Sedang Membaca
Riwayat Selawat Badr yang Mendunia
Ren Muhammad
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Riwayat Selawat Badr yang Mendunia

LIMA tahun sebelum pecah tragedi berdarah yang menggiris hati pada 30 September, seorang kiai usia paruh abad sedang resah di atas ranjangnya. Malam itu telah larut. Bintang Sirius di langit Banyuwangi, kian terang di ufuk timur. Namun tokoh kita ini, KH Raden Muhammad Ali Mansyur Basyaiban, tak jua tenang. Geliat tokoh komunis jadi pusat pikiran cucu KH Muhammad Shiddiq (Jember) ini. Bung Karno yang mengenalkan gagasan barunya tentang NASAKOM (Nasionalis, Sosialis, Komunis), ternyata malah dimanfaatkan partai palu arit guna melancarkan politik agresif mereka.

Selain merenungi komunisme, Kiai Ali juga ngungun sendiri atas mimpi yang ia alami beberapa hari sebelumnya. Dalam mimpi itu, ia didatangi serombongan orang berjubah putih dan hijau. Tak ingin dilamun resah, Kiai Ali menanyakan mimpinya itu pada Habib Hadi al-Haddar. Dari mulut Habib Hadi barulah diketahui bahwa rombongan yang mendatanginya adalah Ahlul Badr. Malam terus merambat menuju subuh. Kiai Ali pun beranjak dari ranjang. Lalu ia mengambil potlot dan mengguratkan beberapa buah syair di atas secarik kertas.

Pagi harinya, warga kampung berduyun-duyun mendatangi rumah Kiai Ali sambil membawa sembako, seolah akan ada sebuah hajatan besar di rumah kiai kharismatik itu. Semua yang datang mengantarkan bahan masakan tersebut berkata, mereka diberitahu seorang lelaki berjubah putih, bahwa akan ada perayaan besar di rumah Kiai Ali. Alhasil digelarlah acara yang tak direncanakan itu. Meski tak jelas apa tujuannya. Saat acara berlangsung, seketika datanglah Habib Ali al-Habsyi Kwitang bersama rombongan.

Melihat tamu yang datang adalah orang mulia, wajah Kiai Ali mendadak sumringah. Rombongan dari Jakarta itu pun ia persilakan duduk di ruang tamu. Tapi belum berapa jenak, Sang Habib menanyakan syair yang digubah Kiai Ali pada malam sebelum pertemuan itu. Kiai pun mengambil syair yang digubahnya dan saat yang sama ia pun keheranan: darimana Habib tahu kalau ia telah menggubah sebuah syair.

Ketika syair itu dibacakan Kiai Ali dengan langgam yang indah di hadapan Habib dan rombongan, ia tak menyadari bahwa malam itulah awal dari sejarah manis dari kelahiran sebuah selawat yang terus menggema hingga kini ke seantero dunia. Tak puas mendengar pada malam itu, Habib Ali kemudian mengundang Kiai Ali Mansyur dan pamannya, Kiai Ahmad Qusyairi ke Kwitang, Jakarta. Di hadapan para ulama dan warga Betawi yang hadir saat itu, syair indah yang digubah di Banyuwangi ini, mulai menggema dengan nama Selawat Badr.

Baca juga:  Wayang dari Kacamata Gus Dur: Pembentuk Budaya Politik

Peran besar Kiai Ali Mansyur ini diamini Gus Dur saat menjabat Ketua Umum PBNU di hadapan sidang Muktamar ke-28 NU di Ponpes Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (26-11-1989), bahwa penggubah syair dan lagu Selawat Badr  adalah KH Muhammad Ali Mansyur Shiddiq Basyaiban, yang lalu diteruskan dengan menganugerahkan “Bintang NU” kepada beliau. Pernyataan serupa kembali ditegaskan Gus Dur selaku Presiden Republik Indonesia dalam sambutannya pada Muktamar ke-30 NU di PP Lirboyo, Kediri (21-11-1999).

 

Pernyataan Gus Dur di atas sontak menghapus polemik seputar pencipta Selawat Badr yang setidaknya bersangkutan dengan tiga oknum: ulama Hanafiyah, al-Busyiri, dan KH Ahmad Siddiq (mantan Rois ‘Am PBNU).

Jelas sangat kurang tepat jika Selawat Badr dikatakan sebagai karya ulama Hanafiyah, sebab tidak ada data, fakta dan alasan yang jelas. Sama halnya bila dikatakan karya KH Ahmad Shiddiq. Sebab dalam buku Biografi KH Ahmad Shiddiq, tidak disebutkan peranannya sebagai pencipta syair selawat ini. Justru keluarga besar Shiddiqiyah malah menegaskan KH Ali Mansyur sebagai penggubah syair Selawat Badr.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kuran tepat pula jika Selawat Badr adalah buah karya al-Busyiri, sastrawan dari Timur Tengah yang dikenal sebagai penulis Qasidah Burdah. Gus Dur, ketika ditanya alasannya oleh Kiai Syakir Ali dari Maibit Rengel, Tuban (putra KH M. Ali Mansyur), berkata bahwa al-Busyiri bukan tipe orang yang suka bertawasul. Sementara syair Selawat Badr memuat doa tawasul. Ditinjau dari makna kandungannya, selawat ini berciri-khas Indonesia, bukan Arab. Dari segi balaghahnya, selawat ini ber-balaghah Jawa.

Pandangan Gus Dur itu dikuatkan oleh Gus Ishom (alm) dari Tebuireng, yang paham betul soal sastra Arab, bahwa syair Selawat Badr digubah oleh orang Jawa, bukannya bikinan orang Arab atau Timur Tengah. Sebab, ciri-ciri syair ala Timur Tengah biasanya berbelit-belit, sulit dipahami artinya dan jarang ada kata atau kalimat yang diulang. Sementara ciri ini tidak ditemukan dalam syair Selawat Badr.

Bukti terkuat yang tak bisa dibantah adalah, catatan (tulisan Arab pegon) yang ditemukan di dalam kitab milik Kiai Ali yang berbunyi: “Naliko kulo gawe lagune Selawat Badar, yoiku sak ba’dane teko songko Makkah al-Mukarramah, kang tak anyari waktu lailatul qiro’ah kelawan ngundang almarhum Haji Ahmad Qusyairi sak muride. Yoiku ono malem Jumat tahun 1960, tonggoku podo ngimpi weruh ono bongso sayyid utowo habib podho melebu ono omahku. Wa karimati, Khotimah, ugo ngimpi ketho’ kanjeng Nabi Muhammad iku rangkul-rangkulan karo al-faqir. Kiro-kiro dino jumat ba’da shubuh, tonggo-tonggo podho ndodok lawang pawon, podho takon: ‘Wonten tamu sinten mawon kolo ndalu?’. Lajeng kulo tanglet Habib Hadi al-Haddar, dan dijawab: ‘Haa ulaai arwaahu ahlil badri rodhi-yalloohu ‘anhum’. Alhamdulillahi Robbil ‘aalamiin.”

Baca juga:  Cara Gus Dur Tidur (3, habis)

Nukilan catatan itu sejajar dengan mimpi Kiai Ali yang secara nasab, muncul dari kalangan orang terpuji. Beliau lahir di Jember pada 4 Ramadan 1340 H/23 Maret 1921 M, dari pasangan Kiyai Mansyur bin KH. Muhammad Shiddiq dan Shofiyah binti KH. Basyar, dari Tuban.

KH Raden Muhammad Ali bin Mansyur termasuk dalam keluarga besar as-Shiddiqi. Kakeknya yang bernama KH Muhammad Shiddiq (Jember), adalah seorang ulama yang menurunkan ulama-ulama besar seperti KH Abdul Hamid (Mbah Hamid, Wali Pasuruan), KH Ahmad Qusyairi, KH Ahmad Shiddiq, KH Mahfuzh Shiddiq,  KH A. Hamid Wijaya, KH Yusuf Muhammad, dll. Beliau juga masih keturunan Mbah Sambu Lasem (Pangeran Sayyid Muhammad Syihabuddin Digdoningrat) bin  Sayyid Muhammad Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban (Sultan Mangkunegara III).

Masa kecil Kiai Ali Mansyur dihabiskan di Tuban. Setamat belajar di Madrasah Ibtidaiyah Makam Agung Tuban, beliau mondok di beberapa pesantren besar, seperti di Tremas Pacitan, pesantren di Lasem (asuhan Mbah Makshum), lalu Pesantren Lirboyo, Kediri. Di Lirboyo inilah, beliau kelihatan bakatnya dalam penguasaan ilmu ‘arudh dan qawafi (dasar-dasar ilmu membuat syair berbahasa Arab).

Usai belajar di pesantren, beliau pulang ke Tuban lalu bergabung dengan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan masuk Laskar Hizbullah. Pascakemerdekaan, beliau hijrah ke beberapa kota seperti Besuki, Sumbawa, lalu Bali. Di pulau inilah beliau jadi ketua Cabang NU dan diangkat sebagai anggota konstituante mewakili NU.

Baca juga:  Pesantren dan Dilema Pembelajaran di Tengah Pandemi

Sebelum wafat di Tuban, beliau akhirnya menetap di Banyuwangi pada 1962. Lalu menjabat ketua cabang partai NU, dan banyak terlibat dengan intrik politik menentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Selawat Badr yang beliau gubah dipopulerkan ke pelbagai wilayah untuk menandingi lagu himne PKI, Genjer-Genjer, dan untuk membangkitkan semangat juang melawan fasisme yang berkumandang lewat corong politik—sebagai alat mengadu domba rakyat Indonesia. Ujung kisah ini adalah ‘Kudeta Merangkak’ Jenderal Suharto demi menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno. []

Ciawi, 6 Agustus 2018

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top