Sedang Membaca
Polemik Antara Keutamaan Nasab dan Keutamaan Orang ‘Alim
Hosiyanto Ilyas
Penulis Kolom

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Miftahul Ulum Bangkalan. Pernah menimba ilmu di Ponpes Attaroqqi Karongan Sampang. Pegiat Bahtsul Masail LBM NU.

Polemik Antara Keutamaan Nasab dan Keutamaan Orang ‘Alim

Suasana Haul Habib Ali Di Pasar Kliwon

Berangkat dari artikel yang ditulis oleh Kholili Kholil dengan tema, “Polemik Tentang Nasab Ba ‘Alawy” Yang diterbitkan hari Rabu 26 April, 2023. Kami sebagai pembaca merasa terobsesi untuk mengulas tentang polemik antara keutamaan nasab dan keutamaan ahli ilmu atau orang ‘alim.

Saat ini, para netizen di dunia maya sangat antusias sekali mengikuti perbincangan dan polemik dengan tema, “Antara Keutamaan Nasab dan Keutamaan Ahli Ilmu atau Orang ‘alim“. Terlepas dari Polemik tentang nasab Ba ‘Alawy yang menjadi sorotan publik saat ini, kami mencoba menguraikan polemik dan perbedaan ulama terkait keutamaan nasab dan keutamaan ahli ilmu (alim).

Para netizen atau warganet disuguhkan dengan pernyataan  kontroversial oleh seorang pendakwah yang menyatakan, “Belajar kepada satu Habib itu lebih utama daripada belajar kepada tujuh puluh ulama atau kiai.” Pernyataan itu apa dapat dibenarkan atau tidak? Kami mencoba untuk menelusurinya. Ternyata tendensi pendakwah tersebut merujuk kepada kitab Al-Manhaj As-Sawi Syarh Ushul Thariqah Al-Saadah Al-Ba’alawi (Juz, 1, Hlm. 384) Karya Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Adapun redaksinya sebagai berikut:

وقد أخبرني بعض الثقات عن العلامة شيخ المشايخ أبي الحسني اليمني المدني رضي الله عنه محشي الكتب الستة في الحديث وغيرها، أنه سئل في درسه: من أفضل، الشريف أو العالم ؟ فحصل له عندها استغراق وطأطأ رأسه إلى الأرض ما شاء الله تعالى، ثم رفع رأسه وقال: شريف جاهل- أو قال: شريف واحد- أفضل من سبعين عالما

Baca juga:  Lubabah al-Muta'abbidah dari Yerusalem

Artinya : Ada beberapa orang yang terpercaya mengabarkan kepada saya tentang Syekh Abul Hasany al-Yamani al-Madany pengarang Khasyiyah (catatan pinggir) enam kitab hadist dan kitab lainnya. Saat mengajar beliau ditanya: “Lebih utama mana antara Syarif dan orang ‘alim?, lalu sebab hal itu, beliau mengalami istighroq (larut dalam dzikir) dan menundukkan kepalanya ke tanah hingga beberapa saat, kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Syarif yang bodoh atau satu orang Syarif itu lebih utama daripada 70 orang ‘alim”.

Dalam redaksi kitab tersebut, ternyata tidak mengulas tentang belajar mengajar seperti yang dinyatakan oleh si pendakwah, tetapi menjelaskan keutamaan nasab, yakni, seseorang yang mempunyai garis keturunan yang bersambung kepada Rasullullah walaupun bodoh, ia lebih utama dari tujuh puluh orang ‘alim.

Dan apakah benar nasab yang bersambung kepada Rasululah walaupun bodoh, ia lebih utama daripada tujuh puluh orang ‘alim? Ini perlu diuji keotentikannya secara ilmiah dan lebih konprehensif. Biar tidak menjadi klaim semata yang tidak jelas kevalidannya. Mari kita uji kebenarannya! Dalam kitab Qurratul Ain bi Fatawa Ulama Al-Haramain (Juz, 1, Hlm. 281) Karya Syekh Husen bin Ibrahim Al-Magrabi dijelaskan hal tersebut. Adapun kutipannya sebagai berikut:

ما قولكم في الشريف؟ هل يفضل العالم أم العالم أفضل

Baca juga:  Makna Kesempurnaan Fitrah Manusia

Apa pendapat anda mengenai seorang Syarif ? Apakah dia lebih utama daripada orang ‘alim ataukah orang ‘alim yang lebih utama daripada Syarif ?.

الجواب: الشريف أفضل من حيث النسب، والعالم أفضل من حيث العلم، وفضيلة العلم تفوق فضيلة النسب، وقد تقدم هذا الجواب أول الكتاب عن الاجهوري

Jawaban: Syarif itu utama dari segi nasab, dan ‘alim itu lebih utama dari segi keilmuan. Sedangkan ilmu itu mengungguli keutamaan nasab. Jawaban ini sudah disebutkan di awal kitab dari ‘Ali Al-Ajhuri.

Uraian di atas sangat jelas sekali, bahwa orang ‘alim lebih diutamakan dalam sisi keilmuan dibandingkan dengan orang yang garis keturunannya dimuliakan. Pada dasarnya pernyataan si pendakwah yang menyatakan, “Belajar kepada satu habib, itu lebih utama daripada belajar kepada tujuh puluh ulama atau kyai”. Pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan.

Tapi kita tidak boleh menafikan atau meniadakan, bahwa orang-orang yang mempunyai garis keturunan yang bersambung kepada Rasulullah mempunyai keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan mayoritas ulama telah sepakat, bahwa orang yang mempunyai garis keturunan yang bersambung kepada Rasulullah adalah paling mulianya nasab atau keturunan, dan wajib bagi kita untuk menghormati dan mencintai mereka.

Baca juga:  Kiai Sahal, Mendayung di antara Liberalisme dan Fundamentalisme (1)

Wallahu A’lam Bissawab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (1)
  • Nabi muhammad tak punya anak laki-laki yang hidup hingga baligh dan menikah, lalu punya keturunan. lantas Arab yaman yang diaspora ke nusantara itu keturunan siapa? pasti ngaku-ngaku atau menyalahgunakan nama besar Nabi muhammad saw.

    Di al irsyad dan muhammadiyah, orang arab yaman yang bergelar habib atau ngaku-ngaku keturunan Nabi itu nggak laku. PBNU perlu meninjau ulang kebenaran atau asal muasal sejarah orang yang mengaku garis keturunan Nabi ini. Perlakukan mereka biasa biasa saja, cukup hormati Kiai berilmu, alim seperti Gus baha, Kiai cholil nafis dll.

    Hormati orang lain karena kompetensinya, bukan karena bermodal nasab abal-abal

Komentari

Scroll To Top