Sedang Membaca
David dan Goliat Pernah Bersekutu di Dubrovnik
Penulis Kolom

Seorang sarjana Teknik Lingkungan. Sekarang bekerja di sebuah laboratorium reserach & development sebuah perusahaan skincare di Jerman. Tinggal di desa kecil bernama Stockheim antara kota Cologne dan Aachen. Akun facebook atas nama Irawati Prillia.

David dan Goliat Pernah Bersekutu di Dubrovnik

Jalan Stradun

Nyaris tak ada tempat sepi di Dubrovnik, kala musim panas. Orang hilir mudik di trotoar. Semakin menuju kota tua, kendaraan semakin padat. Kami sempat kaget menghadapi kenyataan, bahwa tarif parkir per jam di sebuah aula parkir tertutup dekat pusat kota tidak murah. Sebelum akhirnya memutuskan berputar haluan, mencari tarif parkir lebih bersahabat, meski harus ke pinggiran kota, dua kilometeran jaraknya dari tembok kota tua.

Ini kali kedua kami mengunjungi salah satu kota tempat syuting King’s Landing di serial populer The Games of Thrones (GoT). Mungkin karena kami pertama kali datang di musim dingin, sedangkan musim panas adalah waktu liburan utama warga Eropa. Saat itu, belum ada tanda-tanda pagebluk bakal memberi ujian berat bagi dunia.

Kerumunan wisatawan sudah mulai terlihat di Amerling Fountain, menjelang masuk Gerbang Pila. Tidak sedikit orang berdiri menawarkan berbagai macam tur. Tur kayaking di laut, walking tour keliling kota tua, dan tentu saja, tur mengunjungi lokasi-lokasi syuting GoT. Kami pilih irit. Keliling kota mandiri berbekal gmaps. Bila kita berjalan ke arah laut, tepat di atas Teluk Kolorina, kita bisa mencuri pandang pemandangan tembok tebal dan benteng kota tua yang berdiri gagah di atas tebing.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kota ini mulai tumbuh pada abad ketujuh masehi. Para pengungsi Epidaurum, 10 km di selatan Dubrovnik mulai mendiami wilayah ini setelah terusir dari asalnya. Sedikit demi sedikit, mereka membangunnya sebagai sebuah kota, diberi nama Ragusa. Pendatang juga mulai mendiami wilayah ini. Lokasinya strategis di tepi Lautan Adriatik membuat Ragusa berkembang cepat dan makmur. Sasaran empuk bagi penyerang. Bangsa Arab datang di abad 9, Makedonia di abad 10. Dan di abad 12, salah satu bangsa penguasa Lautan Mediterania, Venesia, tertarik menduduki Ragusa.

Venesia adalah Goliat bagi Ragusa yang saat itu ditinggali banyak kaum intelektual. Mereka menginginkan otonomi, punya negara sendiri, dan terutama ingin perdamaian. Tak mungkin melawan Venesia dengan kekuatan senjata, taktik lain harus digunakan.  Diplomasi, membayar upeti, hingga menyuap dilakukan. Penguasa Ragusa berhasil meyakinkan bangsa-bangsa di sekitarnya: Slavia, Eropa, Byzantium, bahwa Ragusa adalah titik perdagangan dan pelabuhan penting yang harus dilindungi. Tak hanya berhasil menghindarkan Venesia untuk menguasainya, melalui kapal-kapal besar yang menyinggahinya setiap hari, kemakmuran Ragusa bertambah. Sehingga mampu membangun benteng pertahan kuat di sekeliling negeri.

Baca juga:  Dome of the Rock, antara Mu’jizat Peradaban dan Kemelut Sejarah

Sekitar abad 15, waktu Turki Utsmani, sang Goliat baru mulai menunjukkan gigi-ginya di Eropa dan Lautan Mediterania, negara Ragusa salah satu yang pertama menjalin hubungan diplomatik dengannya. Ragusa menjadi perantara perdagangan antara negeri timur dan barat, sekligus menguatkan posisi perekonomiannya. Sewaktu Turki Utsmani menguasai Semenanjung Balkan, Ragusa mengambil posisi netral, membayar upeti, biar tetap bebas merdeka. Sebagian muslim Bosnia pergi berhaji lewat pelabuhan Ragusa. Pada abad 16, berpenduduk sekitar 35 ribu jiwa, Ragusa adalah kekuatan perdagangan terbesar ketiga di dunia, dengan 160 kapal dagang. Ilmu pengetahuan dan budaya berkembang pesat di negara mini ini.

Akan tetapi, bintang Ragusa redup semenjak abad 17. Inggris, Perancis, dan Belanda aktif mengambil bagian dalam perdagangan laut. Dengan armada lebih banyak serta lebih moderen. Semakin sedikit kapal singgah di Pelabuhan Ragusa. Ragusa tak punya alternatif lain untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Apalagi gempa bumi dasyat tahun 1667 meluluhlantakkan sebagian besar isi kota. Menyisakan hanya setengah penduduk saat itu. Ragusa kehilangan otonomi sebagai negara merdeka saat Perancis di bawah Napoleon menguasainya. Ragusa jadi bagian Propinsi Illyria. Sejak tahun 1921 namanya berganti sebagai Dubrovnik, berbendera Kroasia. Kemakmuran kembali melanda. Kali ini, dari para wisatawan. Kapal-kapal besar kembali singgah. Kapal pesiar dari belahan lain dunia.

Berkeliling Kota Tua Dubrovnik

Sebagai kota wisata, Dubrovnik memang menawan. Klasik, elegan, bersih, dibangun di atas tebing setinggi 37 meter. Tidak salah bila dijadikan tempat syuting film atau serial. Setelah perang besar Eropa di Balkan tahun 1990-an, sebagian besar bangunan tuanya sudha kembali diperbaiki. Dubrovnik masuk dalam daftar budaya dunia Unesco sejak tahun 1979.

Butuh lebih dari satu hari untuk menjelajahi isi Dubrovnik. Dua tiga hari setidaknya.  Kecuali jika hanya sekadar lewat jantung kota tua. Sediakan pula stamina prima. Interiornya tidak didesain bagi kendaraan, apalagi kendaraan bermotor. Padahal kontur kota tuanya turun naik tajam, butuh tenaga ekstra. Di musim panas, membawa persediaan air minum lebih banyak, bukanlah ide buruk.

Baca juga:  Dari Tepi Nil ke Jantung Benua Biru

Benteng dan cincin tembok kota tua sepanjang hampir 2 km adalah destinasi utama Dubrovnik. Pada masa silam, di luar tembok dikelilingi parit lebar. Kota ini memiliki 5 benteng dan 16 menara. Tiga di antaranya berada di sepanjang cincin kota tua: Minceta, Bokar, Ivan. Benteng Lovrjenak di barat, Revelin di timur. Minceta di bagian utara, bertugas melindungi serangan musuh dari dataran tinggi. Mereka semua simbol pertahanan Dubrovnik. Cincin kota tua bagaikan open air museum, dikunjungi orang sepanjang tahun. Saking lebarnya, orang leluasa berjalan di atas tembok.

Terdapat tiga pintu masuk utama kota tua Dubrovnik. Melalui Gerbang Pila di barat, Vrata od Buze (Gerbang Buze) di utara, atau dari Gerbang Ploce, arah pelabuhan lama di timur. Antara Gerbang Pila dan pelabuhan lama membentang Jalan Stradun. Jalan primer kota tua, dibuat sejak abad 11. Jika kita memasuki kota tua dari Gerbang Pila, kita akan segera bertemu pancuran air minum Onofrio’s fountain. di musim panas, orang berkerumun di sekitar pancuran air. Mengisi botol-botol minuman mereka atau membasahi kepala sambil cuci muka. Mereka ngadem sambil duduk-duduk di bawah bayang-bayang menara jam. Air pancurannya dingin menyegarkan. Gratis lagi.

Di sekitar pancuran dan sepanjang Jalan Stradun pula kita bisa menyaksikan banyak orang berpakaian tradisional. Street performers memamerkan berbagai keahlian. Bermain musik jadul, menyanyi, menari, menjadi patung manusia berkostum unik. Di kedua sisi Jalan Stradun berdiri bangunan-bangunan batu alami 3-4 tingkat. Bentuknya dan warnanya mirip-mirip. Lantai dasar dimanfaatkan sebagai tempat usaha: kafe, rumah makan, toko, atau kantor. Sedangkan lantai atas sepertinya dipakai sebagai tempat tinggal. Di sela-sela bangunan kami temukan gang-gang jauh lebih sempit.

Bila kita mengambil gang arah utara, makan kita akan ketemu tangga-tangga menanjak tinggi. Ke selatan, ke arah lautan. Menyusuri gang-gang sempit selebar 1-2 meter di Dubrovnik tak kalah mengasyikkan. Semakin kita menjauhi Jalan Stradun, semakin sedikit kita ketemu keramaian dan tempat-tempat usaha. Sebagai gantinya, kita disuguhi kawasan permukiman penduduk setempat. Mereka menata pot-pot tanaman bunga dan buah mepet dengan tembok rumah. Sedikit mendongak, balkon-balkon mini muncul di depan pintu kayu. Kadang malah ada cucian sedang dijemur di gantungan antara dua bangunan. Mereka bahkan punya lapangan sepak bola dan bola basket mini tepat di sisi Benteng Minceta. Satu dua kafe terbuka mini akan menyapa kita. Tempat istirahat sejenak, sembari menyeruput kopi atau jus jeruk atau delima merah yang diperas langsung dari buah segar.

Baca juga:  Ziarah ke Yerusalem: Tertahan di Pintu Al Quds

Berjalan ke arah Gerbang Ploce, kami bertemu perairan terbuka. Sumber kemakmuran masa silam Dubrovnik, Pelabuhan Lama (Stara Luka). Menempati teluk kecil di ujung kota tua. Sekarang hanya boat dan yacht kecil bersandar di sana. Serta perahu angkutan ke Pulau Lokrum. Kapal-kapal besar bersandar di pelabuhan baru,  ke arah barat laut dekat tempat kami memarkir mobil. Ketika berjalan menyusuri pelabuhan hingga ke belakang Museum Maritim, kami mendapatkan kejutan.

Meski nyaris tidak ada pantai berpasir putih di dekat sini, malahan berupa tebing batu, walau tidak terlalu tinggi, kami melihat orang banyak menggelar tikar atau handuk untuk berjemur, sesekali nyemplung ke laut. Air lautnya bening, dan cuaca panas, sepertinya berendam di laut segar juga.

Di Bar Buza, kami ketemu yang lebih seru lagi. Jalan masuk ke bar ini adalah pintu sempit di tembok kota tua. Bar Buza berada di atas tebing tinggi dan curam. Datang kemari, orang ndak mesti duduk dan memesan sesuatu. Seperti kami. Yang mampir sebab ingin menyaksikan atraksi adu nyali para turis yang dikenal sebagai cliff jumping. Orang-orang merangkak naik, merayapi tepian tebing dengan tangan kosong. Setinggi mungkin. Sebelum melompat, terjun ke arah laut. Byurrrrrr.

Oh ya, di pusat kota Dubrovnik terdapat sebuah masjid di bawah naungan Komunitas Islam Kroasia. Tepatnya di Jalan Ulica Miha Pracata. Sekilas seperti sebuah gedung apartemen biasa. Masjid ini tidak bisa didatangi setiap waktu. Ada jam bukanya, tertera di tembok depan. Ia terdiri dari beberapa lantai. Memiliki ruang sholat dan ruang belajar bagi saudara muslim di sana.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top