Penulis Kolom

Pengurus Lesbumi PBNU, penulis, Pengajar di Pesantren Kaliopak Jogjakarta, serta pegiat dan pemerhati budaya. S2 Cultural Studies di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Berasal dari Mataram Nusa Tenggara Barat dan kini menetap di Yogyakarta

Ziarah Makam, Masjid Kotagede, dan “Aswaja” dalam Centhini

Ziarah Makam, Masjid Kotagede, dan “Aswaja” dalam Centhini

Syaikh Amogroga bertanya, “Hai adik, apakah yang dibawa orang berpayung tua? Talam ditutup kain putih di bawa Ketib, semua ulama mengiring?”

“Kakak, sudah menjadi adat kebiasaan, setiap malam Jumat mengirim bunga kepada almarhum Panembahan Senopati, Kakek Kanjeng Sultan, yang dimakamkan di belakang Masjid.”

“Adik, apakah setuju atau kalau boleh saya ingin turut menghadap, mohon berkat syafaat penguasa tanah Jawa itu.”

“Kakak, itu lebih baik”.

Mereka telah tiba di depan gapura di sebelah Selatan masjid (maksudnya masjid Gedhe, Kotagede) yang dihias bagus berbentuk bangunan Majapahit, kunci pintunya dibuka seraya membaca salawat.

Lagu kidungnya perlahan, harum sepi suasananya menambah wingit makam. Tak ada bacaan apapun hanya suara bacaan salawat meninggi memberi suara dingin.

Mereka semua telah masuk, tiba di halaman rata teduh karena pepohonan nagasari berjajar-jajar di sebelah barat dekat dengan gapura kedua.

Ada bangsal kecil bagus beratap sirap yang terbuat dari kayu besi, khatib ulama menghadap ke bangsal, menyembah, kemudian membaca salawat. Tak hentinya perdupaan berasap harum.

Gapura telah dibuka, lurah khatib berada di depan. Mereka yang mengikuti di belakangnya menunggu masuk. Tiba di dalam gapura, semua orang lampah dhodhok atau berjalan dengan sikap duduk. Yang paling depan telah berhenti, duduk teratur menyembah, lalu mulai menyuarakan tahlil. Semua pengiring mengikutinya. Suaranya bergema meninggi bagai menggapai angkasa.

Baca juga:  Jenis-Jenis Tradisi Ie Bu Kanji di Aceh

Selesai tahlil lalu berdoa terus menerus. Suara “amiin” serempak bagai bunyi ombak. Selesailah doa dan puji. Cungkup besar beratap sirap, bertutup gebyok “dinding kayu” diukir, diberi fondasi batu putih, lantainya batu pualam. Pintunya telah dibuka, semuanya mendekat. Mas Cebolang bertanya perlahan,” Siapakah yang dimakamkan itu, adik?”.

“Yang berjajar tiga dalam cungkup ini, Kakak, pertama: Kanjeng Nyai Ageng Ngenis, ibu Kiai Ageng Mataram, nenek Kanjeng Senapati. Adapun satunya lagi makam Kanjeng Gusti Andayaprana, kata kakek itu Kanjeng Sunan Kali Jaga, satunya lagi yang ketiga disebut Kanjeng Dathuk Palembang namanya, itulah Sultan Pajang. Ia  dulu disebut-sebut pernah  dimakamkan di Butuh, kemudian dipindah ke Mataram. Yang ada di dagan arah kaki makam itu Ki Ageng Mataram, di bawah “sebelah selatan” Ki Ageng Mataram, itu Panembahan Senapati Ngalaga pendiri Mataram. Adapun di bawahnya sedikitm di sebelah Barat Kanjeng Sinuhun Seda Ing Krapyak, yang di sebelah Timurnya itu Kanjeng Jurumartani.”

Obrolan tersebut dinukil dari Serat Centhini.

Amaliyah yang kasat

Amaliah (pengamalan) nilai Aswaja atau ahlus sunnah wal jamaah (yang juga menjadi nilai Nahdlatul Ulama) pada masa lalu adalah sesuatu yang kasat: tahlil, salawat, doa-doa, dan biasanya dipungkasi dengan sedekah, seperti dalam Centhini di atas. Ragam sedekahnya sesuai dengan ragam upacara. Dalam beberapa naskah dari abad ke-18 Masehi itu disebutkan ragam bacaan doa dan sedekah dari banyak upacara.

Baca juga:  Sabyan Gambus (2): Pusparagam Tradisi Selawat di Indonesia

Seorang karib Saya yang menjadi abdi dalem Kraton Yogyakarta Hadiningrat mengatakan bahwa muara upacara-upacara Kraton, kecil maupun besar, adalah doa dan sedekah. Jenis doanya standar tahlil : surat qulhu (al-Ikhlas), al-Falaq, an-Nass, tahlil, sapu jagat, dan salawat.

Gambaran tentang makam Kotagede dalam Centhini itu tidak jauh berbeda dengan kondisinya hari ini. Hanya ada tambahan cungkup besar setelah pintu gerbang makam. Cungkup sirap yang menutupi tiga makam dalam cerita sudah tidak ada, hanya posisi tiga makam (makam Nyai Ageng Ngenis,Panembahan Andayaprana/Wijayaprana, dan Sultan Pajang) lebih tinggi posisinya dari makam lainnya dalam cungkup besar. Semua menghadap ke utara dan selatan.

Sekarang banyak cungkup-cungkup kecil di luar cungkup utama tersebut. Di sisi Timur cungkup utama ada deretan makam-makam ulama, dan paling ujung adalah makam Nyai Brintik yang bentuk kecil tapi menarik perhatian, tepat di sebelah kiri mihrab masjid Kotagede. 

Makam tersebut menempel dengan dinding mihrab pengimaman masjid Gedhe. Konon Nyai Brintik adalah murid kinasih Eyang Kali Jaga. Sebelah makam Nyai Brintik adalah padasan yang selalu terisi air, diambil oleh para peziarah yang mengharap syafaat.

Masjid lama biasanya terdiri dari halaman, kolam mengelilingi masjid, dan pohon-pohon sawo kecik. Beranda masjid terbuka tanpa dinding, tidak ada penghalang antara halaman dan beranda. Di sisi barat masjid, bersambung dengan makam-makam. Biasanya itu adalah makam para ulama dan orang yang memiliki kualifikasi ruhani. Baru belakangan saja, ajaran baru dari Timur-Tengah, terutama Saudi Arabia, yang mewarnai pembangunan makam di sisi barat masjid.

Baca juga:  Keunikan Cara Berbuka dan Bersantap Sahur Para Santri di Pesantren

Setiap kali menziarahi makam para ulama dan sultan Mataram Islam di pesareyan  (kuburan) Kotagede, Saya menyempatkan diri mengambil air di padasan (gentong atau bak tempat air) di sebelah makam Nyai Brintik yang menempel dengan mihrab pengimaman, sambil merapal puisi Rumi ini :

Orang-orang bodoh kendati menghormati masjid

Tapi mencoba menghancurkan orang

Yang dalam hatinya ada ruh Tuhan.

Masjid itu dari dunia benda;

Hati itu nyata.

Masjid sebenarnya tak lain adalah hati

Raja-raja Ruhani.

Masjid yang merupakan kesadaran batin para wali

Tempat ibadah semua orang;

Tuhan ada di sana.

 

Di bagian lain Maulana bersenandung :

Barang siapa ingin bersama dengan Tuhan,

Duduklah di hadapan para wali.

 

 

 

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top