Sedang Membaca
Membincang Nama Islami
Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

Membincang Nama Islami

Bertemunya Agama dengan Adat

Pukul enam tadi pagi, saya di-WA teman. Dia bertanya, bagaimana memberi nama anak yang “Islami”? Saya jawab, dari sisi siapa pemberi nama, pengalaman saya, ada tiga: orangtuanya sendiri, orang terdekat semisal kakek atau nenek si bayi, dan orang yang kita nilai sholeh.

Dari sisi makna nama, kita bisa memilih nama-nama Tuhan, nama yg memiliki makna harapan, peristiwa yg ingin dikenang, nama alam atau mengambil nama orang Sholeh/panutan. Semuanya ada doa dan harapan.

Dari sisi bahasa, silakan memilih, bahasa Ibu, bahasa Arab, bahasa spanyol, dan lain-lain. Dari sisi bahasa, tidak ada yang paling istimewa, tidak ada pula yang paling rendah.

Pengalaman keluarga, bapak saya kasih nama yang simpel, bahkan satu kata: Mubarok, Nihayah, Rihanah, Yahya, Abdullah, Muiz, dan Hamzah. Bapak saya juga namanya satu saja: Hamzah. Kakek saya juga hanya satu: Irsyad. Mungkin jaman itu, trennya pakai satu kata, kecuali orang keraton, namanya panjang.

Baca artikel selengkapnya di ISLAMI.co

Baca juga:  ​Ketika Gus Dur Beli Lukisan Amang Rahman
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top