Sedang Membaca
Refleksi Hari Anak Nasional: Soeharto Paling Rajin Khotbah Tentang Anak
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Refleksi Hari Anak Nasional: Soeharto Paling Rajin Khotbah Tentang Anak

Sejak puluhan tahun silam, peringatan Hari Anak Nasional terkadang politis dan mengarah ke pengultusan tokoh. Pada masa Orde Baru, urusan anak bereferensi ke kekuasaan ketimbang kemauan mengartikan dengan pijakan keluarga, kultural, pendidikan, seni, dan sosial. Selama puluhan tahun, Soeharto menjadi pusat mimpi bagi jutaan anak di Indonesia. Soeharto tentu paling rajin berkhotbah tentang anak dalam pelbagai upacara peringatan ketimbang Soekarno, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Joko Widodo. Soeharto memang penentu lakon anak di Indonesia berlatar kekuasaan dan keluarga.

Pada 1976, terbit buku berjudul Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto garapan OG Roeder. Judul itu merangsang imajinasi anak memiliki cita-cita menjadi presiden meski mereka lahir dan besar di desa. Sebutan “anak desa” tampak permainan makna agar pembaca memulai pengenalan Soeharto sebagai anak, tak lekas mengenali sebagai tentara dan presiden.

Dulu, Soeharto itu anak desa, bukan anak kota. Di desa, Soeharto mendefinisikan diri dan bergerak ke Jakarta untuk memimpin dan membangun Indonesia. Pencantuman “anak” dalam biografi politik tentu berharap ada kemauan publik meneladani Soeharto dalam keluguan dan kebersahajaan.

Kita ingin mengenang hubungan erat Soeharto dan anak pada masa lalu. Warisan terpenting Soeharto adalah pengadaan ribuan judul buku bacaan anak melalui inpres pada 1973. Rezim Orde Baru tegak dengan bacaan anak. Soeharto menandatangani kebijakan bersejarah dalam memberi pengertian bagi jutaan anak mengenai Pancasila, pembangunan, nasionalisme, keluarga, pendidikan, dan desa. Inpres menghasilkan pemaknaan Indonesia sesuai prinsip-prinsip Orde Baru. Sejak 1973, ratusan pengarang dan penerbit bekerja mengadakan buku bacaan anak. Buku-buku diedarkan ke perpustakaan sekolah dasar. Buku menjadi “menu lezat” bagi anak agar belajar Indonesia dan mengenali Soeharto.

Baca juga:  Menjaga Lisan, Memelihara Ucapan

Ribuan judul bacaan anak terdapat di Bibliografi Proyek Buku Bacaan Anak-Anak Sekolah Dasar (1983) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka. Buku terdiri empat jilid. Negara berperan melakukan penilaian, seleksi, sensor, dan larangan atas terbitan buku bacaam anak. Orde Baru tak ingin kecolongan dalam literasi anak. Kebijakan besar pun diadakan demi penguatan kekuasaan dan membimbing anak berdasarkan cita-cita Orde Baru. Pengadaan buku dengan anggaran negara memang ambisius. Penguasa ingin membuktikan tanggung jawab, memperhatikan anak melalui inpres dan memungkinkan penciptaan masa depan sesuai garis besar haluan negara. Literasi anak mungkin jadi berkah atau siasat pematuhan demi kekuasaan.

Warisan besar Soeharto juga berupa dua buku mengenai anak. Pada 1991, terbit buku berjudul Anak Indonesia dan Pak Harto dengan editor G Dwipayana dan S Sinansari Ecip. Buku diterbitkan oleh PT Citra Lamtoro Gung Persada. Buku dicetak ribuan eksemplar dan mendapat cap “Milik Negara, Tidak Diperdagangkan.” Sejak 1970-an sampai 1990-an, Soeharto tetap menjadi sosok terpenting dalam lakon anak di Indonesia. Di sampul, gambar Soeharto menggendong anak. Kita mengimajinasikan bahwa nasib anak Indonesia ada di gendongan penguasa. Gambar itu dibuat oleh Ipe Ma’ruf.

Soeharto serius mengurusi anak. Pada 11 Maret 1991, Soeharto menulis dengan pena di selembar kertas: “Puluhan ribu surat dari anak-anak Indonesia telah saya terima yang isinya tentu tidak terlepas dari sifat kekanakan, tetapi cukup berani mengemukakan isi hatinya dan menyampaikan keinginannya.” Surat-surat dikirimkan anak-anak dari desa dan kota, 1984-1989. Kita simak petikan isi surat dari Mira bertanggal 28 Februari 1987: “Hallo, Bapak Presiden yang budiman! Bagaimana, Pak dengan urusan kenegaraan? Mudah-mudahan Bapak tidak mendapat kesulitan sedikit pun dalam melaksanakannnya. Mira ingin sekali seperti Bapak menjadi pemimpin negara yang baik, juga sangat dipercaya dan disegani oleh rakyatnya.” Di mata anak, Soeharto adalah idola dan teladan terbaik di Indonesia.

Baca juga:  Kisah Nabi Muhammad dan Anak Yatim dalam Sebuah Lagu

Pada 1992, terbit buku berjudul Surat dan Puisi Anak-anak untuk Pak Harto dengan editor G Dwipayana dan S Sinansari Ecip. Soeharto semakin dikultuskan melalui buku. Anak berpuisi, memberi pujian pada Soeharto. Puisi lugu tapi mengandung mimpi dan keinginan anak turut dalam pembangunan dan memuliakan Indonesia. Puisi jadi ekspresi bermakna dalam mengenali hubungan erat antara anak dan Soeharto. Sejak bocah, Soeharto tak pernah bemimpi jadi pujangga. Pada saat menjadi penguasa, Soeharto mendapat hadian terindah berupa ratusan puisi dari anak. Soeharto tentu berbahagia. Sri Septina mempersembahkan puisi berjudul “Pintaku Pada-Mu Tuhan.” Pujian tiada tara: Tuhan Yang Pengasih/ Telah Kau ciptakan Soeharto untuk kami/ Yang membuka jalan untuk pembangunan/ yang lebih baik… Tuhan Yang Pengasih/ Ciptakanlah lagi Soeharto-Soeharto lain dari generasi kami/ Yang akan meneruskan perjuangan beliau/ Agar Indonesia terus maju dan tetap jaya. Soeharto memang terlalu dipikirkan dan diimajinasikan oleh anak.

Ribuan surat dan puisi membuat kesibukan Soeharto bertambah. Soeharto justru senang dan bangga. Anak pun jadi tema terpenting dalam biografi politik Soeharto. Kita simak penjelasan Soeharto dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989). Penjelasan bergelimang makna: “Anak desa yang tidak mampu, yang sewaktu kecilnya tidak terdidik secara formal karena orang tua kekurangan biaya, akhirnya toh bisa mencapai suatu kedudukan yang menunjukkan bahwa ia memperoleh kepercayaan rakyat yang begitu besar. Kepercayaan itu tidak saya dapat secara kebetulan.” Soeharto merasa perlu memberi nasihat-nasihat ke ribuan anak agar rajin belajar dan berani memiliki cita-cita sebagai presiden.

Baca juga:  Kaum Santri Sebagai Kelas "Prekariat"

Pelbagai kebijakan dan warisan buku-buku memastikan Soeharto adalah Bapak Indonesia. Buku berjudul Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik (2001) garapan S Sasaki Shiraishi memuat penjelasan: “… Soeharto adalah satu-satunya figur Bapak Indonesia, Soeharto adalah Bapak Orde Baru yang sejati, sang pemimpin keluarga, sementara yang lain hanya imitasinya.” Selama puluhan tahun, anak-anak Indonesia mendapat referensi keteladanan Soeharto. Kini, kita mengenang masa lalu saat lakon anak “terlalu” ditentukan oleh Soeharto berdalih Orde Baru dan pembangunan. Kita pernah memiliki sejarah anak erat dengan tokoh besar dan kekuasaan. Kita tentu tak ingin mengulang sejarah anak didikte kekuasaan saat Indonesia telah bergerak ke demokratisasi ingin beradab. Begitu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top