Sedang Membaca
Menikmati Islam: Bukan Sekadar Membaca tapi Merasakan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Menikmati Islam: Bukan Sekadar Membaca tapi Merasakan

Ismadani Rofiul Ulya

Rabu yang indah. Di sudut kota yang padat dan sibuk, ada  pembukaan pengajian yang  asyik, “Menikmati Islam” di CIMB Niaga Jakarta. Pembicara KH. A. Musta’in Syafi’i mufasir kontemporer dan KH. Luqman Hakim sufi Ibu Kota. Para hadirin berlatar belakang berbeda dengan tujuan sama: ingin menikmati Islam.

Di awal diskusi, dijelaskan terlebih dahulu mengenai awal mula “wahyu” turun. Wahyu pertama Kali muncul adalah Surat Al Alaq “iqra” yang artinya bacalah. Kata iqra menurut Kiai Mustain mengandung makna universal berbeda dengan kata tilawah yang mengandung arti tekstual. Maka istilah yang dipakai dalam lomba baca Alquran adalah Tilawatil Quran bukan Qiroatil Quran.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurutnya, Islam juga memiliki nilai yang universal tidak semata-mata tentang cara beribadah dengan Tuhan namun juga cara beribadah dengan makhluk Tuhan.

Lebih lanjut, KH. Luqman Hakim juga memberikan penjelasan bahwa Nabi menggigil saat pertama kali diberi wahyu bukan karena takut melihat sosok malaikat Jibril sebagaimana tafsiran-tafsiran yang keliru karena tidak mungkin seorang Nabi takut melihat malaikat, namun Nabi menggigil dikarenakan dari ujung rambut kepala hingga ujung kaki Nabi merasakan kehadiran Allah, merasakan kalamullah dan saat itu pula Nabi dibukakan hakikat tentang semua yang ada di dunia dan akhirat.

Baca juga:  Ketika "Ya Allah" Berubah Menjadi "Yawla"

Kemudian Nabi mengucap ma ana biqari’ bukanlah berarti Nabi tidak bisa membaca karena sejatinya Rasulullah merupakan orang paling pintar dan paling mulia, namun itu berarti Nabi tidak mampu menerima wahyu sekaligus dalam satu waktu.

Kemudian dilanjutkan bahwa wahyu yang turun menjadi Alquran adalah sebuah hikmah, di mana menurut Ibnul Arabi  mengatakan Surat Ahkam (ayat yang berhubungan dengan hukum) di Alquran hanya 150 -400 ayat.

Sisanya adalah ayat-ayat mengenai cerita nubuwah (kenabian) yang mengajarkan nilai- nilai kemanusiaan.

Cerita tentang kisah bagaimana manusia diberi cobaan sakit, diberi cobaan dibenci oleh keluarga hingga tentang cobaan tahta, harta, dan perempuan. Jadi sebagian besar ayat Alquran menjelaskan tentang gambaran bagaimana hikmah kehidupan di duinia.

Menurut penulis sendiri, Islam tidak harus dimaknai secara rigid tentang pahala dan dosa atau kebaikan dan keburukan. Karena, itu hanya akan membuat orang berislam takut dengan neraka, takut dengan justifikasi orang lain, dan lain sebagainya.

Islam haruslah dimaknai secara lebih rileks, agama pembawa kebahagiaan (farh) di mana orang memeluk Islam karena cinta dengan ajarannya. Maka setiap orang yang bahagia dalam mengamalkan perintah Tuhannya sehari hari di situlah ada nilai-nilai Islam.

Kemudian di penutup acara diceritakan mengenai kisah yang sangat menarik tentang apa yang dilakukan Sayidina Ali saat perang. Ketika hendak mengeksekusi musuhnya beliau diludahi lantas tidak jadi dieksekusi Sayidina Ali malah melepaskanya dan menyuruhnya tahananya pergi.Logikanya seorang yang diludahi akan marah dan menghajar yang meludahi.

Namun Sayidina Ali berbeda beliau sadar betul jika mengeksekusi musuhnya saat marah itu adalah hawa nafsu bukan pembelaan terhadap Tuhan.

Maka menjadi renungan bagi kita jika kita meneriakkan “Allahu Akbar” dengan hawa nafsu keinginan untuk mencapai sesuatu sejatinya itu bukanlah pembelaan terhadap Tuhan namun pembelaan terhadap hawa nafsu. Wallahu A’lam (atk)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top