Sedang Membaca
Menyingkap Doktrin Martabat 7: Secarik Catatan Tentang Sangkan
Heru Harjo Hutomo
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Menyingkap Doktrin Martabat 7: Secarik Catatan Tentang Sangkan

20210106 100152

Banyak anggapan bahwa Syekh Junaid merupakan seorang imam sufi yang condong ke arah paham ahlus sunah wal jamaah sebagaimana al-Ghazali, yang kerap menjadi rujukan paham tasawuf NU— meski tak mutlak berlaku.

Sebagaimana guru awal al-Hallaj, Amr al-Maki, Syekh Junaid dikenal memiliki pandangan yang tak cocok dengan si penjual parfum itu, yang condong ke arah paham penitisan atau hulul.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pandangan seperti itu tak mutlak pula dapat diamini. Sebab, dalam satu riwayat, Syekh Junaid pernah mengungkapkan perihal janji kawula-Gusti yang terdapat pada surat al-Baqarah: Alastu birabbikum, qaa luu balaa syahidna.”

Berdasarkan penyingkapan ini dapat dikatakan bahwa kesadaran manusia pada Tuhannya pada dasarnya adalah sesuatu yang innate.

Dalam khazanah budaya Jawa, yang dalam konteks ini lebih dekat ke paham wujudiyah (meski pula doktrin martabat 7 tak mutlak dianut tarekat-tarekat yang cenderung bersifat filsafati), terdapat ritual ketika seorang janin yang berumur 3 bulan dirayakan dengan tradisi “telonan” atau 3 bulanan.

Saya kira di sinilah penjelasan kenapa di Jawa ritual itu biasa digelar: memperingati perjanjian antara seorang kawula dengan Gusti-nya.

Sebab, pada usia inilah si janin berada pada tahapan dumeling atau dapat mendengarkan—peristiwa terpilahnya antara a’yan tsabitah dan a’yan kharijah atau dalam laku eling adalah terpilahnya antara yang eling dan yang dumeling).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kisah panjang seorang anak manusia, berdasarkan pandangan tersebut, adalah kisah pengingatan dan penemuan kembali fitrahnya. Dan kisah ini tak sama pada masing-masing orang.

Baca juga:  Ngaji Suluk Sunan Muria (3): Memaknai Tapa Ngeli Sunan Muria dalam Pandangan Tasawuf Falsafi

Ada yang sekejap menemukannya kembali, ada yang bertahun-tahun, dan bahkan ada yang sampai akhir hayatnya tak menemukannya.

Agama, budaya, dan bahkan sains, pada dasarnya dapat dimaknai sebagai sarana manusia dalam proses pengingatan dan penemuan kembali fitrahnya tersebut—meskipun tak ada jaminan bahwa orang pasti menemukannya kembali.

Pada usia 5 mingguan sang janin telah disertai oleh apa yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai sedulur 4: kakang kawah (air ketuban), adi ari-ari (plasenta), pusar dan darah.

Kenapa orang-orang Jawa di masa silam menyebutnya sebagai sedulur adalah karena saking dekatnya ia dengan sang janin yang menjadi pancer atau pusatnya.

Pada salah satu kidung Kalijagan, konsep sedulur 4 yang masih memiliki wujud fisik ini dijelaskan tentang peran dan fungsinya pada janin.

Ana kidung akadang premati

Among tuwuh ing kawastanira

Nganaaken saciptane

Kakang kawah puniku

Kang rumeksa ing awak mami

Anekaaken sedya

Pan kawusananipun

Adhi ari-ari ika

Kang mayungi ing laku kuwasaneki

Ngenaaken pengarah

 

Ponang getih ing rahina wengi

Angrowangi Allah kang kuwasa

Andadeaken karsane

Puser kuwasanipun

Nguyu-uyu sembawa mami

Nuruti ing panedha

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kuwasa nireku

Jangkep kadangingsun papat

Kalimane pancer wus sawiji

Nunggal sawujud ingwang

Dalam kidung Kalijagan itu sedulur 4 adalah yang mengupayakan segala kebutuhan sang janin. Kakang kawah atau air ketuban adalah yang menjaga sang janin.

Baca juga:  Hamzah Fansuri dan Tradisi Sastra Esoterik di Nusantara

Adi ari-ari atau plasenta adalah yang mengarahkan tujuan, yang karenanya, tradisi Jawa akan memperlakukannya laiknya manusia, memendam di samping pintu dan menaburi bunga serta meletakkan ublik atau lampu di atasnya.

Sementara darah adalah perantara kemahakuasaan dan kehendak Tuhan. Puser atau pusar adalah yang mendorong, mendukung dan menyemangati keinginan sang janin.

Keempat sedulur ini, yang berwujud air ketuban-plasenta-darah-pusar, menjadi satu kelengkapan sang janin dalam rahim sang ibu.

Keempat sedulur itu akan pula tetap menyertai sang janin ketika lahir dan hidup di rahim sang alam. Tapi, mereka tak lagi berwujud materi.

Dalam al-Qur’an disebutkanlah tentang diri-diri yang menyertai manusia dalam mengarungi kehidupannya: ammarah, lawwamah, dan muthmainnah (Radikalisme, Konsep dan Transformasi Diri dalam Tasawuf, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id).

Yang menarik di sini adalah ketepatan orang-orang Jawa di masa silam dalam menggambarkan tahapan-tahapan tercipta dan terbentuknya lahir dan batinnya seorang anak manusia dengan hasil analisa ilmu medis modern. Padahal, di masa silam jelas belum ada sonografi yang dilengkapi dengan teknologi yang canggih.

Dengan kata lain, konsep martabat 7 yang menjadi bagian dari konsep sangkan-paraning dumadi , yang bagi orang-orang goblok kerap dianggap sebagai bagian dari TBC (takhayul, bid’ah, churafat), ternyata sangatlah ilmiah.

Seumpamanya pada janin yang berusia 4 bulan adalah terbentuknya wulu atau dalam bahasa medis disebut sebagai lanugo, setelah sebelumnya adalah kuku pada usia janin 3 bulan.

Baca juga:  Ketika Nabi Dicurhati Masalah Ekonomi

Fakta ilmiah lain yang terjadi pada tahap ini adalah kemampuan bayi untuk bermimpi, karena juga mengalami siklus tidur lelap laiknya manusia dewasa. Pada konsep martabat 7, bayi ini berada pada tahapan alam mitsal yang berkaitan dengan dunia imajinal—yang menjadi inspirasi Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi meracik dunia imajinal dalam tasawuf-filsafatinya.

Sementara pada usia 7 bulan secara medis janin telah lengkap (jangkep) menjadi sesosok anak manusia dengan segala perlengkapan kemanusiannya, lahir dan batin, dimana dalam konsep martabat 7 disebut sebagai tahapan insal kamil atau manusia sempurna.

Budaya Jawa kemudian memperingati tahapan ini dengan menggelar kenduri atau slametan yang disebut sebagai “tingkepan” atau 7 bulanan.

Dalam budaya Jawa pada dasarnya setiap proses sangkan manusia itu perlu diperingati dalam setiap bulannya. Tapi, para leluhur telah menggariskan memilih angka-angka ganjil untuk menggelar peringatannya.

Hal ini memang berkaitan dengan esok ketika seorang anak manusia tak lagi hidup di rahim sang ibu, tapi di rahim sang alam dan kelak di rahim sang Maha Rahim.

Dengan demikian, mengapa banyak orang Jawa –yang masih lekat dengan kejawaannya–  menggelar dan menghadiri peringatan semacam telonan ataupun tingkepan?  Juga nantinya pitonan sampai kelak surtanah, 3 bulan, 7 bulan, dst? Mereka sejatinya ingin mengenang kembali sangkan-paran mereka masing-masing.

Di sinilah kemudian misteri cermin dalam konsep tabarukan menemukan kegamblangannya: segala cahaya yang ditebarkan akan kembali pada yang menebarkannya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top