Sedang Membaca
Sufi, Tafsir Mimpi, dan Imaginasi (2)

Sufi, Tafsir Mimpi, dan Imaginasi (2)

Hasan Basri Marwah

Seperti dituliskannya dalam “catatan” penelitian-lapangannya, bahwa ayahnya adalah seorang psikiatris dari Jerman dan ibunya adalah psikolog aliran Jung-ian asli Mesir. Wajah campuran mengental dari keseluruhan posturnya. Tapi ini bukan soal tubuh dengan asumsi orientalistik yang merayakan eksotisme rekaan akan fantasi seksual.

Sosok ini adalah seorang akademisi muda, kelahiran 1970, yang memiliki ketajaman dan kedalaman intelektual yang berani menyela asumsi-asumsi mapan dalam disiplin yang digelutinya, yakni Antropologi.

Saat ini, Amira Mittermaier adalah seorang guru besar Antropologi di Departement for Religion Study and The Departement of Near and Middle Eastearn Civilzation, Universitas Toronto, Kanada. Pendidikan dan karirnya sebagai Antropolog diselesaikannya di Universitas Columbia, Amerika Serikat.

Karya Amira The Dreams that Matter: Eygptian Landscapes of the Imagination (2010) telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi di bidang Antropologi, misalnya Clifford Geertz Prize in Anthropology of Religion (2011), Victor Turner Prize for Ethnographic Writing, dan beberapa penghargaan lain dari lembaga kajian agama di Amerika.

Di sini, saya hanya memaparkan sebagian dari postur penelitian Amira, tertutama penghargaan pada ketelitiannya dalam menemukan sebuah lema bernama “mimpi” untuk menyuarakan episteme-episteme minor (cara mikir yang terpinggirkan) di luar episteme dominan. Mencari celah agar suara minor yang telah lama tenggelam bisa berbicara kembali merupakan obligasi yang seharusnya diteladani masyarakat terpelajar di Indonesia, bukan malah berpartispasi meredam dam membisukan tradisi pengetahuan minor yang mereka warisi dari tradisi mereka sendiri.

Baca juga:  Konstruksi Nalar Pesantren dalam Menangkal Radikalisme

Seperti jamak diketahui, bahwa modernitas yang bergandengan dengan kolonialitas melahirkan beragam hal di negara-negara kawasan Timur Tengah, dari kerapuhan politik, ekonomi, kebudayaan, sampai kelompok reformis sekaligus fundementalis Islam. Modernitas atau kolonilaitas tidak saja menata ulang politik, ekonomi, militer tetapi juga subjektivitas, epistemologi dan imaginasi masyarakat jajahan.

Ada kontestasi antara “cara mengetahui” yang lama dengan “cara mengetahui” yang modern. Di mana seringkali “cara mengetahui” yang modernis itu dimenangkan oleh orang kebanyakan, di manapun.

Seperti dalam kasus yang dialami masyarakat Indonesia, ketika mereka sakit, walaupun mereka masih mendatangi dukun tetapi disempurnakan dengan mendatangi dokter bersertifikat. Atau ketika kehilangan sesuatu, mereka mendatangi tukang tenung, dukun atau kiai tetapi pada akhirnya juga melaporkan kepada pihak kepolisian.

Dalam persoalan mimpi yang ditelitinya, walaupun ada sudut pandang berbeda mengenai mimpi yang diwarisi oleh warga muslim kota Kairo dari tradisi pengetahuan Islam, tetapi pada akhirnya kebanyakan mereka memilih pandangan modern mengenai mimpi.

Orang lebih cenderung memilih psikolog atau pandangan piskologi ketika mendiagnosa mimpi daripada membuka kita tafsir mimpi atau mendatangi para ahli tafsir mimpi tradisional.

Baca Juga

Pada awal penelitian lapangannya, Amira selalu dicemooh oleh para narasumber penelitiannya. Misalnya, kenapa harus meneliti sesuatu yang tidak penting. Bukan masalah mimpi ini hanyalah ‘ay al-kalam’ (omong kosong), bunga mimpi (adhgoosu ahlaam), dan banyak lagi.

Baca juga:  Sabilus Salikin (130): Tarekat Dasuqiyah

Mimpi bagi sebagian lain, terutama mereka yang terlibat dalam gerakah Islam (harakah Islamiyah) yang sudah tertular reformasi Islam menganggap mimpi sebagai bentuk Islam yang tidak otentik.

Kedua contoh ini memaksa Amira merayu ibunya agar mau datang ke Mesir agar ia lebih mudah mendapatkan lebih banyak narasumber tentang posisi mimpi dan tafsir mimpi di tengah masyarakat Kairo yang sedang bergolak secara politik karena Arab Spring, dan kehidupan yang rapuh (waking life)terlihat di hampir seluruh sudut kota.

Amira kemudian bertemu dengan sejumlah mursyid dari berbagai tarekat yang berkembang di kota Kairo. Melalui kalangan sufi inilah, Amira semakin yakin bahwa ada ‘jurang menganga’ antara konsep mimpi yang didalaminya dalam Antropologi atau konsep ‘mimpi’ dalam tradisi psikologi dan psikoanalisa yang diakrabi dari kedua orang tuanya dengan konsep mimpi dalam tradisi tasawuf Islam.

Persoalan mimpi menjadi bahasan utama dalam sejarah Islam, tidak saja disebutkan dengan gamblang dalam Alquran dan kehidupan Kanjeng Nabi SAW, tetapi bagaimana ada teorisasi mimpi yang sistematik pada masa selanjutnya, jauh sebelum semangat pencerahan Barat.

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top