Gus Baha dan Otoritas Keilmuan Ulama NU

Iip D Yahya

Memasuki hari lahir ke-93 NU tahun 2019 ini saya senang bukan kepalang. Sajian pengajian online dari para kiai pesantren semakin banyak dan bervariasi. Ada yang serius seperti Gus Ulil Abshar Abdalla yang mengampu Ihya Ulumuddin, ada yang penuh cerita seperti Gus Muwafiq, dan ada bintang baru yang langsung merebut perhatian publik, Gus Baha.

Bagi santri yang suka keluyuran, tentu senang dengan kajian Gus Baha soal pentingnya keluyuran. Ia mengutip ayat-ayat Alquran yang menjelaskan tentang pentingnya perjalanan, sambil mencontohkan pengalaman Muhammad saat berusia 9 atau 12 tahun dibawa bepergian oleh pamannya Abu Thalib.

Dalam perjalanan itulah Muhammad bersua pendeta Bakhira yang menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Akibat dari perjalanan inilah berita telah munculnya Nabi terakhir tersebar luas. Menurut Gus Baha, oleh karena itu keluyuran sangat penting agar menambah wawasan dan pengalaman, jangan berdiam diri saja sambil berharap tiba-tiba bisa jadi wali.

Baca juga:

Beruntung saya mengerti bahasa Jawa, jadi dengan mudah dapat mencerna petikan-petikan kajian Gus Baha yang disajikan antara lain oleh admin Santri Gayeng. Pilihan judul dari setiap bahasan cukup menarik dan lucu. Misalnya:

Dasar orang saleh amatiran; Kalau salat itu jangan kelamaan, bisa merusak Islam; Tidak dimintai pertimbangan, kok ikut campur urusan Allah?; Imam Syafi’i pernah pro-miskin, sampai akhirnya trauma kemiskinan; Runtuhlah teori Wahabi soal bid’ah …, dan lain-lain.

Gus Baha’ atau KH. Baha’uddin Nursalim adalah alumni pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Seorang santri kesayangan Hadratus Syaikh Maimoen Zubair. Tak kurang dari mufassir sekalibar Prof. Quraish Syihab, memuji kecerdasan Gus Baha. Menurut ayahanda Najwa Shihab itu, Gus Baha adalah sosok langka karena menguasai tafsir sekaligus fikih.

Baca juga:  Melihat Mahbub DJunaidi dengan Mata Max Weber

Selesai mengahafal Alquran beserta qiroahnya kepada ayahanda Kiai Nursalim di Kragan, Rembang, Baha kemudian melanjutkan pengajiannya di pesantren Mbah Moen. Di bawah asuhan Mbah Moen, Gus Baha menghafal berbagai kitab klasik, mulai dari Fathul Mu’in (fiqih), Shahih Muslim lengkap beserta matan dan sanadnya (hadis), dan kitab-kitab lain. Sudah barang tentu kitab tata bahasa Arab seperti Imrithi dan Alfiyah, tandas dihafalnya.

Sekalipun hanya mengaji di pesantren asuhan ayahnya dan Mbah Moen, kepakaran Gus Baha mulai meramaikan jagat intelektual Islam Indonesia. Ia masuk dalam jajaran Dewan Tafsir Nasional, Ketua Tim Lajnah Mushaf UII, Penasehat BAZNAS, dan lain-lain. Konon, ia pernah ditawari untuk menerima gelar doktor honoris causa dari UII, tapi ia menolaknya. Gus Baha adalah produk pesantren Indonesia, dengan kealiman yang pilih tanding.

Penampilannya yang sederhana, justru menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat. Tak ad serban yang menjuntai ataupun jubah. Bahkan, cara memakai pecinya yang agak semerawut, seperti santri yang sedang leyeh-leyeh di serambi asrama. Kemewahannya adalah saat mengutip beragam riferensi kitab-kitab klasik.

Bahasanya yang sederhana dan lugas, mudah dicerna oleh pendengar dan pemirsa. Dengan jernih ia membongkar trik-trik ulama Wahabi dalam mendiskreditkan ulama-ulama Sunny dengan logika yang menjebak, misalnya soal bid’ah yang membandingkan antara Imam Syafi’i dengan Nabi Muhammad. “Mau ikut Nabi atau Imam Syafi’i?” Begitulah pertanyaan diajukan sehingga orang yang awam akan mudah terkecoh. Padahal persoalan yang disajikan tidak sesederhana itu.

Baca juga:  Wacana Gender di Pesantren Putri

Menurutnya, banyak hal yang tidak diamalkan dan diajarkan langsung oleh Nabi, tetapi dilakukan oleh para sahabat, dan Nabi Muhammad membenarkan amaliah mereka itu. Dengan demikian, soal bidah ini tidak sederhana sehingga Imam Syafi’i kemudian membaginya dalam dua kategori: yang baik dan yang buruk.

Gus Baha juga membahas soal tuduhan kafir kepada warga Nahdliyin yang tahlilan. Ia menunjukkan kesesatan berpikir dalam tuduhan yang ngawur ini.

“Orang yang 80 tahun kafir, lalu mengucap ‘laa ilaaha illallah’ makai ia menjadi mukmin. Lah kita yang selalu membaca ‘la ilaaha illallah’ dalam tahlilan, kok dicap kafir? Ini mazhab yang aneh!” ujarnya lugas.

Baca Juga

Yang menyenangkan, kedalaman ilmunya itu dibarengi dengan sikap tawaduknya yang dalam. Sekalipun ia bisa menguliti kesalahan pendapat yang menyerang NU, tak pernah ia menyerang seseorang atau menyinggung pribadi seseorang di majlis pengajiannya.

Menyaksikan pengajian daring Gus Baha mengingatkan saya pada dokumen majalah Al-Mawaidz yang diterbitkan oleh NU Tasikmalaya di awal tahun 1930-an. Dalam propaganda NU waktu itu, selalu dijelaskan, mengapa organisasi ini dinamakan nahdlatul ulama, bukan nahdlatul muslimin, karena yang bangkit adalah para ulama atau elitnya.

Tak heran jika saat itu menjadi anggota NU tidak sembarangan, ada serangkaian test dan kewajiban membayar iuran bulanan. Ringkasnya, NU memang organisasinya orang alim, sesuai namanya. Dan pesantren sebagai fondasi NU, terus menghasilkan ulama yang akan menjadi pengelolanya.

Gus Baha adalah bukti bahwa pesantren-pesantren NU terus produktif menghasilkan ulama. Kajiannya yang bernas, menambah rasa optimisme bahwa NU akan terus berkembang dan memandu Islam di Nusantara dan dunia.

Pesantren NU tak akan pernah kekurangan orang alim. Tugas para aktivis media di lingkungan NU adalah bagaimana memberi panggung kepada para ulama ini. Agar umat Islam tidak terus menerus terkecoh oleh ulama karbitan yang “serba bisa” menjawab seluruh masalah keagamaan jamaahnya.

Baca juga:  Hamzah Fansuri dan Tradisi Sastra Esoterik di Nusantara

Walhasil, sependek amatan saya ikut “mengaji” daring bersama Gus Baha, dapatlah disimpulkan, santri NU, apalagi pengurus NU, kalau berhadapan dengan Wahabi atau HTI yang menganggu, jangan sampai kalah debat. Kalau kalah, solusinya hanya satu: ngaji lagi. Wallahu a’lam.

Lihat Komentar (3)

Komentari

Scroll To Top