Penulis Kolom

Anggota Komnas Perempuan. Mengajar di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukerojo, Situbondo, Jawa Timur

Kenali Pembisik Hatimu: Godaan Setan Vs Godaan Nafsu

Hadis yang sangat masyhur, menyatakan setan-setan dibelenggu di bulan Ramadan. Tapi mengapa masih banyak orang yang melakukan dosa, baik dosa kepada Allah secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dosa kepada Allah dengan menyakiti, merugikan, menyusahkan, membahayakan kehidupan manusia lainnya.

Apakah belenggunya kurang kuat sehingga setan bisa lepas? Atau sesungguhnya yang membuka pintu surga dan membelenggu setan hakikatnya adalah kita sendiri? Setan terbelenggu karena kita tidak memberi ruang untuk menggoda, surga terbuka karena kita banyak melakukan kebaikan dan neraka seakan tertutup karena kita mengekang nafsu.

Ada beberapa pendapat ulama menafsirkan hadis itu. Al-Qurthuby dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa yang dibelenggu adalah setan yang top top, embah embahnya (maradatusy syayathin), setan kelas jenderal. Sementara pion pion syetan tetap dilepas. Nah yang masih mengganggu yang pion-pion ini.

Sedang menurut ulama yang lain, hadis itu menggunakan bahasa metaforis atau dalam ushul fiqih disebut “majas”. Artinya, bukan setan dibelenggu pakai rantai begitu, (sebab produksi rantai juga butuh pabrik. Lah, mendirikan pabrik rantai di sana kan sulit). Melainkan karena orang yang berpuasa mampu menahan diri dan menahan nafsunya, sehingga syetan dengan sendiri nya terbelenggu. Makna kedua ini di isyarahkan oleh teks hadist yang menggunakan redaksi “mabni majhul” (istilah khusus dalam gramatika arab), yaitu redaksi “wa shuffidat”-dibelenggu. Siapa yang membelenggu?boleh jadi kita sendirilah yang membelenggunya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (102): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (4)

Apapun tafsirannya, sesungguhnya ada satu lagi penggoda dahsyat manusia melebihi godaan setan, yaitu “Hawa Nafsu”. Apa Hawa Nafsu?

Secara bahasa “hawa” bermakna “keinginan-syahwat” dan “nafsu” bermakna “diri sendiri”. Hawa Nafsu adalah keinginan diri sendiri. Mengikuti hawa nafsu artinya memperturutkan keinginannya sendiri, bukan “keinginan Allah” Atau “keinginan orang banyak”, merasa benar sendiri bukan kebenaran menurut Allah dan kebenaran orang banyak.

Bagaimana membedakan bahwa ini godaan syaithan atau godaan hawa nafsu? Mudah.

Dalam kitab al Minahu as Saniyah disebutkan: jika kita ingin sekali menyakiti orang lain, dan tidak akan berhenti keinginan itu sebelum menyakitinya, belum puas sebelum melaksanakannya, maka itu adalah godaan Nafsu. Nah jika kita ingin menyakiti orang, tapi kemudian muncul rasa kasihan, namun muncul lagi untuk menyakiti orang yg lain, dan begitu seterusnya, maka ini adalah godaan syaitan. Sebab bagi syaitan ndak penting siapa yg disakiti, yang penting kita “menyakiti”, yang penting berdosa apa pun bentuknya dan kepada siapa pun.

Contoh lain, jika kita ingin belanja barang tertentu, dan harus membeli barang itu, dan keinginan itu tidak akan pernah berhenti sebelum membeli barang itu, maka itu godaan nafsu. Nah jika kita ingin membeli barang tertentu, tapi kemudian dipikir ndak perlu karena menghabiskan uang, lalu muncul bisikan lain agar barang yg lain saja dan begitu seterusnya, maka pastikan itu godaan seitan, karena yg penting bagi syaitan bukan barangnya, yang penting uang kita habis.

Baca juga:  Menumbuhkan Kesadaran Diri Seorang Muslim 

Jika kita ingin mengkorupsi senialai 50 juta misalnya, dan tidak hilang keinginan sebelum mendapatkannya, maka pastikan itu godaan nafsu. Nah jika jita mau korupsi 50 juta, lalu kita merenung sebaiknya tidak karena merugikan orang banyak, lalu datang pembisik lagi, ndak usah 50 , 30 juta aja, 20 juta aja, 10 jt aja, 5 jt aja, 500 ribu aja, dst, maka pastikan itu godaan setan. Karena bagi setan ndak penting jumlahnya, yang penting kita Korupsi.

Demikian lah beda godaan syaithan dan godaan nafsu. Lebih jelas, silakan mengaji kitab diatas.

Jadi jika ada bisikan dalam hati kita untuk melakukan dosa atau sesuatu yang sia sia, maka mari kita raba dada kita, kita kenali, siapakah pembisik itu? Setankah? Atau hawa nafsu?

Surat terahir dalam Al-Qur’an, menyatakan bahwa pembisik itu (al muwaswis) ada dua, yaitu jin-syaithan dan “Hawa Nafsu Manusia”. Mengenali dua macam pembisik itu menjadi pintu mengobatinya.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top