Sedang Membaca
Ziarah Peristiwa Budaya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ziarah Peristiwa Budaya

Hamzah Sahal
Ziarah Peristiwa Budaya

“Sajian ini adalah bagian pertama dari shalawat Badar, yang diciptakan oleh Habib Ali Mansur dari Tuban. Ia menciptakan ini di Banyuwangi pada tahun 1962…”

Demikian kalimah almagfurlah Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di sela-sela mendendangkan shalawat Badar, diiringi musik dari ibu-ibu kelompok kasidah.

Suara Gus Dur yang pelan dan patah-patah itu amat menyentuh. Aransemen musik khas kasidahan dan klip yang sederhana, membuat hati pendengarnya –tentu yang mengerti– seperti diselimuti embun subuh, mak nyes. Dan tiba-tiba saya teringat kalimah seorang laki-laki kelahiran Sialkot-Pakistan tahun 1877, Muhammad Iqbal, ”Keindahan suara seruling tidak keluar dari lubang-lubang bambu, bukan juga dari tenggorokan, melainkan dari hati peniupnya.”

“Dan untuk itu, karena Habib Ali Mansur sudah wafat, maka keluarganya menerima ‘Bintang NU’ dalam muktamar di krapyak Jogjakarta, pada akhir tahun 1989.” Setelah mengucapkan kalimah tersebut, Gus Dur melanjutkan senandung salawat, para ibu-ibu kelompok kasidah (Makna kasidah di sini seperti yang beredar di masyarakat umum. Aslinya, alqosidah bermakna puisi atau syair yang berisi tujuh atau sepuluh bait. Dalam KBBI, salah satunya, bermakna nyanyian) yang mengikutinya dengan pelan:

Sholatullah salamullah, ‘ala thoha rosulillah

Sholatullah salamullah, ‘ala yasin habibillah

Sholatullah salamullah, ‘ala yasin habibillah

Syair salawat Badar yang penuh ketawadluan –karena bertawasul– diciptakan untuk meneguhkan dan melindungi lahir dan batin Nahdliyin dari nyanyian Genjer-genjer yang telah disabot PKI. Genjer-genjer diciptakan Muhammad Arief, saat warga Banyuwangi banyak kelaparan gara-gara kebejatan penjajah Jepang. Lagu Genjer-genjer, sebagaimana salawat Badar, pada hakikatnya tidak untuk menyerang kelompok lain. Namun karena situasi politik, keduanya jadi berhadap-hadapan.

Salawat Badar adalah hikmah dari situasi politik yang tidak menentu, hikmah dari over acting Partai Komunis Indonesia. Hikmah lainnya, adalah dilahirkannya Lesbumi oleh tiga seniman besar Djamuluddin Malik, Usmar Islami, dan Asrul Sani. Atas dukungan Kiai Idham Chalid, Kiai Saifuddin Zuhri, dan wasiat Kiai Abdul Wahid Hasyim.

Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), dilahirkan tanggal 28 Maret 1962 untuk mengimbangi Lekra yang sudah berumur sepuluh tahun bergerak di dunia seni budaya. D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta adalah orang-orang yang membidani kelahiran organisasi sayap PKI itu.

Baca juga:  Muasal Istilah “Tebak-Tebak Buah Manggis”

Pendek kata, pada saat itu, konsep kebudayaan dan aliran kesenian, menjadi medan pertarungan. Selain Lesbumi dan Lekra, kelompok nasionalis di Partai Nasional Indonesia (PNI) melahirkan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) di tahun 1959, kelompok Islam puritan yang tergabung dalam Masyumi membentuk Himpunan Seniman Budayawan Islam (HSBI) pada 1956.

Sementara itu, para pendeta Kristen membentuk wadah bernama Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia (Lekrindo). Para pastur menyatukan seniman dan budayawannya pada ruang bernama Lembaga Kebudayaan Katolik Indonesia (LKKI), dan lain sebagianya.

Di antara gegap-gempita lembaga-lembaga di atas, Lesbumi cukup kuat berhadapan dengan lawan politiknya, semisal Lekra atau HBSI, yang juga bertarung satu dengan lainnya. Tak lain dan tak bukan, kekuatan Lesbumi itu berkat kepandaian berkomunikasi Djamaluddin Malik yang berhasil mengajak seniman, budayawan, pemikir besar pada saat itu, Usmar Ismail dan Asrul Sani. Karena mereka bertiga, seniman yang memang sudah NU jadi tambah semangat, seperti dikasih gizi dan vitamin dan yang sebelumnya ragu dengan ulama NU, menjadi yakin, seperti Misbach Yusa Biran.

Bagi NU, tiga laki-laki asal Tanah Minang itu adalah berkah segede gunung. Namun ini juga hikmah dari kearifan dan kehusnudonan para ulama pada para seniman. Saya kutipkan pengakuan Asrul dalam sebuah wawancara yang dihimpun di buku Asrul Sani 70 Tahun:

“Mulanya saya menghadapi Lekra lewat PSI. Saya minta PSI membentuk badan kebudayaan. Lalu saya pun kerja sama dengan Soekarno M. Noor dan Syaiful Bahri. Repotnya PSI berteori dulu. Rencana pembentukan lembaga kebudayaan ternyata diblokir Soedjatmoko. Mereka lebih dahulu mempertanyakan, apa kebudayaan sosialis itu.”

Dalam catatan Misbach, Asrul dan Soekarno M. Noor sahabat karib. Kerja sama kedua dalam film Lewat Djam Malam (1954) menuai sukses. Asrul jadi sutradara, sementara Soekarno M. Noor jadi pemain utama. Film yang diboikot PKI itu adaptasi dari cerpen Trisnoyuwono. Film ini akhirnya beredar karena pembelaan Bung Karno.

Dalam buku tersebut, Asrul mengatakan Sikap NU yang terbelah, satu ke Idham Chalid yang akomodatif. Satunya lagi condong ke Subchan ZE yang keras. “Dua sikap itu dijembatani oleh Djamaluddin Malik,” ujar Asrul.

Baca juga:  Menengok Jilbab Muhammadiyah Zaman Dulu

Setelah itu, kata Asrul, Lekra bikin sandiwara-sandiwara di Pekalongan. Awalnya, NU berpikir mau melawan itu dengan khotbah-khotbah Jumat. “Tetapi, saya melihat bahwa hal itu harus dilawan dengan cara yang sama. Saat itulah NU bersikap.”

Asrul terkesima dengan kalimah Kiai Abdul Wahid Hasyim yang disampaikan Djamal, ”Ini kan pasar besar! Sikap kita adalah di segala tempat kita mesti hadir. NU yang datang dari dunia pesantren harus terbuka melihat perkembangan.”

Mengapa saya katakan NU ketiban berkah?

Sebab, Asrul Sani adalah nama besar dalam kelompok “Gelanggang” (1948), bersama Sitor Situmorang yang kemudian difasilitasi PNI mendirikan LKN, menjadi ketuanya. Dan Rivai Apin yang memilih jadi pembesar Lekra.

Baca Juga

Tiga orang itulah yang membuat risalah sangat terkenal “Surat Kepercayaan Gelanggang”, tahun 1950, di Jakarta. Lho kok Asrul memilih duduk bersama kaum sarungan? Dalam riwayat Misbach juga, Usmar dan Sitor bareng menggarap film Long March, dan Asrul nimbrung juga menggarap skenarionya, awal-awal tahun 1950.

Lesbumi bergerak. Aktivisnya gencar menulis esai-esai sarat nilai. Pada waktu itu, koran Duta Masyarakat tumbuh pesat. Di koran itu pula sastra-sastra “bertendensi” bergeliat. Di antara penulisnya Darto Wahab, suami dari biduwanita Rofiqoh. Di antara cerita bersambungnya yang cukup terkenal berjudul Syaikh Subakir dan Prahara di Demak Bintoro. Tak ketinggalan, dunia layar lebar bersinar.

Tak cukup dengan Lesbumi, GP Ansor membangitkan jiwa-jiwa Nahdliyin di mana-mana, utamanya di Jawa, dengan merapatkan penabuh genderang, terompet, gong, dalam barisan drumband.

Rofiqoh Darto Wahab, seorang qoriah anak kiai Pekalongan, akhirnya bukan hanya melantunkan ayat-ayat suci, namun mendendangkan lagu-lagu gambus, kesenian yang dianggap islamy. Dua grup gambusnya yang masyhur adalah Al-wathinyah dan Al-Fata. Di antara lagu yang populer adalah Hamawi Yaa Mismis. Rofiqoh yang sekarang sudah sepuh, masih sehat, tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Sejak saat itulah, kecintaan NU pada tradisi dan kebudayaan terlembaga dan ada sulurannya. Yang semula hanya terekspresikan dalam ritus-ritus keagamaan, menjadi cetar membahana, di koran-koran, di panggung, di seluloid 35 mm. Betul, ada saja kiai yang tidak sepakat karena membopong fiqih setinggi menara masjid. Tapi semuanya bisa berjalan beriringan, saling takdim pada kedudukan yang bermacam-macam. Mereka jauh dari tindakan agresif, bahkan bisa tertawa bersama-sama.

Baca juga:  Memahami Istilah Kafir dengan Sederhana

Ada peristiwa “dramatik” ketika Asrul memutar film Tauhid (1964) di depan para kiai, seperti dikisahkan Misbach Yusa Biran:

“Syahdan, Pak Djamal mengadakan preview khusus bagi para kiai, para tokoh NU. Rasanya akan banyak kritik muncul, biar Asrul dihajar para kiai. Mana dia mampu melawan. Tapi, sebelum diputar, Asrul tampil di depan memberikan penjelasan yang sangat menarik. Dan setelah film usai dipertontonkan, tak ada kiai yang menghajar Asrul. Pak Djamal kembali tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kehebatan Asrul. Orang-orang ‘kiri’ yang menunggu peluang untuk menghabisi Asrul tidak pernah melontarkan kritik apapun pada film ini.”

Namun, Misbach menyanyangkan satu-satunya film yang digarap trio Lesbumi itu beredar pada masa yang paling pelik, sekitar situasi kacau akibat tindakan makar PKI.

Hari ini, kelompok-kelompok kebudayaan yang limapuluhan tahun lalu bertengkar sengit, sudah tidak ada. Masyumi yang dibubarkan Bung Karno, otomatis HSBI-nya gulung tikar. PNI dan LKN-nya mati bersama dibabat Orde Baru. Dan kita semua mafhum, Lekra dan PKI lebih tragis nasibnya. Tahun 2004, NU mencoba menghidupkan kembali Lesbumi, tapi entah ke mana dan menciptakan apa, tidak jelas. Anak-anak NU memlesetkan Lesbumi dengan “lost-bumi”, bumi yang hilang.

Meskipun demikian, ingatan-ingatan, masih tersimpan rapi, diawetkan, baik melalui tutur tinular ataupun literatur-literatur. Dan Salawat Badar adalah contoh “karya” situasi politik yang masih hidup, dengan merakyat, dinyanyikan di mana-mana dengan dengan macam-macam versi. Jangankan salawat Badar, Genjer-genjer yang oleh Orba “diborgol” saja, kini bisa dinyanyikan siapa saja. Indahnya lagi, salawat Badar dan Genjer-genjer menjadi netral. Santri-santri sekarang menyanyikan Genjer-genjer. Warga Desa Trisula Kec Ploso, Kab. Kediri yang keturunan PKI, sejak tahun 1997 bersalawat. Tak ketinggalan anak cucu Masyumi menyelipkan salawat Badar dalam kisah seorang guru besarnya, KH Ahmad Dahlan, dalam film Sang Pencerah. Demikian, sekedar mengingat-ingat persitiwa budaya, yang pernah bergelora di organisasi bernama Nahdlatul Ulama.

Lihat Komentar (0)

Komentari