Sedang Membaca
Diaspora Santri (8): Menjaga Generasi, Menggerakkan Tradisi: Pengalaman Menjadi Nahdliyin di Australia
Imam Malik Riduan
Penulis Kolom

Co-founder Peace Media Lab/ Mahasiswa Ph.D Penerima Beasiswa 5000 Doktor di School of Social sciences Western Sydney University Australia Konsentrasi kebijakan keamanan dan Terorisme.

Diaspora Santri (8): Menjaga Generasi, Menggerakkan Tradisi: Pengalaman Menjadi Nahdliyin di Australia

Whatsapp Image 2020 10 22 At 3.37.23 Pm

“Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya do’akan husnul khotimah beserta anak cucunya.”

Demikian konon Mbah Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pernah berpesan. Jika anda lahir dan besar di kalangan Nahdliyin, tentu saja pesan ini terasa begitu merogoh kesadaran untuk terus mengabdi dan menghidupkan tradisi.

Namun, pernahkan anda membayangkan bagaimana jika pesan itu diperdengarkan kepada anak-anak milenial yang lahir di Australia, dimana mereka tumbuh dalam kebudayaan liberal serta belajar dalam dunia Pendidikan yang kritis.

Tulisan singkat ini mengulas bagaiamana orang-orang NU di Australia berusaha mewariskan tradisi besar Ahlusunnah wa al jamaah ala al manhaj annahdliyah kepada genarasi penerus mereka. Harapan, kehawatiran, serta tantangan dan upaya, secara ringkas akan digambarkan dalam tulisan ini.

Selama kurang lebih satu tahun penulis berusaha merekam diskursus keberagamaan keluarga Nahdiyin di Australia. Selain melalui obrolan santai saat orang tua mengantar anak-anak belajar alquran atau saat pengajian komunitas Indonesia, penulis juga melakukan beberapa wawancara untuk mendengar cerita lebih detail.

Berdasarkan informasi yang terhimpun, orang-orang NU di Australia, khususnya di Sydney, menyadari bahwa pada generasi mendatang NU di Australia akan bermetamorfosa dalam bentuk yang berbeda.

Anak-anak yang tumbuh dan besar dalam situasi sosial yang liberal tentu memiliki persepsi yang berbeda mengenai sebuah tradisi jika dibandingkan mereka yang menerima doktrin sam’an wa thaatan. Selain itu, pendidikan kritis yang diajarkan di sekolah-sekolah di Australia pastilah memberikan pengaruh besar pada cara anak merespon apapun prilaku orang tua.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Kisah Nabi dan Ali di Hari Idul Fitri: Sepotong Roti Basi

Dad, they speak Bahasa Indonesia, I don’t understand, why should I go?, we just finished pray three hours ago, why should we do it again?. Pernyataan-pernyataan serupa sering kali muncul dan menuntut jawaban yang rasional. Bahkan, tidak jarang anak-anak merasa aneh melihat prilaku orang tuanya.

Misalnya saat melihat orang tuanya membaca Quran tanpa tahu artinya, demikian juga saat mendengar nama Gus Dur berkali-kali disebut dalam sebuah ceramah. Membaca tanpa tahu arti dan menyebut nama orang nun jauh dari tempat mereka yang berbeda konteks, semuanya terasa begitu aneh dan tidak masuk akal. Dad, what is the purpose, why should I do this? Demikian reaksi mereka.

“Anak-anak Australia memiliki kecenderungan untuk speak up, bersiaplah dianggap sebagai orang tua yang membosankan jika anda tidak dapat memberi jawaban yang masuk akal”, demikian pesan salah seorang tokoh NU di Sydney.

Melihat fakta yang demikian, Nahdliyin di Australia merespon dengan tiga tindakan; berusaha menyediakan komunitas yang kondusif, memberikan pengalaman belajar ala pesantren, dan selalu tawakal atas hasil dari segala upaya yang dilakukan. Ketiganya bukan perkara mudah, semuanya adalah proses yang tidak boleh berhenti demi agar NU tidak hilang ditelan sejarah menyusul tradisi kaum migran yang telah lenyap sebelumnya.

Ameera, Daffa dan Ayesya adalah tiga anak keturunan Indonesia yang tinggal di satu komplek apartmen dan belajar di sekolah yang sama. Ketiganya pagi itu begitu bersemangat untuk tampil pada event tahunan Mauleed Festival.

Baca juga:  Selokan Dosa Bernama Media Sosial

Bersama sebaya mereka keturunan Libanon, Malaysia, Turki, Azerbaijan dan beberapa negara lain, mereka akan menghibur ribuan orang di Sydney Olimpic Park, salah satu stadion termegah di Australia. Suasana gembira dalam ritual keagamaan inilah yang selalu ingin diciptakan oleh orang tua agar anak-anak tidak merasa dicekoki hal-hal irrasional.

Mengirim anak ke sekolah Islam dan memilih hunian dimana lebih mudah menemukan orang Islam adalah bagian dari cara yang dapat ditempuh agar anak-anak mendapatkan lingkungan yang baik.

Mengirim putra-putri ke pesantren-pesantren di Indonesia juga merupakan pilihan untuk menjaga kelangsungan NU di Australia. Bagi orang tua yang memilik strategi ini, mereka telah memberikan pra kondisi kepada anak agar jika tiba saatnya anak tidak begitu terkejut.

Seperti yang dilakukan Ustadz Najib misalnya, Ia selalu mengajak anaknya menemui para tamu dan mengajak anak-anak bersilaturahmi ke rumah keluarga nahdliyin yang juga memiliki pengalaman belajar di Indonesia. Secara berkala Ust. Najib juga mengajak putra-putrinya berkunjung ke pesantren. Menurutnya, dengan cara seperti ini anak-anak akan menemukan sisi-sisi tertentu yang mereka sukai dari dunia NU dan pesantren.

Bisa jadi mereka menikmati suasana humor dan kekeluargaan, atau pesantren yang multi kultural, bahkan bisa juga anak-anak menyukai tantangan belajar jauh dari orang tua. “Pe Er kita adalah menemukan hal atraktif pada dunia pesantren kepada mereka, jika kita gagal menemukannya pada usia dini maka tantangan meyakinkan akan lebih berat” demikian pesannya.

Baca juga:  Diaspora Santri (13): Nahdlatul Ulama di Yordania: Renaisans Gerakan Kajian Keilmuan dan Kemasyarakatan

Tawakal adalah hal terakhir yang tidak kalah pentingnya dengan perkara pertama dan kedua. Sebagai orang NU, Nahdliyin Australia sadar bahwa masa depan sepenuhnya ada pada takdir yang maha kuasa.

Hidup di Australia tidak seharusnya menjadikan kita insan materealistik dan meyakini logika dengan melampaui batas, keyakinan penuh akan rencana-rencana serta strategi tanpa tawakal hanya akan membuat diri tertekan bahkan stres. Sikap tawakal membuat orang tua lebih ihlas atas segala perubahan yang mungkin terjadi pada anak. Tawakal juga akan memberikan ketenangan dan kejernihan berpikir. Demikianlah pengakuan beberapa orang yang sempat penulis temui.

Dengan memberi lingkungan kondusif atau Pendidikan ala pesantren di Indonesia, sama halnya mendekatkan anak pada komunitas yang memiliki kedekatan latar belakang budaya.

Lebih dari itu, referensi dan pengalaman sosial yang mendekati pengalaman orang tuanya juga akan diperoleh. Setelah segala usaha dilakukan, maka bertawakal menjadi pamungkas agar bisa selalu berpikir lebih jernih untuk mengantisipasi segala hal buruk yang mungkin akan terjadi.

Sebagai penutup kami Nadliyin Australia meminta dukungan dan doa para pembaca, semoga cita-cita membangun pesantren atau sekolah Islam di Australia terwujud dengan ridha Allah. Amin

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top