Sedang Membaca
Wibawa Iman Ja’far Ash-Shadiq Dihadapan Khalifah Al-Mansur
Hosiyanto Ilyas
Penulis Kolom

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Miftahul Ulum Bangkalan. Pernah menimba ilmu di Ponpes Attaroqqi Karongan Sampang. Pegiat Bahtsul Masail LBM NU.

Wibawa Iman Ja’far Ash-Shadiq Dihadapan Khalifah Al-Mansur

1 A Al Manshur

Imam Ja’far Ash-Shadiq nama lengkapnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib. Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 83 Hijriyah. Panggilannya adalah Abu Abdullah dan Abu Ismail. Gelar kehormatannya adalah Ash-shadiq, Al-Fadil, dan At-Thahir.

Imam Ja’far Ash-Shadiq hidup di masa dinasti Abbasiyah, pada waktu itu Khalifahnya adalah Abu Ja’far Al-Mansur. Nama populernya adalah Al-Mansur. Beliau adalah Khalifah kedua dinasti Abbasiyah. Di bawah ini adalah kisah Imam Ja’far Ash-Shadiq ketika diundang Khalifah Al-Mansur untuk datang ke istananya. Adapun kisahnya sebagai berikut:

Syekh Muhammad Ilyas Al-Atthar dalam karyanya Sajarah At-Thariqah Al-Qadariyah Al-Atthariyah (Juz, 1 Hlm.69-70) mengutip kisah Imam Ja’far Ash-Shadiq ketika bertemu dengan Khalifah Al-Mansur. Pada suatu hari Khalifah Al-Mansur menyuruh menterinya mengundang Imam Ja’far Ash-Shaqid untuk datang ke istananya. Khalifah Al-Mansur berniat mau membunuh Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Si menteri berkata, “Wahai amirul mukminin (Al-Mansur) Imam Ja’far Ash-Shadiq itu mengasingkan diri, tidak banyak bergaul, ia fokus beribadah kepada Allah, dan ia tidak suka pangkat atau jabatan, tidak ada manfaatnya ia dibunuh.”

Si menteri itu, terkesan menolak perintah Khalifah Al-Mansur, namun hal itu tidak dihiraukan oleh Khalifah Al-Mansur. Niat dan tekad Khalifah Al-Mansur sudah bulat, ia tetap ingin membunuh Imam Ja’far Ash-Shadiq. Terpaksa si menteri mengikuti perintah Khalifah Al-Mansur untuk mendatangkan Imam Ja’far Ash-Shadiq ke hadapannya.

Baca juga:  Tiga Tahap Menjadi Waliyullah

Sebelum Imam Ja’far Ash-Shadiq datang untuk menghadap Khalifah Al-Mansur, Khalifah Al-Mansur memberi isyarat atau aba-aba kepada ajudannya, “Jika surbanku nanti diangkat ke kepalaku bersamaan dengan itu, bunuhlah Imam Ja’far Ash-Shadiq.”

Ketika si menteri datang membawa Imam Ja’far Ash-Shadiq ke istana Khalifah Al-Mansur, Imam Ja’far Ash-Shadiq mengucapkan salam kepada Khalifah Al-Mansur. Tiba-tiba Khalifah Al-Mansur berdiri dan menghormati kedatangan Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Khalifah Al-Mansur berkata, “Perintahlah aku untuk membantu memenuhi hajatmu.” Imam Ja’far Ash-Shadiq menjawab, “Kebutuhanku padamu, janganlah kamu menyusahkan atau menyulitkanku dan janganlah menginginkanku berada di sisimu.”

Setelah itu, Khalifah Al-Mansur mendekat kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq dan duduk di sampingnya dengan sopan dan tawaduk. Para pejabat kerajaan kagum dan heran terhadap perilaku Khalifah Al-Mansur.

Keheranan mereka karena Khalifah Al-Mansur memperlakukan Imam Ja’far Ash-Shadiq dengan baik, yang tadinya mau membunuh Imam Ja’far Ash-Shadiq sekarang berubah menjadi menghormati-Nya. Bahkan Khalifah Al-Mansur memerintahkan kepada ajudannya untuk melayani dan memuliakan Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Tiba-tiba badan Khalifah Al-Mansur menggigil gemetaran dan jatuh pingsan sampai beberapa saat lamanya. Setelah siuman dari pingsannya, si menteri menanyakan perihal yang dialami oleh Khalifah Al-Masur.

Akhirnya Khalifah Al-Mansur menceritakan keadaan yang dialaminya. Ia berkata kepada menterinya, “Ketika Iman Ja’far Ash-Shadiq datang, bersamaan dengan itu aku melihat ular yang sangat besar, mulutnya terbuka lebar, seakan istanaku mau di telannya, oleh karena itu aku menghormatinya, dan mulai saat ini aku berjanji tidak akan pernah menggangu dan menyakiti orang yang masih mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah SAW.”

Baca juga:  Kisah Sufi Unik (47): Ma'ruf al-Karkhi Menyuapi Anjing

Wallahu A’lam Bissawab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top