Sedang Membaca
Kisah dan Hikmah Keislaman Para Sahabat Rasul (4): Abu Hurairah dan Perempuan yang hendak Bertobat
Penulis Kolom

Ketua Badan Ekonomi Pesantren Al Anwar 3 Sarang Rembang dan Dewan Pengurus Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren/HEBITREN Wilayah Jawa Tengah.

Kisah dan Hikmah Keislaman Para Sahabat Rasul (4): Abu Hurairah dan Perempuan yang hendak Bertobat

abu hurairah

Abu Hurairah adalah salah satu sahabat Nabi yang tercatat paling banyak meriwayatkan Hadits. Hampir seluruh umat Islam, khususnya para cendikiawan muslim mengenal namanya. Menurut Ibnu Hajar nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Shakhir, Ibnu Ghanan, Abdullah bin ‘Aziz, Ibnu Umar, Sukain bin Wadzmah, Ibn Starmal, Ibnu Shakhir.

Sedangkan menurut Hisyam bin Kaili nama aslinya adalah Umair bin Amir bin Dzi Sa’id bin Tharif bin ‘Ayan bin Abi Shaib bin Hunayyah bin Sa’ad bin Sta’labah bin Sulaiman bin Fahmi, bin Ghanam bin Daus. Sebelum ia masuk islam ia memiliki nama kunyah Abu Aswad.

Setelah masuk Islam ia diberi nama Abdullah dan diberi kunyah Abu Hurairah (Bapak/Pemilik Kucing). Julukan ini disematkan kepadanya karena ia terkenal penyayang binatang dan mempunyai seekor kucing yang selalu ia beri makan. Setelah Abu Hurairah masuk Islam, ia tinggal bersama ahli suffah di Masjid Nabawi. Tiap waktu ia biasa shalat di belakang barisan Rasulullah.

Abu Hurairah selalu bersama Rasulullah selama empat tahun yaitu sejak kedatangan perang Khaibar hingga Rasulullah wafat. Karena kedekatannya dengan Nabi inilah ia banyak mendengar Hadits yang kemudian diriwayatkannya kepada para sahabat yang lain hingga sampai pada kita hari ini. Selain nama besarnya sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits, ternyata Abu Hurairah juga tercatat memiliki berbagai kisah yang hikmahnya bisa diteladani umat islam.

Baca juga:  Kisah Gus Dur dan Kiai Spesialis Kepala Desa

Fatwa Abu Hurairah yang Keliru

Syahdan, Abu Hurairah pernah menceritakan bahwa pernah pada suatu malam ketika ia keluar setelah melaksanankan shalat ‘Isya, ada seorang perempuan yang tiba-tiba menghampirinya di tengah jalan kemudian berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertobat?”

Setelah itu Abu Hurairah menanyakan dosa apa yang telah ia perbuat dan dengan polosnya, si perempuan menjawab bahwa ia telah berbuat zina serta membunuh anak dari hasil hubungan tanpa pernikahannya tersebut.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mendengar penuturan wanita tadi, Abu Hurairah sontak berkata, “Kau telah membinasakan dirimu dan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertaubat bagimu.”

Mendengar jawaban dari Abu Hurairah, pupus sudah harapan perempuan pendosa tadi. Dengan kondisi lemah tak berdaya, usai menjerit dan menangis sekuat-kuatnya, ia lantas jatuh pingsan, tak sadarkan diri. Setelah siuman, ia yang putus asa pun berlalu pergi dengan membawa beratnya beban kesedihan.

Melihat kepergian wanita yang berada dalam kondisi lunglai itu, Abu Hurairah langsung menyesal atas apa yang ia sampaikan kepada perempuan tersebut, dan berkata dalam hatinya, “Duh.. berani-beraninya aku berfatwa, sedangkan Rasulullah ada di tengah-tengah kami.”

Menyadari kekeliruan yang ia lakukan. Keesokan harinya ia menemui Rasulullah dan menceritakan perihal wanita yang semalam mendatanginya dan meminta fatwanya.

Baca juga:  Hidup itu Anugerah, Maka Bersyukurlah

Meralat Fatwa

Setelah mendengar penuturan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah kau ingat ayat yang termaktub dalam Surat Al Furqan:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mendengar sabda Rasulullah itu, seketika Abu Hurairah bergegas meninggalkan Nabi dan berlari menyusuri jalan kota Madinah seraya bertanya kepada setiap orang, siapakah yang mampu menunjukkan kepadanya seorang wanita yang tadi malam mendatangi dan meminta fatwanya. Sementara anak-anak di jalanan bersorak, “Abu Hurairah sudah gila!”

Menjelang larut malam barulah Abu Hurairah menemukan wanita itu. Kemudian ia menyampaikan persis seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah kepadanya, bahwa ia boleh bertaubat. Mendengar hal itu wanita tersebut menjerit kegirangan seraya berkata, “Kebunku yang kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin karena dosaku.”

Baca juga:  Bagaimana Rasulullah Mendidik si Pemabuk?

Kasih Sayang Allah yang Luas

Perempuan yang tadinya tak lagi memiliki harapan sontak menemukan secercah harapan untuk memperbaiki diri. Di saat yang sama, Abu Hurairah sadar bahwa ia tak berhak membubuhkan tanda titik pada kehidupan spiritualitas perempuan tadi. Padahal, Allah dan Rasulullah saja masih bersedia memberikan koma padanya, pertanda bahwa jalan pertaubatannya masih panjang.

Dosa besar yang wanita tadi perbuat di masa lalu bukan merupakan tanda titik yang otomatis membuatnya berhenti untuk mencari hidayah dan ampunan dari Allah. Justru ketika, ia menyadari bahwa ia berlumur dosa, dan ia masih dianugerahi nikmat untuk terus bernafas, selama itu pula pintu taubat terbuka lebar baginya. Sebab, dalam surat Thaha ayat 82, Allah sudah menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun bagi yang bertaubat, beriman dan beramal shalih (berbuat kebaikan).

Hal itu jelas membuktikan kasih sayang Allah pada makhlukNya yang tak berkesudahan. Tak peduli betapa banyak perbuatan buruk yang dilakukan, sepanjang masih diberi peluang untuk hidup, kesempatan memperbaiki diri perlu dimaksimalkan.

Terlebih, mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib RA yang masyhur, dosa yang membuat kita sedih dan menyesal itu lebih disukai Allah daripada perbuatan baik yang membuat diri sombong. Oleh karenanya, jika helaian nafas masih ada, menebus dosa dengan perbuatan baik harus menjadi prioritas utama.

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top