Sedang Membaca
Lirboyo, Literasi dan Genealogi Intelektual Pesantren

Lirboyo, Literasi dan Genealogi Intelektual Pesantren

Sholihun Kasim

Dalam sejarahnya, nama Lirboyo terambil dari dua kata. Lir artinya selamat dan boyo berarti bahaya. Ada juga yang menyebut Nerboyo. Ner berarti selamat dan boyo artinya bahaya. Tapi, Nerboyo terasa sulit diucapkan di lidah sehingga nama Lirboyo yang mengemuka. Dengan harapan, masyarakat di desa Lirboyo ini selamat dari berbagai macam bahaya.

Dulu, di daerah ini tidak semua orang berani menetap. Alasannya, wingit dan angker, sehingga tidak semua orang berani menempati. Tempat ini dihuni orang jahat, perampok, dan pembunuh serta makhluk halus. Mereka mengganggu warga masyarakat sekitar. [Agus Muhammad Dahlan, Pesantren Lirboyo, 2010]. Hanya orang-orang tertentu yang berani masuk dan menetap. Salah satunya adalah Kiai Manaf atau KH Abdul Karim, pendiri pesantren Lirboyo.

Meski berani menetap, KH Abdul Karim tetap menemui banyak tantangan. Suatu ketika, atas keinginan warga, beliau harus mampu memindah makluk halus ke tempat jauh nan aman. Proses pemindahan dibantu mertuanya, Kiai Sholeh Banjarmlati Kota Kediri. Ternyata berhasil. Dengan keberhasilan itu, pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-in berdiri. Pondok ini terus berkembang dan berkibar dengan ribuan santri dan alumni.

Salah satu alumni, KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengenang dan mengenalkan Lirboyo dengan puisi. Bait-bait puisinya begitu syahdu mengalun. Getarannya merasuk dalam relung-relung jiwa. Puisi berjudul Lirboyo Kaifal Hal menjadi penanda keberadaan Lirboyo dan pesantren tempatnya dulu menimba ilmu.

Puisi tersebut berbicara tentang kabar Lirboyo dulu dan kini. “Lirboyo, masihkah tebu-tebu berderet manis melambai di sepanjang jalan menyambut langkah gamang santri anyar menuju gerbangmu?  Ataukah seperti di mana-mana pabrik-pabrik dan bangunan bangunan bergaya spanyolan yang angkuh dan genit menggantikannya?” [www.kangsantri.web.id].

Baca juga:  Memperbanyak Kader ala Gus Dur

Inpirasi Budaya Literasi dari pendahulu 

Sangat jarang, pondok pesantren membudayakan literasi sebagai bagian dari pembelajaran, tapi Lirboyo sudah memulainya. Sejak kapan? Belum ada penelitian resmi sejak kapan. Tapi, jika dirunut dari pendiri pondok, dapat ditelusuri akarnya. Lirboyo punya tiga tokoh kharismatik. Mereka adalah KH Abdul Karim, KH Marzuqi Dahlan dan KH Mahrus Aly. Pada ketiga tokoh ini, budaya literasi berjalan, baik secara lisan maupun tulisan.

Pelacakan budaya literasi bisa ditelusuri pada diri KH Marzuqi Dahlan. Beliau dalam menuntut ilmu punya pedoman cengkir [kencenge pikir] atau kemauan keras. Dalam buku 3 Tokoh Lirboyo, 1995: 41, diceritakan, beliau mencari ilmu, mondok di Tebuireng dengan bekal seadanya. Bahkan, sehari-hari hanya makan daun ketela kering dari kebun Kiai Hasyim Asyari. Kecintaan pada ilmu dibuktikan dengan wasiat terakhir KH Marzuqi Dahlan sebelum wafat. Dawuh beliau, “Semua santri harus tetap tekun belajar dan mempertimbangkan himmah, karena demikian ini berarti mau menghidupkan budaya belajar.” [3 Tokoh Lirboyo, 1995]. Setidaknya, ini menjadi bukti cikal bakal literasi di pondok Lirboyo.

Keinginan kuat mencari ilmu bagi KH Marzuqi Dahlan ternyata meniru saudaranya, KH Ihsan Dahlan Jampes Kediri. Kakak kandung beliau ini mempunyai banyak karya monumental. Salah satunya kitab Siraj al-Thalibin. Kitab ini menjadi rujukan di kampus Al-Azhar Mesir. KH Ihsan sanget produktif menghasilkan dan menghidupkan budaya literasi. Beliau mengarang kitab Irsyad al-Ikhwan fi syubati al-Qahwi wa al-Dukhan.  Kitab ini membahasa tentang minum kopi dan merokok. Kitab Manahij al-Imdad dan Tashrih al-Ibarat. Jika ini dijadikan rujukan maka Lirboyo sudah lama membudayakan literasi.

Baca juga:  Kisah Masjid Tiban di Jombang

Kenyatan bahwa Lirboyo membudayakan literasi ini direkam dalam ingatan dengan baik oleh Gus Mus lewat puisinya. “Lirboyo, masihkah musyawarah pendalaman ilmu dan halaqoh-halaqoh menghidupkan malam-malam penuh ghirah dan himmah? Ataukah seperti di mana-mana diskusi-diskusi sarat istilah tanpa kelanjutan dinilai lebih bergengsi dan bergaya?”. Dalam bait selanjutnya, bahkan Gus Mus  Lirboyo juga menyebut tentang pengkajian terhadapa pemikiran-pemikiran hujjatul Islam, Imam al-Ghazali.

Bagaimana kondisi literasi di Lirboyo sekarang? Cukup mencengangkan. Banyak buku karya santri dan alumni Lirboyo. Buku-buku genre panduan ibadah, akhlak dan juga buku umum bertebaran di berbagai toko buku. Misalnya,  buku Pesantren Lirboyo: Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda. Buku ini tergolong buku babon yang membahas lengkap tentang Pondok Lirboyo dulu dan sekarang. Ada juga buku 3 Tokoh Lirboyo. Juga, buku bergenre politik kebangsaan, misalnya Fiqh Kebangsaaan dan Kritik Ideologi Radikal. Buku tentang humor dan ngopi juga ada, yaitu Ngopi di Pesantren. Produktifitas ini akan berjalan tanpa jeda.

Genealogi Intelektual Pesantren

Produktifitas pondok Lirboyo membudayakan literasi, disadari atau tidak, menjadi genealogi. Kata ini disebutkan Rakhmad Zailani dalam buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi [2001], awalnya dari genea yang berarti keturunan dan logos artinya pengetahuan. Secara luas, berarti jejaring. Jejaring dalam pengetahuan tentunya. Ada jaringan yang tersambung dari generasi dulu hingga sekarang.

Baca Juga

Dilihat dari sudut genealogi ini, budaya literasi pondok Lirboyo tampak menarik dicermati. Pertama, sebagai sebuah pesantren. Banyak buku bertema pesantren bertebaran. Misalnya, buku karya Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai Masa Depan Indonesia). Buku ini sangat keren dan menjadi bacaan wajib terutama bagi peneliti pesantren.

Baca juga:  Gus Dur: Tradisi Pengetahuan dan Kemanusiaan Pesantren

Penulis buku pesantren ada dua kategori; penulis yang pernah mondok atau alumni dan yang tidak mondok atau pemerhati. Penulis pernah mondok misalnya, Gus Mus, Kiai Husein Muhammad, Kiai Said Agil Siroj dan masih banyak lagi. Penulis yang pemerhati, misalnya, Martin Van Bruinessen dengan bukunya Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Ada juga, Andree Feillard, buku  NU vis a vis Negara; Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.  Meski berbeda kategori, tapi mereka satu tema, mengkaji pesantren dari perspektif masing-masing.

Kedua dan ini yang menarik, tiga nama penulis di atas yang pernah mondok adalah alumni pondok Lirboyo. Siapa yang tidak kenal Gus Mus. Beliau sangat produktif menulis. Buku-buku Gus Mus,  Saleh Ritual & Saleh Sosial, Fikih Keseharian Gus Mus, Membuka Pintu Langit dan masih banyak lagi. Juga, pada Kiai Husein Muhammad kita mendapati buku-buku bertema Islam dan Perempuan. Misalnya buku Fiqh Perempuan; Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender,  Islam Agama Ramah Perempuan; Pembelaan Kiai Pesantren, Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur, dll. Pada Kiai Said Aqil kita berguru pada buku-bukunya tentang Islam Rahmah dan Tasawuf.

Dalam tataran inilah, genealogi intelektual pesantren Lirboyo menemukan bentuknya. Gus Mus, Kiai Husein Muhammad, Kiai Said Agil Siroj dan alumni Lirboyo yang lain berjejaring dalam literasi. Hingga sekarang, buku-buku terbitan Lirboyo bertebaran dimana-mana. Mereka bernasab dengan masyayekh Lirboyo secara ilmu. Mereka mewarisi intelektualitas pesantren. (RM)

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top