Semalam di Pesantren

A Dardiri Zubairi
  • KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, "Berangkat dari Pesantren" menyebut kiai sebagai guru (tokoh) yang mencintai anak didiknya seperti anaknya sendiri, pada hal tidak ada ikatan darah keturunan barang setetes pun.

Ada satu kegiatan unik yang belum saya alami sebelumnya, “Semalam di Pesantren”. Pertengahan Ramadan ini, tepatnya tanggal 16 Romadan, sekitar 30-an alumni pesantren dari berbagai angkatan datang kembali ke Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Sumenep.

Mereka ingin memanggil memorinya kembali di masa lalu tentang pengalamannya mondok, suatu kenangan yang biasanya tak terlupakan sepanjang masa.

Selama semalam mereka “mengalami” lagi masak bersama, makan (buka dan sahur)pakai daun bersama, Tarawih bersama, khatmil qur’an, selawatan, ziarah ke maqbarah pengasuh, dan sejak pukul 22.30-01.30 menit diisi dengan sharing pengalaman ketika dahulu dididik dan diasuh oleh almarhum kiainya.

Setelah itu sahur bersama, subuh bersama, dan kemudian kembali ke kampung halamannya masing-masing. Jangan lupa khas santri tak tertinggal, saling ledek, ngebanyol, ngopi dan lain-lain.

Tradisi gotong-royong dan tanggung renteng sebagai tradisi santri nampak sekali dan tidak hilang. Ada yang bawa ikan laut mentahnya, cemilan, beras, kopi, air, alat masak, kompor dan segenap sarana yang mereka butuhkan selama semalam. Sementara sebagian ada yang nyumbang uang. Guyub sekali.

Terus terang sepanjang yang saya tahu, kegiatan ini baru ada dan baru saya alami. Selama ini biasanya alumni pondok pesantren kangen-kangenan ketika ada haflatul imtihan atau halal bihalal setelah lebaran. Kegiatan “Semalam di Pesantren” ini berbeda. Kekangenan terhadap teman berikut segenap memori dan pengalaman selama di pondok terbayar tuntas semalam, karena mereka tidak saja bertemu, tetapi “mengalami kembali” masa lalunya dan sekaligus menjelajah kenangan manis-pahitnya.

Baca juga:  Ihwal Tren Menghafal Alquran

Lebih dalam lagi, peristiwa ini saya anggap sebagai jalan pulang untuk mengingat asal. Para alumni sudah menempuh perjalanan jauh. Kehidupan di luar pesantren menampilkan laku yang warna-warni hingga bahkan tak ada warnanya.

Tentu para santri di luar tak bisa menutup diri. Bahkan banyak juga yang terwarnai. Kecuali yang betul-betul memegang nilai kepesantrenannya, berupa sanad keilmuan dan amaliah serta segenap tradisi yang diajarkan pesantren.

Biar teguh memegang nilai dan tradisi kepesantrenan tak ada jalan lain kecuali mengetahui jalan pulang untuk sekedar mengingat asal. Para santri harus mengikatkan diri dalam tradisi pesantren sebagai rumahnya dan asalnya. Secara sederhana, itu ditradisikan dengan “nyabis” dalam tradisi Madura atau “sowan” dalam tradisi Jawa.

Jika melihat kegiatan Semalam di Pesantren ini kuat sekali keinginan alumni untuk mengikatkan diri dalam tradisi pesantren. Makan bersama, tanggung renteng, khatmil Qur’an, shalawatan, ziarah ke maqbarah pengasuh, dan ngobrol santai tentang pengalamannya dulu adalah cara para alumni untuk mengakarkan kesadaran terhadap tradisi pesantren.

Apalagi dalam ngobrol santai antar alumni terungkap banyak uswah dan nasehat dari kiainya, KHA Zubairi Mz (wafat tahun 2004) soal istiqamah, kejujuran, keadilan, keikhlasan, kesabaran, nasionalisme hingga kecintaan beliau terhadap Nahdlatul Ulama. Uswah dan nasehat yang ternyata masih relevan dalam konteks kebangsaann kita akhir-akhir ini.

Baca Juga

Baca juga:  Islam, Iman, dan Tertib Lalu Lintas

Soal didikan nasionalisme ada beberapa santri yang bercerita begitu marahnya beliau karena melihat santri tersebut tidak mengikuti upacara bendera pada 17 Agustus.

Di lain kesempatan beliau marah karena di pintu gerbang tidak dipasang bendera merah putih. Kepada santri beliau dawuh, “ikut upacara dan masang bendera saja kamu sudah malas, para pejuang dulu merebut kemerdekaan justru dengan kucuran air mata dan darah”.

Kiai dalam tradisi pesantren adalah figur penting. Unsur lain Pesantren (masjid, asrama, dsb) sebagaimana diulas dalam buku “Tradisi Pesantren-nya” Zamaksyari Dhafir kurang maknanya tanpa kehadiran seorang kiai.

KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, “Berangkat dari Pesantren” menyebut kiai sebagai guru (tokoh) yang mencintai anak didiknya seperti anaknya sendiri, pada hal tidak ada ikatan darah keturunan barang setetes pun.

Dan itulah yang saya saksikan dalam ngobrol santai tapi hikmat sejak pukul 22.30-01.30, para santri mematri nasehat, didikan, dan uswah kiainya yang tidak saja dianggap sebagai guru tapi juga orang tua sendiri. Kegiatan ini penting sekali maknanya sebagai bekal menghadapi zaman penuh pancaroba.

Lihat Komentar (0)

Komentari