Sedang Membaca
Miskroskop: Ritual Natal yang Tak Berulang

Imam (Romo)/Rohaniwan Keuskupan Agung Semarang.

Miskroskop: Ritual Natal yang Tak Berulang

Dekorasi Mikroskop 2

Tahun 2020, Orang Muda Katolik (OMK) Kapel Yusuf (Purwobinangun, Sleman, Yogyakarta) menjadi panitia perayaan Natal di kala Pandemi COVID-19 masih menyelimuti seluruh dunia. Adalah sebuah kenyataan yang kemudian menarik ‘mikroskop’ dari ruang laboratorium ke Kapel sebagai simbolisasi tempat dimana bayi Yesus lahir tahun ini. Praktis, Kapel (Gereja kecil) itu tanpa hiasan gua atau kandang Natal seperti biasa. Mikroskop dari kertas dalam ukuran besar dihadirkan sebagai sebuah imaginasi yang menantang refleksi untuk memaknai Natal sebagai sebuah sebuah peristiwa penyelamatan Ilahi di masa pandemi.

Ritual: Peristiwa Berulang

Emile Durkheim dalam penelitiannya pada suku Arunta yang berada di tengah masyarakat Aborigin Australia menyatakan arti penting Agama dalam menguatkan integrasi sosial (The Elementary Form of The Religious Life, 1912). Suku Arunta terbagi dalam banyak Klan yang terpisah karena sumber makanan yang berbeda. Dan, secara berkala mereka berkumpul karena melakukan ritual periodik dalam ritus yang sama.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Natal pun terasa sebagai ritual tahunan (periodik) untuk berkumpul bersama keluarga, setelah terpisah sekian lama. Untuk mengungkapkan kerinduan dan kegembiraan, kado adalah hadiah yang diberikan secara istimewa. Pada tahun 2020 ini, semua itu berubah sebab memutus persebaran pandemi COVID-19 masih menjadi tirakat Bangsa Indonesia.

Sehingga, umat Katolik di Paroki Pakem, dimana Kapel Yusuf menjadi bagiannya, merayakan Natal dalam adaptasi kebiasaan baru, yang menyebabkan  pemudik tak lagi bisa merayakan Natal bersama. Ibadat pun diatur sedemikian rupa dengan cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

Keramahan dan persaudaraan tak lagi bisa ditunjukkan dengan ekpresi wajah dan kedekatan fisik tak mampu menunjukkan kerinduan. Virus corona membalikkan semua symbol dan tanda yang memaksa kita mengekpresikan cinta dengan menutup muka dan menjaga jarak dengan sesama.

Baca juga:  Lelucon Gus Dur dan Tengku Zulkarnain: Ketika Masyarakat Gagal Menangkap Humor

Simbol dan Pemaknaan

Kapel sebagai ‘panggung pementasan’ mengganti Gua Natal dengan mikroskop. Dekorasi yang secara visual hendak menggelisahkan umat untuk merenungkan virus corona yang tak kasat mata. Akan tetapi, ia telah sanggup menjungkirbalikkan tatanan sosial dan budaya manusia.

Bagi orang Kristen (dan Katolik), Natal adalah peristiwa iman mengenang Tuhan yang hadir dalam sejarah manusia untuk memberi kehidupan. Dia adalah terang yang menuntun manusia untuk menghidupi hidup penuh kasih. Namun kebisingan hiruk pikuk dunia mampu merenggut manusia dari kasih sejati, dan membuat manusia tega kepada sesamanya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Angela Merkel (2014) kita sedang berada dalam revolusi industry 4.0 yang mengubah seluruh aspek produksi dalam penggabungan teknologi digital dan internet dengan proses produksi konvensional. Secara parsial, hal itu kita rasakan dalam kemajuan teknologi komunikasi yang membuat kita ter-koneksi dengan orang lain dan juga aneka barang kebutuhan kita. Sebab itu, platform sosmed dan belanja online banyak tersedia untuk kepuasan kita.

Dengan mikroskop, OMK sedang mengajak merenungi hidup dan bertanya apakah dengan teknologi ini kita semakin dekat dengan kehidupan atau justru sebaliknya?

Slow Down hingga Lock Down

Lock Down adalah istilah yang muncul tiba-tiba ketika Pemerintah Indonesia menyatakan darurat COVID-19. Fenomena yang muncul adalah penutupan jalan masuk ke kampung dan memaksa setiap orang tinggal di rumah. Muncullah istilah work from home (WFH). Yogyakarta sendiri kemudian memilih kebijakan slow down agar ekonomi tetap berjalan.

Akibat kebijakan ini, perubahan yang sangat terasa adalah langit tampak cerah dan udara pun bersih. Bahkan, bulan Desember kembali menjadi gedhe-gedhe ning sumber (Ind: bulan yang menjadi sumber paling besar). Banyak orang mengatakan bila COVID-19 membuat Bumi menyembuhkan dirinya.

Baca juga:  Menambahkan Kata ‘Sayyidina’ di Depan Muhammad

Penelitian yang dilakukan oleh European Space Agency (ESA) menyatakan bila ada penurunan polusi di kota besar berbagai negara, semisal Paris, Madrid dan Roma. Penelitian serupa dilakuakn oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang menyebut bila kualitas udara di Jakart membaik dibandingkan tahun 2019.

Pertanyaannya adalah kondisi ini ada untuk berapa lama? Kebijakan pembatasan sosial berskala besar ini seiring waktu akan selesai, seturut upaya Pemerintah dalam memulihkan perekonomian Negara. Artinya, satu saat akan tiba saat dimana keadaan penuh hiruk pikuk itu akan kembali bising bersama kesibukan kita semua bekerja.

Mengubah Tatanan Konseptual

On the Care for Our Common Home (Dalam kepedulian untuk rumah kita bersama) adalah sub judul dari Ensiklik (amanat Paus) kedua dari Paus Fransiskus: Laudato Si (Puji Bagi-Mu), yang terbit pada 24 Mei 2015. Ensiklik ini adalah keprihatinan Paus yang mewakili kita semua terkait dengan semangat konsumerisme dan pembangunan yang tak terkendali, sehingga terjadi kerusakan lingkungan dan pemanasan global.

Industri yang terus berkembang semakin menancapkan kakinya dalam-dalam di Bumi yang cerobongnya mengepulkan asap merusak langit kita. Adegan ini mungkin terjadi jauh di sana, namun nyata bila akibatnya kita turut merasakan.

Perubahan iklim menyebabkan pertanian tak lagi maksimal hasilnya. Suhu yang semakin panas merata dirasakan oleh semua manusia. Alam pun semakin kotor oleh sampah plastik hasil konsumsi kita selama ini.

Baca juga:  Kita dan Tragedi 65 (8): Upaya Generasi Muda NU Menjadi Koncone Wong PKI

Otoritas Agama: Seruan Moral

Laudato Si adalah sebuah seruan moral yang mengajak terjadinya sebuah gerakan global sebagai wujud kepedulian kepada Bumi, yaitu rumah tinggal kita bersama. Ini adalah ajakan agar kita tak lagi abai dengan kerusakan Bumi. Serupa saja dengan adik kita yang membakar kertas di ruang tamu, asapnya akan kita hirup juga dari kamar masing-masing.

Dalam ritualnya, hampir semua Agama menggunakan unsur alam sebagai bagiannya. Agama Islam menggunakan hewan ketika merayakan Idul Qurban, dan bunga berikut dupa digunakan dalam ritual Hindu. Air hampir digunakan oleh semua Agama untuk piranti mensucikan. Pada hematnya, tiada Agama yang tidak menggunakan unsur alam dalam ritualnya.

Peristiwa pandemi COVID-19 menjadi kesempatan untuk setiap Agama menyerukan seruan moral agar umatnya merawat Bumi. Refleksi teologis setiap Agama hendaknya sampai pada sebuah kesadaran bila Pencipta memberi Bumi untuk manusia hidup. Maka, kewajiban manusia adalah merawat Bumi agar manusia tetap hidup seperti kehendak sang Pencipta.

Natal : Peristiwa Kehidupan

Kelahiran adalah peristiwa awal dari sebuah kehidupan. Yesus yang lahir dalam sejarah manusia, adalah wujud Tuhan membela kehidupan dan praktis menolak kematian. Serta merta hal ini menegaskan bila kehidupan itu berharga sehingga layak untuk dibela.

Menafsirkan secara baru ajaran Agama tentang kehidupan adalah mendesak untuk dilakukan agar cara pandang anthroposentris (berpusat pada manusia) yang melihat manusia sebagai ciptaan paling sempurna tidak membuat manusia jumawa, merasa berhak untuk mengekstrasi Bumi dalam proses produksinya. Namun, manusia hendaknya mempunyai kesadaran moral dan etika bila melestarikan Bumi adalah cara agar kehidupan manusia tetap terus berlangsung.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top