Sedang Membaca
Kota Kaisar Goslar: Kota Tua yang Masuk Daftar Warisan Dunia Unesco
Penulis Kolom

Seorang sarjana Teknik Lingkungan. Sekarang bekerja di sebuah laboratorium reserach & development sebuah perusahaan skincare di Jerman. Tinggal di desa kecil bernama Stockheim antara kota Cologne dan Aachen. Akun facebook atas nama Irawati Prillia.

Kota Kaisar Goslar: Kota Tua yang Masuk Daftar Warisan Dunia Unesco

Kota Tua Goslar

Dua menara batu gendut berpucuk kerucut menyambut kami di ujung kota tua. Mengikuti insting, tanpa memperhatikan gmaps,  kami putuskan membelokkan kendaraan, menerabas gerbang  sempit di perut salah satu menara bernama Breite Tor. Menembus masa ke sebuah dunia berbeda. Dunia sejarah berusia lebih dari satu milenia. Di salah satu kota pusat percaturan politik Jerman kuno pada abad pertengahan Eropa, Goslar.

Beruntung kami segera mendapatkan spot parkir di pinggir jalan raya. Jika bermenit sebelumnya kami berada di antara bangunan modern, tak lama setelahnya kami berada di dunia liyan. Deretan rumah di kanan kiri kami berwarna-warni. Temboknya bergaris-garis warna-warni. Garis-garis tersebut merupakan balok-balok kayu. Yang dipasang membujur, melintang, menyerong dinding. Menguatkan sekaligus menghiasi. Pintu-pintunya tak kalah meriah. Adiwarna. Bergagang pintu metal berupa kepala. Orang Jerman menyebutnya fachwerkhaus, atau half-timbered house (rumah setengah kayu) dalam bahasa Inggris. Dikonstruksi ratusan tahun lalu. Di abad pertengahan. Di Goslar, kita bisa melihat rumah-rumah antik ini sampai bosan. Kota tuanya memiliki sekitar 1.500-an half-timbered houses.

Kami menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kuno, terdiri dari 3-4 lantai, menuju pusat kota. Sebagian besar dari gedung antik tersebut berfungsi sebagai tempat usaha. Semacam ruko. Lantai bawah difungsikan sebagai toko, penyedia jasa, atau kantor, bagian atasnya berfungsi sebagai tempat tinggal. Tidak hanya berhias kayu serta warna-warni cerah, sebagian rumah memajang kalimat-kalimat bijak berbahasa Jerman kuno.

Pada hari Minggu, mestinya toko-toko tutup. Akan tetapi, kami datang pada sebuah hari spesial. Hari itu diselenggarakan sebuah festival abad pertengahan. Toko dan berbagai tempat usaha buka selama beberapa jam mulai tengah hari. Festivalnya sudah dimulai ketika kami sampai. Di tempat terbuka di depan balai kota yang temboknya berwarna merah menyala, berdiri tenda-tenda besar dan kecil. Menjual pernak-pernik terlihat kuno. Sabun, minuman, makanan, alat-alat dapur. Penjualnya memakai kostum pedagang dari beratus tahun silam. Jika saja mereka tak memakai masker sekali pakai yang terlihat modern, kami bakal menyangka mereka baru berlayar dengan mesin waktu dari masa silam.

Baca juga:  Terbius Arsitektur Masjid Atiq Isfahan

Seorang lelaki tiba-tiba mengumumkan sesuatu di tengah ruang terbuka. Dua orang lelaki muda berpakaian serba hitam berdiri di belakangnya. Tak lama, keduanya memainkan musik. Seorang menabuh genderang, lainnya meniup semacam terompet panjang yang disanggahnya di atas pundak kiri. Massa mulai berkerumun, tapi masih jaga jarak satu sama lain. Kedua alat musik bersahutan, menciptakan melodi yang terdengar kuno tapi lumayan menghibur. Tak sedikit penonton turut bergoyang mengikuti liukan terompet panjang.

Tak terlalu lama menikmati musik zaman dulu, kami beranjak ke destinasi berikutnya yang hanya berjarak 400-an meter dari balai kota. Ke bekas salah satu istana para kaisar Jerman, Kaiserpfalz.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kota Warisan Dunia Unesco

Kaiserpfalz, sebuah konstruksi batu, letaknya lebih tinggi dibandingkan kota tua Goslar. Sebelum sampai istana, kami berjumpa tempat parkir luas. Dulunya di lahan parkir berdiri sebuah katedral megah, dibangun atas perintah Kaisar Heinrich III antara tahun 1047-1056.  Sekarang tinggal aula depannya saja yang difungsikan sebagai museum. Kami melewati dua patung kepala tergeletak di depan aula katedral. Lalu menyeberang jalan sebelum mulai mendaki ke arah Kaiserpfalz.

Pada sekitar abad 10 masehi, kaisar-kaisar Jerman tidak memerintah dari satu tempat bernama ibukota. Mereka memiliki banyak tempat peristirahatan yang masing-masing dikenal sebagai Pfalz.  Sebuah Pfalz akan memiliki sebuah kompleks bangunan istana  lengkap dengan aula kaisar dan tempat ibadah. Jarak antara satu Pfalz ke Pfalz lainnya sekitar 40 kilometer. Atau setara dengan perjalanan selama sehari di kala itu. Sang kaisar dan orang-orang kepercayaannya hidup berpindah-pindah, menjaga kontak dengan para pengikutnya.

Baca juga:  Kota Islam (17): Kota Nishapur dan Pencarian Jejak Imam Muslim

Goslar mulai kaya di abad pertengahan karena pertambangan perak di Rammelsberg. Kaisar Heinrich Ii tergerak hatinya untuk membangun sebuah Pfalz di Goslar sekitar tahun 1000-an masehi. Penggantinya, Heinrich III, memerintah pembangunan istana di tahun 1040-1050. Sebuah istana megah sepanjang 54 meter, terpanjang di zamannnya. Ia terdiri dari 2 lantai. Aula Mahkota di lantai dua, diperuntukkan kaisar dan orang terdekatnya. Lantai bawah untuk mereka dengan pangkat lebih rendah. Istana ini terhubung dengan sebuah kapel bernama Ulrichskapelle, tempat Heinrich III bersemayam.

Sayangnya sejak sekitar abad 13, Goslar kehilangan nilai politisnya. Ia terakhir dikunjungi Kaisar pada tahun 1253. Sebuah kebakaran hebat tahun 1289 meleburkan sebagian bangunan di kota tua. Bekas istana kaisar sempat beralih fungsi menjadi sebuah gudang, kapel menjadi penjara. Katedral megahnya komplit dibongkar tahun 1819.

Baru di akhir abad 19 dilakukan renovasi bekas istana kaisar di Goslar. Aula kaisar mendapatkan dekorasi baru. Berupa lukisan dinding menggambarkan berbagai kisah, dongeng, dan legenda di Jerman. Pelataran Kaiserpfalz beroleh dua patung ksatria berkuda, satu patung Friedrich I Barbarossa, simbol Kaisar dari kekasairan Jerman kuno, dan Kaisar Wilhelm I, kaisar pertama dari kekaisaran Jerman kedua yang mulai berdiri tahun 1871. Unesco memasukkan kota tua Goslar, tambang perak kuno Rummelsberg serta Kaiserpfalz dalam daftar warisan budaya dunia pada tahun 1992.

Dua Kaisar Jerman

Di satu hari musim gugur yang cerah, di masa pandemi, Goslar relatif ramai dikunjungi turis. Tidak hanya turis lokal. Sebab saya pun mendengar beberapa orang berbicara dalam bahasa asing. Lockdown sedang tidak diberlakukan saat kami berkunjung kemari. Saya mendekati dua patung kaisar untuk mengambil gambar mereka dari dekat.

Baca juga:  Kerukunan Mazhab di Makam Syekh Yazid al-Busthami

Kaisar Friedrich I (1122 – 1190), mendapatkan julukan Barbarossa, berkat jenggot panjangnya yang berwarna merah. Beliau, yang berasal dari Dinasti Staufer,  merupakan salah satu kaisar terbesar abad pertengahan Jerman. Zaman kekaisaran Jerman pertama berlangsung sejak kira-kira abad 10 hingga tahun 1806. Daerah kekuasaan Barbarossa  terbentang dari Pantai Utara Jerman hingga Sisilia. Meski otoritasnya dipenuhi konflik, Barbarossa mempunyai kelebihan untuk berkompromi.

Sejarah mencatat, Kaisar Barbarossa memiliki hubungan diplomatik dengan pemimpin muslim. Di antaranya, Sultan Saladin yang mulai berkuasa di Mesir sejak 1171. Mereka saling mengirim surat dan utusan. Dalam buku berjudul The Medieval Empire in Central Europe: Dynastic Continuity in the Post Carolingian Frankish Realm, 900 – 1300 (Cambridge Scholars Publishing, 2010), Herbert Schutz menulis tentang salah satu kunjungan utusan Sultan Saladin kepada Barbarossa. Utusan Saladin ikut hadir dalam satu peringatan Paskah tahun 1174. Diceritakan, mereka sudah enam bulan ikut dalam rombongan sang kaisar.

Akan tetapi, hubungan diplomatik keduanya kandas setelah Sultan Saladin memenangkan Pertempuran Hattin tahun 1187, merebut kembali Jerussalem dari tangan Pasukan Salib. Barbarossa memutuskan ikut serta dalam Pasukan Salib III, memimpin pasukannya ke arah tanah suci, untuk menantang Saladin. Barbarossa tidak pernah sampai ke Jerussalem. Beliau tenggelam dan meninggal dunia di Sungai Saleph di Turki di tahun 1190.

Kaisar Wilhelm I dari Prussia (1797-1888) adalah kaisar pertama Deutsches Reich, sistem kekaisaran kedua Jerman, berlangsung antara 1871 – 1918. Wilhelm I menggunakan singgasana Kaisarpfalz saat pelantikannya di Berlin tahun 1871.

Kami putuskan tidak masuk ke dalam Kaiserpfalz, menghindari berlama-lama di dalam ruangan tertutup selama pandemi. Mengeksplor bangunan tua serta sejarah Goslar dari luar saja sudah membuat kami senang pernah berada di sini.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top