Sedang Membaca
Obituari: Ide Nakal Jeihan di Sebuah Sore
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Obituari: Ide Nakal Jeihan di Sebuah Sore

Avatar

SEMUA ORANG tahu kalau Jeihan itu perupa handal, raksasa ekspresionisme di Indonesia. Tapi jarang yang tahu kalau Jeihan itu bisa bermain main dengan idea dan pikirannya. Pada suatu hari, di tahun 1970an, dia bilang kepada beberapa rekannnya, di antara kopi kental, suatu sore yang cerah, di teras rumah yang dikepung pepohonan.

Sebaiknya, kita punya empat anak, katanya membuka lontaran ideanya, kita akan menjadi orang tua yang benar-benar memikirkan masa depan anak-anak kita. Tapi, masa depan anak-anak kita tidak bisa dibentuk sendirian. Mereka harus jadi tim untuk meraih, untuk mewujudkan masa depannya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Untuk itu, kita harus punya anak pertama yang jadi militer, yang bisa melindungi anak kedua yang jadi pengusaha, dan keduanya harus berusaha mendudukkan saudaranya di “departemen” supaya semua hambatan birokrasi bisa kita terabas.

Obrolan terhenti. Seorang rekan yang penyair bertanya, itu baru tiga anak. Gimana dengan anak yang keempat?

Dengan santai, Jeihan, sambil melempar senyum lebar menjawab “….hmm, hmmm…anak yang keempat….yaaa jadi seniman.”

Semua yan ada di teras ngakak. Seorang rekan yang musisi tanya, kok seniman? Yaaa laaah…keempat harus jadi seniman dengan beking militer, pengusaha, dan birokrat, supaya lancar semuanya.

Jeihan, rasanya tak pernah melontarkan kritik sospol secara langsung. Pernyataannya bisa selalu diselubungi dengan humor, rasa humor yang cerdas, walau terasa sinis dan pahit, seperti obrolan sore hari itu di tahun 1970an ketika rezim orba sedang naek panggung.

Sore tadi, sudah masuk Magrib, Jeihan berpulang..

REST IN PEACE.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top