Sedang Membaca
Filosofi Tawadhu’ dalam Sebuah Dumbek
Penulis Kolom

Mahasiswa Studi Agama-agama di UIN Walisongo Semarang.

Filosofi Tawadhu’ dalam Sebuah Dumbek

Dumbek

Salah satu makanan khas daerah pesisir di kabupaten Rembang, Jawa Tengah adalah dumbek. Kudapan ini terbuat dari campuran gula aren, santan, tepung tapioka, dan tepung ketan yang ditaburi kelapa muda di atasnya. Makanan yang memiliki bentuk lonjong mengerucut ini terbilang unik karena dibungkus dengan lilitan daun lontar yang melingkar dari atas sampai bawah.

Belum banyak yang mengetahui bahwa jajanan tradisional yang biasa disajikan saat acara sedekah bumi, hajatan pernikahan, maupun lebaran ini ternyata mengandung makna filosofi religius. Menurut sejarawan asal Rembang, Edi Winarno menyebut bahwa daun lontar yang membungkus dumbek dapat dimaknai sebagai sifat tawadhu’ manusia kepada Allah.

Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan daun lontar yang semakin menunduk, seperti tangga dari putaran kecil menuju putaran besar. Dengan kata lain, bentuk tersebut mengibaratkan manusia harus berusaha dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Kemudian, secara bertahap manusia akan mampu dan terbiasa berusaha untuk melakukan suatu hal yang lebih besar. Sederhananya, manusia dianjurkan untuk bersikap rendah hati dalam menjalani kehidupan mereka.

“Dan janganlah kalian berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kalian tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (Q.S. Al-Isra’: 37).

Dari ayat tersebut, Allah mengajak manusia untuk menghindari sifat sombong. Allah mengingatkan manusia dengan memberikan pengibaratan berupa mereka tidak dapat menembus bumi maupun menjulang setinggi gunung. Perumpaan serupa juga dikatakan oleh Salim ‘Id Hilali dalam buku Hakikat Tawadhu’ dan Sombong, yakni orang sombong selalu meninggikan badannya untuk mengapai bangunan yang tinggi. Padahal, sifat tersebut telah nyata dikatakan oleh Allah bahwa manusia tidak akan mampu menembus bumi maupun menjulang setinggi gunung.

Baca juga:  Makrifat Realitas Diri atas Langit (1)

Maka, manusia diharapkan mampu bersikap rendah hati dalam menjalani hidup. Menjadi manusia yang memiliki sifat tawadhu’ mampu menjadikan kita merasa sebagai orang biasa saja, meskipun memiliki banyak kelebihan. Manusia akan selalu merendahkan dirinya dihadapan Allah, di samping bersikap rendah hati kepada sesama. Sehingga, orang-orang dengan sikap tawadhu’ ini tidak akan berbuat sewenang-wenang terhadap manusai lainnya. Justru, mereka akan memilih membantu sesama tanpa memandang rendah derajat orang lain.

Tawadhu’ sendiri dimaknai sebagai sebuah sikap ketundukan dan rendah hati. Asal kata ini yaitu tawaadha’atil ardhu yang bermakna tanah itu lebih rendah daripada tanah di sekelilingnya. Sehingga, dapat dipahami bahwa manusia sangat tidak dianjurkan untuk merasa lebih tinggi dari sesamanya. Mereka sama-sama tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah pula. Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia menerapkan pola hidup dengan penuh kerendahan hati.

Di samping itu, terdapat keutamaan ketika manusia telah mampu menjalani hidup dengan rendah hati. Mereka akan diangkat derajatnya oleh Allah karena sikap ketawadhu’an tersebut, yang mana sikap ini hanya dilakukan semata-mata karena-Nya saja. Manusia juga akan terhindar dari perilaku menganiaya dan berbuat sesukanya terhadap sesama, karena mereka menyadari bahwa tidak ada perbedaan sebagai sesama makhluk Allah. Bahkan, manusia yang memiliki sikap tawadhu’ akan terhindar dari sikap sombong dan merasa paling tinggi daripada makhluk lainnya. Mereka telah menyadari bahwa bersikap sombong tidaklah memiliki manfaat sedikit pun. Justru, sikap tersebut akan meninggikan hati dan mampu mengarahkan manusia pada sikap-sikap buruk lainnya.

Baca juga:  Tentang Kaum Sufi dan Pandangan "Banyak Jalan Menuju Tuhan"

Maka, sudah barang mungkin bagi kita untuk mengamalkan dan menjaga diri agar selalu bersikap rendah hati. Mengambil folosofi dari sebuah dumbek yang terbungkus daun lontar, manusia agaknya perlu mengambil sisi religius yang jarang dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi kita agar meninggalkan sikap kesombongan dan lebih memilih untuk bertawadhu’ dalam menjalani kehidupan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
3
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top