Sedang Membaca
Pesan Buya Hamka di Warung Sate
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pesan Buya Hamka di Warung Sate

Hamzah Sahal
Pesan Buya Hamka di Warung Sate 2

Jika Anda pergi ke Kota Padang Panjang, di Sumatera Barat, rasanya ‘wajib’ mampir di warung sate Mak Syukur.

Atau jika Anda menempuh perjalanan dari Padang ke Bukittinggi melalui Padang Panjang, Anda memang tidak Hamka. Apa pesannya?\n“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorangwajib mampir sate Mak Syukur, tapi itu semacam kerugian yang harusnya bisa dihindari.

Sate Mak Syukur terletak di Jalan Sutan Syahrir Nomor 250, Kota Padang Panjang. Jika Anda datang dari Padang, warung itu ada di sisi kiri. Mudah sekali dijumpai, apalagi sekarang, era pemandu daring yang begitu sabar menuntun tuannya sampai ke titik tujuan.

Terus terang saja saya tidak paham urusan kuliner. Tapi, saya merasakan kenikmatan sate Mak Syukur di Padang Panjang berkali-kali lipat dibanding sate Padang yang biasa saya santap di Cikini, Jakarta Pusat.

Daging sapi terasa betul dan rempah-rempah yang menjadi bumbu di kuah kental khas sate Padang sungguh ‘serius’, walaupun tidak ada frase ‘sate Padang’ sebagaimana umumnya penjual sate Padang di Jakarta.

Untuk urusan daging sapi, sapi potong dari Padang Pajang, kata Ustaz Fauzi Fauzan, terkenal seluruh Sumatera Barat.

“Saya tidak mengerti persis kenapa daging sapi di sini terkenal. Orang Sumatera Barat kalau mau menggelar pesta besar seperti perkawinan, daging sapinya dari Padang Panjang,” katanya.

Baca Juga:  Inspirasi Dakwah Digital Mba Ienas 1

Fauzi Fauzan adalah kepala sumber daya manusia di Pesantren Diniyah Putri Padang Panjang yang terkenal itu. Tujuan utama kami ke Padang Panjang bukan ke warung sate, melainkan Pesantren Diniyah Putri yang didirikan Rahmah El Yunusiah tahun 1923. Ini lembaga pendidikan tertua di Sumatera Barat, mungkin juga di Indonesia yang dikhususkan untuk kaum Hawa. Banyak alumninya yang menjadi tokoh nasional, antara lain Rasuna Said, Aisyah Amini. Megawati saat jadi wakil presiden datang ke sana atas permintaan presidennya, Gus Dur.

Ustaz Fauzilah yang mengajak saya dan teman-teman makan siang di sate Mak Syukur. Ait, tidak lupa beliau juga yang mentraktir kami.

“Kalau bertamu ke Diniyah Putri lewat jam makan siang, protapnya kami harus ajak tamu makan siang,” ujarnya sambil tertawa.

Sate Mak Syukur atau disingkat SMS, konon sudah dirintis oleh Mak Syukur sejak sebelum kemerdekaan atau sekitar awal tahun 1940. Sebelum memiliki tempat yang besar dan permanen seperti sekarang, Mak Syukur berjualan keliling dari kampung ke kampung, menjajakan jualannya dengan dipikul.

Syukur Sutan Rajo Endah, nama lengkap Mak Syukur , lahir tahun 1911 dan wafat tahun 1985 di Padang Panjang. Ustaz Fauzi mengatakan, sate Saiyo sebenarnya lebih tua dari Mak Syukur, tapi entah kenapa sate Mak Syukur lebih legendaris.

Baca Juga:  Refleksi Harlah Lesbumi: Bakiak Kiai

Berkunjung ke sate di Mak Syukur, kita tidak hanya menikmati sate atau beberapa pelengkap seperti rambak, kue bugis, atau buang pisang, tapi juga pesan sangat mulia dari seorang pengarang besar asal Minang, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981), atau masyhur dengan nama akronim Hamka. Ya Buya Hamka. Apa pesannya?

“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”

Demikian pesan Buya Hamka yang ditulis dan didesain dengan gaya kekinian. Tidak lupa ditempelkan, potret Buya Hamka yang khas, wajah tersenyum, kopiah hitam dan serban melilit leher.

Di atas Hamka, ditulis juga pesan senada dari sastrawan Katolik kelahiran Libanon, Kahlil Gibran (1883-1931).

Baca Juga

“Tuhan telah menyalakan obor dalam hatimu yang memancarkan cahaya pengetahuan dan keindahan. Sungguh berdosa jika kita memadamkannya dan mencampakkannya dalam abu,” demikian kalimah Kahlil Gibran. Menggetarkan.

Kedua pesan yang mengingatkan kita betapa tinggi dan pentingnya ilmu pengetahuan disajikan dalam satu bingkai. Rak buku berderet-bertumpuk, anak tangga, dan sebuah globe yang menghiasi poster makin menguatkan pesan tersebut.

Saya tidak tahu persis kenapa Hamka ditaruh di bawahnya Gibran. “Gibran lebih sepuh daripada Hamka,” mungkin itu jawaban sang desainer jika ada pertanyaan kenapa Kahlil di atas dan Hamka di bawah.

Baca Juga:  Pulang Haji: Jubah dan Ilmu

Kedua pesan dari sastrawan hebat yang dipasang warung sate punya posisi strategis. Orang datang ke warung, makan di luar rumah, biasanya tidak hanya berbekal lapar dan uang untuk bayar makanan. Tapi para pengunjung juga berpakaian rapi, bahkan lumrah sekali jika makan di tempat khusus berhias dan mengenakan baju terbaik, karena ingin bertemu dan menjamu orang-orang istimewa.

Poster itu seperti sedang mengatakan pada pengunjung warung sate Mak Syukur bahwa pakaian keren, wajah yang enak dipandang, sate lezat, minuman nikmat, dan mobil mengkilat tiada berarti jika tanpa ilmu dan adab. Tidak abadi, kata Buya Hamka.

Sayang sekali poster itu kecil dan hanya dipajang di pojok ruangan. Tidak semua pengunjung warung sate melihatnya, apalagi yang duduk di luar ruang utama. Untung saja saya duduk persis menghadap poser itu, sehingga sempat memandangnya meski saya dan poster di pojok ruang yang berlainan. Sesudah makan, saya mendekat untuk dapat membaca lebih jelas.

Saya, Atmo Ragil, Faridur Rohman, Zulfikar dan Ari melanjutkan, ke Bukittinggi. Rasa lezat 10 tusuk sate dan lontong yang dilumuri kuah kental, sudah hilang. Tapi pesan Buya Hamka dan Kahlil Gibran yang dipajang di warung sate Mak Syukur sungguh terngiang-ngiang, bahkan hingga kami sampai di Jakarta.

Lihat Komentar (0)

Komentari