Sedang Membaca
Orang Minang di Bulan Ramadan: Dari ‘Puasa Ular’ ke ‘Puasa Mekkah’

Orang Minang di Bulan Ramadan: Dari ‘Puasa Ular’ ke ‘Puasa Mekkah’

  • Orang-orang yang berpuasa ular itu biasanya langsung tidur setelah sahur lalu benar-benar bangun menjelang waktu berbuka. Ia langsung bergelung di tempat tidur ketika perutnya sudah kenyang dan bangkit lagi dari tempat tidur ketika indra penciumannya mulai menghirup aroma hidangan berbuka.

Meskipun Islam mempunyai standar pelaksanaan puasa Ramadan, tapi kita menjalaninya dengan tingkah-laku yang berbeda-beda. Keberagaman kultur masyarakat Indonesia menunjukkan keberbagaian tingkah-laku berpuasa. Kita tak hanya bisa melihat contoh yang megah-meriah, tetapi juga kecil lagi sederhana.

Masyarakat Minangkabau mempunyai berbagai istilah untuk menyebut berbagai tingkah-laku manusia berpuasa, mulai dari istilah yang digunakan sebagai model pembelajaran ataupun istilah yang digunakan sebagai contoh yang tidak pantas ditiru. Saya mencoba mencatat sedikit dari berbagai istilah-istilah yang menunjukkan perangai yang dianggap tak patut dalam berpuasa itu.

Ada istilah puaso ula (puasa ular). Kalau kita lihat sekilas dari diksi ular tersebut mungkin sudah terbayang maksudnya. Istilah ini digunakan untuk orang-orang yang hanya tidur atau lebih banyak tidur selama berpuasa. Biasanya orang-orang seperti ini langsung tidur setelah sahur lalu benar-benar bangun menjelang waktu berbuka. Ia langsung bergelung di tempat tidur ketika perutnya sudah kenyang dan bangkit lagi dari tempat tidur ketika indra penciumannya mulai menghirup aroma hidangan berbuka.

Istilah puaso ula juga punya maksud yang lain. Bila makna sebelumnya dari istilah ini diambil dari tingkah laku ular, maka makna kedua ini diambil dari cara menangkap ular. Ikhtiar menangkap ular yaitu dengan cara memegang kepala ular itu dan kemudian memegang ekornya. Ketika sudah terpegang keduanya maka barulah kita bisa memasukkan ular itu ke dalam tempat yang aman, seperti karung.

Nah, istilah puaso ula dalam makna kedua ini ditujukan untuk orang-orang yang hanya berpuasa di hari pertama dan di hari terakhir bulan Ramadan. Bagi orang yang berpuasa seperti itu biasanya alasan mereka adalah selayaknya metode menangkap ular tadi. Untuk menangkap seekor ular seutuhnya cukup hanya dengan memegang kepala dan ekornya. Seperti itu juga mereka berpuasa, hanya dengan berpuasa di awal ramadan (kepala) dan akhir ramadan (ekor), maka mereka merasa sudah mendapatkan keseluruhan puasa. Begitu alasan akal-akalan orang yang menjalani puaso ula.

Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya, orang yang berpuasa ular seperti itu pada prinsipnya memang malas berpuasa. Tapi, ada sebab tertentu ketika ia tak bisa mengelak untuk tidak berpuasa, terutama di hari pertama dan terakhir ramadan. Sebagai contoh saja, seorang suami terpaksa berpuasa hari pertama dan terakhir ramadan karena di dua hari itu ia berada di rumah keluarga besar istrinya, dua momen yang seringkali dijadikan waktu untuk berkumpul bersama, maka mau tidak mau, untuk menjaga muka dari keluarga besar istri, ia pun mesti berpuasa, puaso ula.

Ada juga istilah puaso satangah hari (puasa setengah hari). Ini merupakan puasa yang dijalani dari azan subuh ke azan zuhur. Sebagaimana kita tahu, puasa setengah hari ini pada prinsipnya adalah puasa yang dilakukan anak-anak. Anak-anak sebenarnya tidak diwajibkan berpuasa, namun untuk membuat mereka terbiasa berpuasa ketika sudah akil baligh nanti, maka mereka perlu diajarkan terebih dahulu berpuasa selama setengah hari saja.

Baca juga:  Ramadan Pertama Zalima di Indonesia

Namun begitu, istilah puaso satangah hari ini juga seringkali digunakan untuk menyebut perangai orang-orang dewasa yang begitu bersemangat ikut sahur, tetapi kemudian semangat itu semakin siang malah semakin kendor, hingga mereka merasa tidak sanggup lagi, lantas membatalkan puasanya

Selanjutnya, ada pula istilah puaso uwok taruang (puasa uap terong). Ini merupakan istilah yang diambil dari khazanah kuliner Minangkabau. Cara memasak uwok taruang atau terong uap atau terong kukus ini sangatlah sederhana. Prosesnya sembari memasak nasi di periuk. Ketika nasi sudah mendidih, terong pun dimasukkan ke dalam nasi yang mendidih dalam periuk itu dan kemudian tunggu sampai nasi itu masak. Ketika sudah masak, barulah terong tersebut diangkat. Sesederhana itu.

Makna yang diambil dari kuliner uwok taruang itu: buah terong dimasukkan ke periuk terakhir kali tapi malah ia pula yang pertama kali keluar dari periuk. Masyarakat seperti Minangkabau senantiasa mempunyai lebih dari satu otoritas penentuan satu Ramadan. Ada yang ikut pemerintah, ada yang ikut kelompok tarekat masing-masing, ada yang ikut organisasi tertentu dan seterusnya. Dalam keberbagaian pilihan itulah muncul orang-orang yang berpuasa seperti uwok taruang. Ia memilih memulai satu ramadan dengan jadwal yang paling telat tapi kemudian memilih lebaran dengan jadwal yang paling cepat.

Baca juga:  Sabyan Gambus (1): Musik Islami Populer dan Politik Identitas

Ada pula istilah puaso baliak papan (puasa di sebalik papan). Dalam kebudayaan Minangkabau, ungkapan baliak papan salah satunya digunakan untuk menyebut dua lokasi yang sangat dekat ataupun bersebelahan, saking dekatnya diibaratkan hanya terpisah oleh sehelai papan saja, seperti antara dapur dan ruang tamu, antara halaman belakang dengan di dalam rumah dan seterusnya. Dengan begitu, istilah puaso baliak papan digunakan untuk menunjukkan seseorang yang ketika ‘di dalam rumah’ mengaku berpuasa, tapi ‘di belakang dapur’ diam-diam telah menuntaskan makan dan minum.

Terakhir, ada lagi istilah puaso Makkah yang berasal dari cerita tentang seseorang yang selalu mengaku berpuasa tapi sering ketahuan makan dan minum di siang hari. Masyarakat pun bertanya mengapa ia makan dan minum dalam waktu berpuasa. Orang itu pun menjawab dengan enteng bahwa ia menjalani ibadah puasa berpedoman pada jadwal puasa di Makkah (Mekkah) dan tidak menggunakan jadwal tempat ia hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, menurut akal-akalan orang tersebut, ia akan berbuka puasa ketika di Mekkah sudah tiba jadwal berbuka sekalipun orang-orang di sekitarnya masih berpuasa.

Itulah sekilas perilaku berpuasa dalam masyarakat Minangkabau. Tentunya masih banyak lagi gelagat lain yang tersebar dan belum tercatat dengan baik. Yang jelas, pemakaian istilah-istilah yang dijabarkan di atas biasanya digunakan tak hanya sebagai sindiran ataupun kontrol sosial, tetapi juga sebagai nasihat kepada pemuda-pemudi yang baru mencoba berpuasa, dan juga seringkali sebagai lelucon antar warga masyarakat selayaknya suatu hiburan kala menunggu berbuka puasa. Pada akhirnya, hanya Allah SWT yang mempunyai otoritas penuh dalam menerima ibadah puasa setiap insan. Sekian.

Baca juga:  Ramadan Panik
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top