Ketika serangan kilat itu terjadi, tentara kekhalifahan Turki Utsmaniyah yang berada di Karbala ketakutan lari menyelamatkan diri.

Meski serangan ini relatif singkat, menurut catatan sejarawan Tamim Ansari dalam buku Dari Puncak Baghdad (2009) membunuh sekitar dua ribu penduduk. Karena peristiwa ini pangeran Saud bin Abdul Aziz kemudian dijuluki “Penjagal Karbala”.

Sumber lain Ibnu Bishr (wafat 1872), dalam bukunya Unwan al-Majd fi Tarikh al-Najd (Mekkah, 1930), yang ditulis dari perspektif Wahabi memberikan kisah serupa, Ibnu Bishr dengan bangga dan memuji kemenangan Saud di Karbala pada tahun 1802:

“Saud [putra Abdul Aziz] mulai bergerak dengan dukungan tentara dan pasukan kavaleri yang direkrutnya dari kalangan penduduk kota maupun suku-suku nomaden di Najd, dari wilayah selatan, dari Hijaz, Tihama dan tempat-tempat lainnya. Ia mencapai Karbala dan mulai memerangi penduduk kota al-Husain itu…

..Kaum Muslim [yakni, kaum Wahhabi] menaiki tembok, memasuki kota secara paksa, dan membunuh mayoritas penduduk kota itu di pasar-pasar maupun di rumah-rumah mereka. Lalu mereka menghancurkan kubah di atas makam al-Husein yang dibangun oleh orang-orang yang percaya dengan hal-hal semacam itu. Mereka mengambil apapun yang ada di dalam kubah itu dan di sekelilingnya. Mereka mengambil pagar-pagar teralis di sekeliling kubah itu yang dihiasi dengan batu zamrud, batu ruby dan batu-batu permata lainnya. Mereka menjarah apa pun yang ada di kota itu: berbagai macam harta-benda, senjata, pakaian, karpet, emas, perak, salinan-salinan al-Qur’an yang indah, dan benda-benda lainnya yang tak terbilang. Mereka tinggal di Karbala hingga pagi hari, dan siang harinya mereka pergi dengan membawa segala macam harta-benda yang telah mereka kumpulkan dan mereka telah membunuh sekitar dua ribu orang.” (Unwan Al Majd Fi Tarikh Al Najd, Vol. 1, Hlm.121-122)

Ketidakmampuan Turki Utsmaniyah melindungi kota Karbala mendapat kritikan dari Fath Ali Shah Qajar yang berkuasa di Iran, Raja Persia itu menawarkan balabantuan melindungi Karbala namun ditolak Turki. Setelah peristiwa pembantaian Karbala Turki Utsmaniyah memecat gubernur Baghdad.

Baca juga:  Akar Tradisi Ulama Al-Azhar Berziarah ke Makam Imam Syafii

Tahun 1803 Abdul Aziz memasuki Mekkah dan memaksa ulama kota itu untuk berbaiat kepadanya. Syukurlah, pendudukan pertama kelompok Wahhabi ini tidak berlangsung lama karena Syarif Mekkah, gubernur Kota Suci, berhasil merebut kembali kota itu dua bulan setengah kemudian. Akan tetapi, Wahhabi tanpa henti meneror kota Mekkah.

Tidak lama kemudian, Abdul Aziz tewas dibunuh di Diriyah oleh seorang yang disebut-sebut menuntut balas atas penodaan kota suci Karbala. Kematian Abdul Aziz segera digantikan oleh anaknya Saud Ibnu Abdul Aziz, penjagal Karbala, dan kampanye penaklukan terus dilanjutkan nyaris tanpa jeda. (RM)

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
2
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top