Sedang Membaca
Ustazku, Ustaz Surin Pitsuwan

Ustazku, Ustaz Surin Pitsuwan

Anak Kiai itu Bernama Surin Pitsuwan

Di bawah temaram lampu, sang ustaz muram berselimut sendu. Kuhampiri wajah durja, diiringi sebuah tanya, “Salam Ustaz. Kenapa Ustaz lama tak muncul, sampai London pun mendulang rindu?”

Setelah merespon salam, ustaz menjawab, “Oh iya? Rindu bukan hanya masalah waktu, apalagi sekedar pengusir jemu, tapi cermin sesuatu yang lebih dalam dari semua itu!”

Saya segera lanjut tanya, “Mengapa Ustaz termangu dengan suasana kelabu?”

Ustaz pun respon, “Maaf, dadaku terasa ‘sesak’ karena kehilangan ‘sosok’. Malam Maulidur Rasul, sosok yang teduh itu berpulang ke Rahmatullah, padahal dia tengah bersiap untuk bicara dalam Thailand Halal Assembly. Imam Ghazali benar saat berkata ‘yang singkat itu waktu’ dan ‘yang dekat itu kematian’, sementara itu valid pula peringatannya bahwa ‘yang menipu itu dunia’, karena ‘dunia bukanlah tempat tinggal tapi tempat meninggal’. Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’afihi wa fu’anhu!

Saya pun penasaran dan tanya, “Siapakah sang sosok itu ustaz?”

Sambil hela nafas dalam-dalam ustaz menjawab, “Abdul Halim bin Ismail, putra kampung dari pesantren Ban Tan, di pelosok distrik Muang, Nakhon Si Thammarat, Thailand. Beliau lebih dikenal sebagai Dr. Surin Pitsuwan; mantan Menteri Luar Negeri Thailand dan Sekretaris Jenderal ASEAN”.

Saya spontan berkomentar: “Oh, orang ‘asing’ itu?”

Mendengar komentar saya, ustaz langsung memotong, “Benar! dia memang orang ‘asing’, tapi ‘tak terasing’ di tengah ‘keterasingan’.”

Saya tanya dengan sungguh-sungguh, “Waduh, apa pula artinya? Apakah ustaz kenal secara pribadi?”

Baca juga:  KH Idham Chalid: Ulama-Politisi NU Pilih Tanding

Dengan bersemangat ustaz bertutur, “Iya, memoriku kembali ke awal tahun 1996, saat riset untuk MA thesis di Thailand; ada janji wawancara dengan Dr. Surin Pitsuwan di Bangkok. Ketika aku sudah siap, Dr. Surin tak berada di tempat. Saat kukonfirmasi ke rumahnya istrinya menjawab: “Tunggu saja, kalau dia punya janji pasti ditepati. Benar, ternyata penerbangannya dari Pukhet memang tertunda. Meski pertama kali jumpa, terasa telah akrab lama. Setelah saling ucap salam, dengan senyum renyah dan sikap ramah aku dipersilahlan naik sedannya. Yang mengejutkanku, di atas dashboard mobilnya Alquran warna emas duduk dengan anggunnya.”

Di sela perbincangan, aku bermaksud langsung mewawancarainya. Tapi, dia bilang: “Mudahlah itu nanti, temani saya dulu berkeliling.” Respon yang tak lazim bagi seorang mahasiswa asing yang baru kenal seperti aku ini.

Kejutan berikutnya, aku justru diajak ke parlemen Thailand, di mana dia menjabat sebagai sekretarisnya, dan aku pun dikenalkan dengan sekian anggota parlemen laiknya sebagai seorang sahabatnya.

Saat masa wawancara tiba, tampak karakter pribadinya yang kuat: cerdas, lugas, tegas, tapi tetap rendah hati.

Semua itu mengingatkanku pada tiga tahapan ilmu dari Umar bin Khattab: “Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong, jika dia memasuki tahapan kedua dua, ia akan tawad, dan jika memasuki tahapan ketiga, dia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.”

Baca juga:  Renungan Malam Jumat: Merasa Paling Alim Sendiri

Sebenarnya, aku ingin mengulangi momen manis tersebut pada bulan Juli 2017 lalu, dengan bermaksud wawancara dia lagi untuk penulisan sebuah buku.

Dr. Surin bersedia dan appointment pun dibuat, tapi kemudian lewat sekretarisnya dia memohon maaf dan minta jadwal interview di jadwal ulang, karena ada agenda mendadak. Sayangnya, aku tak bisa karena sudah molor di Bangkok.”

Saya lanjut bertanya: “Apa makna perjumpaan dengan Dr. Surin itu?”

Sang ustaz terdiam sejenak. Tapi sejurus kemudian berujar, “Dalam perjumpaan itu rasa ‘asing’ seakan punah tertakluk oleh spirit ukhuwah. Selain itu, bagiku, sosoknya mencerminkan pribadi muslim yang merefleksikan ‘rahmatin lil alamin’. Beberapa kata kunci dalam akhlak seperti tepati janji, ramah, rendah hati, dan maaf; sangat kental mewarnai sikap dan perilakunya. Dalam konteks itu pula, keterasingan seakan justru ‘asing’ menyentuh dirinya berkat kepercayaan dirinya dengan identitas keislaman di tengah mayoritas komunitas Budhis di negerinya. Mungkin inilah model dakwah millenial yang substansial. Dengan menampakkan pribadi muslim yang anggun maka akan menunjukan Islam nan agung, sekaligus menghindarkan Islam dari status ‘tersangka’.”

Dengan otak terpacu keras untuk mencerna, saya tanya lagi, “Apa yang menyebabkan lahirnya sosok pribadi muslim yang kuat?”

Setelah menghela nafas dalam-dalam ustaz berkata, “Tampaknya itu bukan produk dari proses karbitan, melainkan hasil dari sebuah didikan panjang yang penjiwaan.

Baca juga:  Humor: Apa Hukum Minum Kopi di Bulan Suci?

Dalam kisah perjalanan ke pondok Ban Tan, yang diriwayatkan oleh Anies Baswedan, terungkap bahwa pada tahun 1967, komunitas pondok dilanda perdebatan hebat setelah Abdul Halim bin Ismail alias Surin Pitsuwan remaja lolos seleksi program American Field Service (AFS). Dalam sejarah pondok itu, mengirim santri ke Kelantan, bahkan ke Mesir atau Yaman, adalah biasa; tapi memberangkatkannya ke Amerika adalah sesuatu tak pernah terbayangkan.

Namun, sang kakek, pendiri pondok, menyapu kegamangan pondok dengan untaian kata dahsyat seolah sebuah ‘fatwa’: “Saya sudah didik cucu [tertua] saya ini, saya yakin dia istiqomah, dan saya ikhlas dia berangkat!”

Semua yang hadir hanya dapat menggangguk bisu dan perdebatan seru itupun berlalu. Saya berkomentar, “Wah, kisah yang mengilhami. Namun, apa hikmah dari kisah di atas, ustaz?”

Setelah menyeruput seteguk kopi, ustaz menjawab, “Tampaknya jiwa begitu signifikan dalam hidup dan kehidupan, termasuk dalam menempa karakter pribadi seseorang. Al Farabi menegaskan bahwa Soul … is a unity with all its parts working for one final end, happiness! Meskipun dalam prakteknya tidak mudah, soul is basically a matter of perfection; karena soul dengan caranya sendiri secara istiqamah menuntun kita dalam meretas kehidupan.

Terlintas tausiyah Gus Mus, “Ber-Islamlah seperti Islamnya Muhammad saw, bukan Islam ala egomu.”

Untaian kata sang ustaz seakan menghentak bayang, memutus rangkaian mimpi nan panjang.

Wallahu’alam

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top