Sedang Membaca
Demi Masa: Menelisik “Pandom Lonthe” Pada Masa Kini
Heru Harjo Hutomo
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Demi Masa: Menelisik “Pandom Lonthe” Pada Masa Kini

Whatsapp Image 2020 02 27 At 2.02.18 Pm

Suatu hari saya berjalan-jalan di mal dan melihat beberapa jam dinding yang aneh. Tak seperti biasanya, jam dinding itu tak ada jarum penunjuk detiknya. Barangkali jam dinding tanpa penanda detik sudah lazim di masa kini, atau saya saja yang  memang kurang gaul atau kudet.

Di zaman modern yang memang serba kalkulatif ini, waktu terbiasa dipecah menjadi satuan detik, menit, dan jam. Barangkali, karena hal itulah, waktu di zaman modern seolah berjalan lebih cepat dibanding waktu di zaman silam—tak tersadari, tiga bulan lagi Ramadan tiba, padahal detail ingatan atas Ramadan tahun lalu masih gamblang di kepala.

Tentu, di sini saya tengah berbicara tentang penghayatan atas waktu, bukannya waktu itu sendiri atau waktu obyektif yang merupakan sebentuk konsensus yang ditandai oleh alat-alat pengukur waktu. Tapi benarkah, tanpa adanya penunjuk waktu, waktu obyektif itu ada?

Rutinitas yang dihadirkan oleh modernitas seakan menyebabkan waktu berjalan lebih cepat. Saya teringat salah satu esai Albert Camus, Mite Sisifus, tentang absurditas yang juga tercipta karena rutinitas yang menjadi penanda khas kalangan urban. Hari-hari senantiasa dihiasi oleh aktivitas bangun tidur, pergi ke kantor, berjam-jam bekerja, pulang dari kantor, tiga atau empat jam kemudian tidur kembali, dan begitu seterusnya.

Inilah rutinitas yang, seandainya dipikirkan, akan memantik sebuah pertanyaan eksistensial: untuk apa pada akhirnya dan kenapa harus demikian adanya? Berlembar-lembar upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu pun lahir. Setidaknya, eksistensialisme adalah salah satu gerakan filsafat yang fokus untuk menggali permasalahan itu. 

Martin Heidegger merupakan salah seorang filosof yang cukup banyak menyumbang pemikiran pada eksistensialisme. Ia memilah dua macam waktu: waktu obyektif—waktu yang merupakan hasil kesepakatan—dan waktu subyektif atau waktu eksistensial—waktu yang lebih merupakan waktu yang dihayati (Neo-Khawarij, Habib Rizieq, dan Masyarakat Sipil, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.co.id).

Waktu obyektif seumpamanya adalah jadwal kerja, hari Senin sampai dengan Jum’at, mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Waktu obyektif ini memerlukan piranti sebagai penanda: jam dinding, arloji, kokok ayam ataupun kentongan dan beduk—karena itulah di pedesaan umumnya istilah jam ataupun pukul disebut pula sebagai “tabuh.” Sedangkan waktu subjektif seumpamanya adalah perempuan yang tengah menstruasi. Waktu dalam kondisi demikian senantiasa serasa melar dan lama, 5 menit seolah berjalan selama 5 jam. 

Karena itulah, seorang pujangga Jawa, Ronggawarsita, pernah mengukur waktu dengan ukuran usia jagung: “Amung saumuring jagung suwene.” Metafora ini ia gunakan untuk mewedarkan nujumannya tentang kekuasaan si jago kate (“Wiring kuning dedege cebol kepalang”) di mana banyak orang menafsirkannya sebagai zaman penjajahan Jepang yang berlangsung selama 3,5 tahun (Serat Jangka Jayabaya).

Rata-rata usia panen jagung adalah 3,5 sampai 4 bulan. Tentu, dalam hal ini, Ronggawarsita sedang berbicara tentang waktu subyektif. Pengalaman dijajah Belanda selama sekian abad, dan kondisi kebatinan yang selama ini ia tempa, menyebabkan waktu 3,5 tahun serasa 3,5 bulan.

Waktu subjektif ini juga kentara di lingkungan pedesaan, khususnya di kalangan pertanian. Para petani di pedesaan Jawa lazimnya menggantungkan perkiraan waktu bukan berdasarkan penanda waktu sebagaimana waktu obyektif. Seumpamanya kerja sedina (sehari) dan sekesuk (sepagi), ukuran waktu di sini tak harus mulai pukul 07.00 sampai dengan 16.00 untuk waktu sehari dengan selang sejaman untuk waktu istirahat (bedug/luhur). Atau mulai pukul 07.00 sampai dengan 12.00 untuk waktu kerja sepagi (sekesuk).  

Dalam hal ini, bisa jadi waktu sedina dan sekesuk, dengan upah harian yang sama, dapat berlangsung hanya mulai pukul 07.00 sampai dengan 10.00 dengan diselingi 15-an menit sebagai waktu sarapan untuk waktu sekesuk. Karena kerja pertanian, seperti tandur (menanam padi) atau tamping (memperbarui galengan atau selangkah tanah pembatas petak sawah), dapat dikerjakan hanya dalam waktu 2 sampai 3 jam-an untuk ukuran tanah sekotak (1400 m2) dengan upah tetap dalam hitungan sedina.

Pada saat yang sama, kalangan urban mengacu mulai pukul 07.00 sampai dengan 12.00. Dan ini pun, untuk ukuran upah, berbeda-beda dalam setiap wilayah. Semua berlangsung sesuai dengan kesepakatan masyarakat setempat. Dengan demikian, dalam konteks ini, waktu obyektif adalah sesuatu yang relatif. Atau dengan kata lain, tak selamanya waktu itu bersifat obyektif, tapi juga subjektif atau bahkan intersubjektif.

Dalam perjalanannya, waktu seolah-olah menjadi objektif ketika jam pendulum ditemukan di Eropa untuk mengukur waktu kerja orang-orang pabrik (masa revolusi industri). Lambat laun, jam pendulum pun berkembang menjadi semakin praktis sebagaimana sekarang: jam dinding atau arloji yang menggunakan penunjuk waktu (pandom/jarum jam) tiga macam yang mengacu ke satuan ukuran jam, menit, dan detik yang—dalam masyarakat Jawa—lazim disebut sebagai “pandom lonthe.”

Ukuran detik, yang dalam konteks jam ditandai oleh pandom lonthe, sering diukur dengan ungkapan “sak gebyaring thathit” (sekelebat kilat) ataupun “saunjaling napas” (satu tarikan nafas). Sampai di sini saya tergelitik soal satuan detik yang diasosiasikan dengan pandom lonthe. Taruhlah, secara khusus, satu tarikan nafas untuk ukuran sedetik, bukankah ukuran masing-masing orang berbeda tergantung pada kondisi paru-paru dan kondisi jantung yang memengaruhi detaknya?

Barangkali, di sinilah kemudian istilah pandom lonthe menemukan konteksnya. Dalam perputaran jam, terlihat pandom lonthe adalah satu-satunya jarum yang berputar paling binal, paling tergesa-gesa. Di antara jarum penunjuk jam dan menit itu, ia seolah yang paling bingung, cepat berubah, tak dapat menetap pada sebuah posisi secara jenak, banyak tingkah atau tak dapat anteng.

Dalam khazanah budaya Jawa terdapat ungkapan “sing sapa was bakale tiwas” (siapa yang bimbang akan meregang), yang sepadan dengan sesanti R.M.P. Sosrokartono: “Anteng meneng sugeng jeneng.” Di sinilah kemudian waktu menjadi sesuatu yang pokok, yang kemudian mengilhami kisah Murwakala dalam pewayangan.

Dan barangkali, di sini pula rahasia waktu yang tersemat dalam surat al-‘Ashr: “Wa al-‘Ashri/ Inna al-insaana lafii khusrin.” (SI)      

Baca juga:  Sejarah Waktu, dari Teknologi hingga Kitab Suci
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0

Waktu dan Kekufuran Kita

Waktu dalam sejarah
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top