Sedang Membaca
Membincang Nama Islami
Penulis Kolom

Founder Alif.ID. Menulis dua buku humor; Humor Ngaji Kaum Santri (2004) dan Ulama Bercanda Santri Tertawa (2020), dan buku lainnya

Membincang Nama Islami

Bertemunya Agama dengan Adat

Pukul enam tadi pagi, saya di-WA teman. Dia bertanya, bagaimana memberi nama anak yang “Islami”? Saya jawab, dari sisi siapa pemberi nama, pengalaman saya, ada tiga: orangtuanya sendiri, orang terdekat semisal kakek atau nenek si bayi, dan orang yang kita nilai sholeh.

Dari sisi makna nama, kita bisa memilih nama-nama Tuhan, nama yg memiliki makna harapan, peristiwa yg ingin dikenang, nama alam atau mengambil nama orang Sholeh/panutan. Semuanya ada doa dan harapan.

Dari sisi bahasa, silakan memilih, bahasa Ibu, bahasa Arab, bahasa spanyol, dan lain-lain. Dari sisi bahasa, tidak ada yang paling istimewa, tidak ada pula yang paling rendah.

Pengalaman keluarga, bapak saya kasih nama yang simpel, bahkan satu kata: Mubarok, Nihayah, Rihanah, Yahya, Abdullah, Muiz, dan Hamzah. Bapak saya juga namanya satu saja: Hamzah. Kakek saya juga hanya satu: Irsyad. Mungkin jaman itu, trennya pakai satu kata, kecuali orang keraton, namanya panjang.

Baca artikel selengkapnya di ISLAMI.co

Baca juga:  Kisah Teman Main Gaple hingga Gus Dur yang Dijemput Banser
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top